TinjauAds
Inspirasi

Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari Sang Revolusioner Sejati

Dibaca dalam waktu2 Menit, 21 Detik

KH Muhammad Hasyim Asy’ari bergelar Hadratusyeikh atau guru besar di kalangan pesantren, figurnya mengagumkan. Ia pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di dunia.

Pasuruan – Terlahir 14 Februari 1871 di Gedang, Jombang, kiprah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam bidang keagamaan out of the box. Ia mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren modern di tanah Jawa. Sistem pengajaran yang ia terapkan di pesantren yang didirikannya berbeda dengan sistem belajar mengajar di pesantren lainya.

Hadratusyeikh membuka sistem pendidikan berjenjang, dengan memasukkan mata pelajaran umum, dan mengajarkan bahasa Belanda dan Inggris. Kurikulum di pesantrennya tersebut membuktikan pemikirannya yang melompat jauh, sangat modernis, dan menggambarkan gagasan cemerlang di masanya.

Dalam dunia pendidikan, Hadratusyeikh sangat revolusioner, pembela kaum marjinal, wong cilik dan cara berpikir out of the box. Bukti pemikirannya yang anti mainstream itu ia wujudkan saat membuka pesantren.

Ia memilih tempat sepi dengan membabat hutan lebat. Dengan lingkungan yang jauh dari “cahaya agama”. Lingkungan yang kala itu penuh dengan maling, begal, PSK, pemabuk, dan penjudi.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Tentu pilihannya hidup di tempat yang “kurang layak” itu mendapat tentangan dari para kiai senior, sahabat dan keluarganya. Tapi ia tak gentar. Baginya, pendidikan harus banyak memberi pada orang yang masih jauh dari peradaban dan kebudayaan adiluhung.

Sosoknya memang unik dan langka. Jarang kita menemukan figur kiai yang bisa melebur dalam berbagai lapisan masyarakat, tapi pilih-pilih, dan memilih berjuang bersama masyarakat akar rumput.

Idealisme Hadratusyeikh bahwa pendidikan harus berpihak pada orang-orang terpinggirkan, itu cita-cita luhur yang tak semua orang berani menyuarakan. Ia tak hanya beretorika pentingnya pendidikan prorakyat tapi juga turun lapangan.

Tindakan dan sikap Hadratusyeikh itu menyesuaikan tindakan dan sikap. Seperti yang ia tulis dalam karyanya Al-‘Alim wa Al-Muta’allam wa ma Yataqaff Al-Mu’allimin fi Maqamat Ta’limin. Dalam buku tersebut, seorang pendidik agama harus mengamalkan apa yang ia ajarkan, dan dirinya adalah contoh apa yang ia ucapkan.

Ilmu Bukan Sekedar Hafalan

Ilmu, baginya bukan sekedar hafalan dalam otak. Tapi juga diamalkan dalam perilaku. Seorang guru agama bukan sekedar jadi contoh yang kata-katanya dapat diambil hikmahnya. Melainkan wujud konkret dari nilai-nilai luhur yang ia ajarkan. Sebagai public figure yang jiwa dan kehidupannya menjadi institusi sendiri.

Hadratusyeikh sangat humanis dalam berdakwah. Islam Rahmatan Lil-Alamin ia jiwai sepenuh hati. Tinggal di lingkungan yang “gelap” bersama orang-orang dengan latar belakang sosial yang suram membuatnya menerapkan strategi dan metode berbeda untuk melakukan pendekatan sosial.

Mendapatkan Ancaman

Dakwah hadratus bersama para santrinya memang tidak mulus. Ancaman fisik pun sempat diterima santrinya. Karena keberadaan pesantren dianggap ancaman yang akan menghancurkan kelangsungan kemaksiatan masyarakat sekitar.

Tapi komunikasi Hadratusyeikh yang santun pada akhirnya mampu menyentuh hati dan mencerahkan orang-orang yang lekat dalam kemaksiatan. Mereka kemudian menyatakan diri belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh pada Hadratusyeikh.

Mengenal lebih jauh sosok Hadratusyeikh, adalah mengenal wajah Islam sesungguhnya yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Penulis: Yeti Kartikasari
Editor: Stebby Julionatan

 

 

Back to top button