
TINJAU, Jakarta – Pada perayaan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-110 yang jatuh pada 29 September 2024, Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, melalui surat gembalanya, mengangkat tema “Tuhan Berjalan Bersama Umat-Nya.” Dalam surat yang disampaikan sebagai pengganti homili pada Perayaan Ekaristi di Keuskupan Agung Jakarta, Kardinal Suharyo menekankan pentingnya perhatian dan doa bagi para migran dan pengungsi yang sedang dalam perjalanan penuh tantangan.
Kardinal Suharyo membandingkan perjalanan hidup para migran dan pengungsi dengan kisah umat Allah yang dipimpin oleh Musa menuju Tanah Terjanji. Mereka melarikan diri dari berbagai bentuk penindasan, kekerasan, dan diskriminasi, serta menghadapi rasa putus asa dan kehilangan iman di tengah kelaparan, penyakit, dan penolakan. Meski demikian, seperti dalam Perjanjian Lama, kehadiran dan penyertaan Allah menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi mereka.
Melalui surat ini, Kardinal Suharyo juga menekankan bahwa kehadiran Tuhan tidak hanya dirasakan oleh umat-Nya, tetapi Tuhan juga mengidentifikasi diri-Nya dengan para pengungsi, khususnya yang miskin dan terpinggirkan. Seperti yang diungkapkan dalam Inkarnasi, Allah yang menjelma menjadi manusia melalui Yesus Kristus hadir dan berjalan bersama umat-Nya dalam peziarahan dunia ini. Dengan demikian, umat Katolik diingatkan untuk mencari kekayaan yang tidak bisa berkarat, yaitu kebaikan dan keadilan yang ditunjukkan kepada sesama, termasuk para migran dan pengungsi.
Peringatan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ini, menurut Kardinal Suharyo, memiliki dua makna penting. Pertama, menyadarkan umat akan perjalanan hidup mereka sendiri yang sering kali terasa seperti orang asing. Kedua, peringatan ini merupakan seruan untuk bertindak nyata dalam membantu para migran dan pengungsi yang berada di sekitar kita. Indonesia, meskipun bukan negara yang meratifikasi Konvensi Geneva 1951 tentang Perlindungan Pengungsi, tetap memiliki tradisi menerima para pengungsi dan mereka yang memerlukan perlindungan internasional. Namun, mereka masih menghadapi tantangan besar, termasuk keterbatasan akses terhadap kebutuhan hidup dasar.
Kardinal Suharyo mengajak seluruh umat Katolik untuk melibatkan diri secara nyata dalam membantu para migran dan pengungsi. Beliau menyoroti bahwa tindakan belas kasih yang diperlihatkan kepada para pengungsi merupakan wujud nyata dari kasih Allah yang mengalir melalui umat-Nya. Selain itu, beliau juga mengingatkan agar tidak terpaku pada stigma negatif terhadap pengungsi, melainkan membuka diri terhadap nilai-nilai kehidupan yang dapat mereka tawarkan, seperti ketabahan, perjuangan, dan pencarian harapan.
Menutup suratnya, Kardinal Suharyo menyampaikan apresiasinya kepada berbagai pihak, termasuk individu, komunitas, dan lembaga gerejawi yang telah terlibat dalam pelayanan bagi para migran dan pengungsi. Ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut, terutama melalui koordinasi dengan lembaga-lembaga seperti Lembaga Daya Dharma, Talithakum Jakarta, Jesuit Refugee Service Indonesia, dan Caritas Indonesia.
Melalui berbagai aksi sederhana, umat Katolik diundang untuk terus berbelarasa dan menjadi teman dalam perjalanan bagi para pengungsi, sebagaimana Allah selalu menyertai umat-Nya dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji.
Ignatius Kardinal Suharyo mengakhiri suratnya dengan doa, memohon berkat Tuhan bagi umat, keluarga, dan komunitas mereka, serta perlindungan dari Bunda Maria dan Santo Yusuf.
Surat Gembala ini dibacakan dan didengarkan melalui saluran video yang diproduksi Komisi Komunikasi Sosial, Keuskupan Agung Jakarta, pada setiap misa yang diselenggarakan pada Minggu, 29 September 2024, di seluruh Jakarta.









