
TINJAU, Jakarta – Pemerintah Israel menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat untuk wilayah Gaza. Rencana tersebut mencakup jeda pertempuran selama 60 hari dan pengembalian distribusi bantuan kemanusiaan yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal tersebut disampaikan oleh seorang pejabat Israel yang familiar dengan hal tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan pada Kamis (29/5) bahwa Israel telah menyetujui proposal tersebut sebelum diserahkan ke Hamas. Meski begitu, rincian isi dokumen tidak dijelaskan secara terbuka.
Dua pejabat Israel yang mengetahui langsung proses ini mengatakan, gencatan senjata ini diusulkan oleh utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff. Salah satu poin utama adalah pembebasan 10 sandera yang masih hidup dan pemulangan jenazah 18 lainnya oleh Hamas.
Hamas menilai rencana itu berat sebelah. Namun hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.
Israel sempat memblokade penuh akses bantuan ke Gaza selama 11 pekan. Dalam beberapa hari terakhir, distribusi bantuan mulai dibuka kembali meski dilakukan secara terbatas dan tanpa melibatkan Hamas. Jika kesepakatan ini berjalan, distribusi akan kembali dilakukan oleh badan PBB, menggantikan sistem swasta yang sempat diberlakukan oleh pemerintah Israel.
Distribusi oleh lembaga swasta baru, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), disebut tidak berjalan mulus. Laporan dari lapangan menyebutkan adanya kekacauan dalam proses penyaluran. Meski demikian, GHF mengklaim telah meningkatkan volume distribusi sejak awal pekan ini.
Selain menghentikan sementara konflik, proposal dari AS juga memuat agenda negosiasi menuju penghentian permanen perang yang meletus sejak serangan Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan menculik sekitar 250 lainnya.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 54.000 orang tewas di wilayah tersebut sejak perang dimulai. Namun data ini tidak merinci jumlah warga sipil dan kombatan. Sementara itu, lebih dari 400 tentara Israel juga dilaporkan tewas.
Kendati ada kemajuan, para analis menilai usulan ini belum mampu menjawab tuntutan utama kedua belah pihak. Hamas tetap menekankan penarikan penuh pasukan Israel dan penghentian total perang, sedangkan pemerintah Israel menghendaki agar Hamas dilucuti senjatanya dan dibubarkan.
Tokoh senior Hamas, Bassem Naim, dalam unggahan di Facebook menyebut proposal tersebut tidak lebih dari versi keinginan Israel yang tetap mempertahankan pendudukannya di Gaza.









