TinjauAds
Inspirasi

Justin Wijaya Fotografer Wedding Termuda Surabaya

Dibaca dalam waktu2 Menit, 35 Detik

Liem Rafael Justin Wijaya, pelajar SMK Katolik ST. Louis, Surabaya jurusan Multimedia ini adalah fotografer wedding profesional termuda di Surabaya. Usianya masih belia. 17 tahun. Tapi jangan salah, kompetensinya dalam bidang fotografi tak kalah dengan para fotografer kawakan.

Surabaya – Justin, begitu panggilan akrabnya, sudah beberapa kali mendapat kepercayaan untuk mendokumentasikan momen indah dan penting sejumlah pasangan pengantin. Hasil jepretannya semuanya memuaskan klien dan memiliki karakter.

Di sela kesibukannya sekolah, penggemar film Interstellar ini bertutur tentang dunia fotografi yang ia geluti. Kegemarannya berselancar di instagram, membuat Justin mengenal foto-foto indah  hasil bidikan fotografer landscape profesional dan fotografer fine art profesional @danieltjongari dan @ferdiantiojs.

Itu pula yang membuat remaja kelahiran 8 Oktober 2005 ini mulai penasaran tentang seni fotografi. Berbekal kamera pribadinya, ia mulai mencoba bereksperimen di halaman rumah.

Secara rutin, sepulang sekolah di sore hari, ia belajar memotret. Kemudian rajin menyapa dan berguru ilmu fotografi pada sejumlah fotografer profesional melalui Direct Message Instagram.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Saya tanya-tanya untuk nambah ilmu fotografi dan sharing kesalahan yang saya buat saat berlatih memotret, ” tuturnya ramah.

Magang di Allseasons Photography

Alumnus Sekolah Citra Berkat, The Taman Dayu Pandaan ini dengan riang menceritakan awal kali terjun sebagai fotografer wedding. “Salah satu syarat kelulusan di sekolah saya, wajib magang selama enam bulan. Saya mengajukan diri ke Allseasons Photography, ” terang Justin.

Katanya, Allseasons Photography tidak serta merta menerimanya magang. Ada serangkaian tes yang harus dilalui, seperti kemampuan fotografi yang bisa membantu tim di tempat magang. Beruntung, Justin berhasil melalui tes dengan baik. Ia lolos dan diterima magang. Jobnya selain fotografer, juga editor foto dan video slideshow.

Project wedding pertama yang Justin tangani adalah memotret pasangan pengantin di Hotel Platinum, Surabaya, dua tahun lalu. Tentu, ia berusaha maksimal mendapatkan angle-angle terbaik. Pengalaman adalah guru berharga ia resapi dan praktikkan betul.

Memang, kata Justin ada banyak tantangan yang ia hadapi saat memotret wedding. Seperti bagaimana memposisikan diri saat standbye memegang kamera untuk angle yang bagus.

“Selain itu, saya juga harus bisa berbagi ruang dengan tim videografer yang sama-sama berusaha mendapatkan momen penting. ”

Kesulitan lain, papar Justin, saat menggunakan lensa manual dalam memotret obyek yang bergerak seperti prosesi upacara dan pengantin memasuki venue.

Perluas Koneksi dan Service Klien

Koneksi luas dan pelayanan memuaskan menjadi hal wajib bagi Justin yang sudah mengakrabi kamera profesional sejak kelas 6 SD ini.

Teknik mouth to mouth, kata Justin sangat ampuh untuk menggaet klien. Karena dari situ, lanjutnya, akan jadi pintu untuk mendapatkan klien-klien berikutnya. “Kalau pelayanan kita baik dan hasilnya sesuai ekspektasi, saya yakin, orang yang pernah pakai jasa kita akan repeat order dan merekomendasikan kita ke orang lain. ”

Konsep Foto dan Fee

Sebelum deal kerja sama, Justin selalu mengajak klien untuk mendiskusikan konsep foto yang klien inginkan. Ia terbuka dengan kemauan konsumen dan berusaha memahami selera serta ekspektasi pasangan.

“Kalau klien belum punya konsep, saya dan tim dari Voreve coba menyiapkan motherboard sebagai gambaran untuk klien, ” ujarnya.

Mengenai fee, Justin yang beralamat di IG @jstn_photography ini selalu mendiskusikan dengan rekan bisnisnya, Fillo yang juga owner Voreve. Biasanya, lanjut Justin, fee yang dipatok pada klien menyesuaikan spesifikasi kebutuhan klien.

Penulis: Yeti Kartikasari
Editor: Stebby Julionatan

 

 

 

Back to top button