TinjauAds
HabitusHeadline

Selamat Jalan, Paus Fransiskus

Dibaca dalam waktu5 Menit, 33 Detik

TINJAU, Vatikan – Paus Fransiskus meninggal dunia pada Senin (21/04/2025) pagi waktu setempat, demikian diumumkan oleh Kardinal Kevin Farrell, Kamerlengo Vatikan.

“Pada pukul 07.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya,” ujar Farrell dalam pengumuman resmi.

“Ia mengajarkan kita untuk hidup setia pada nilai-nilai Injil, dengan keberanian dan kasih yang universal, terutama bagi mereka yang paling miskin dan terpinggirkan. Dengan rasa syukur yang mendalam atas teladan hidupnya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kita menyerahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih sayang Allah Tritunggal yang tak terbatas,” ujar Farrell.

Paus Fransiskus sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Poliklinik Agostino Gemelli pada Jumat, 14 Februari 2025, setelah beberapa hari mengalami bronkitis. Kondisi klinisnya perlahan memburuk, dan pada Selasa, 18 Februari 2025, tim medis mendiagnosisnya dengan pneumonia bilateral.

Setelah menjalani perawatan selama 38 hari di rumah sakit, Paus kembali ke kediamannya di Casa Santa Marta di Vatikan untuk melanjutkan pemulihan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Pada tahun 1957, saat masih berusia awal 20-an, Jorge Mario Bergoglio menjalani operasi di Argentina untuk mengangkat sebagian paru-parunya yang rusak akibat infeksi saluran pernapasan yang parah. Seiring bertambahnya usia, Paus Fransiskus kerap mengalami gangguan pernapasan, termasuk pembatalan kunjungan resmi ke Uni Emirat Arab pada November 2023 karena flu dan peradangan paru-paru.

Menurut Uskup Agung Diego Ravelli, Pemandu Upacara Apostolik, mendiang Paus Fransiskus telah meminta agar upacara pemakamannya disederhanakan dan fokus pada pengungkapan iman Gereja kepada Tubuh Kristus yang Bangkit.

“Ritus yang diperbarui ini,” kata Uskup Agung Ravelli, “berusaha untuk lebih menekankan bahwa pemakaman Paus Roma adalah pemakaman seorang pendeta dan murid Kristus, bukan pemakaman orang yang berkuasa di dunia ini.”

Gereja Katolik Indonesia Akan Gelar Misa Penghormatan

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC menyampaikan bahwa umat Katolik Indonesia akan menggelar Misa Requiem sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus.

“Biasanya kita melakukan yang disebut dengan Misa Requiem, yaitu misa untuk orang sakit dan mendoakan arwah orang yang sudah meninggal. Semoga dosanya diampuni oleh Tuhan, jasa dan cintanya dikenang serta dihargai, sehingga beliau beristirahat dalam damai,” ujar Mgr. Antonius di Kantor KWI, Jakarta Senin (21/4/2025).

Meskipun tidak ada prosesi khusus dari KWI secara nasional, ia menjelaskan bahwa setiap keuskupan akan menyelenggarakan misa sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah.

“Tidak ada prosesi khusus, tetapi prosesi yang seperti biasa dijalankan ketika kita mendoakan orang meninggal. Prosesi khususnya pasti akan dijalankan nanti di Vatikan,” katanya.

Saat ini, Indonesia memiliki 38 keuskupan dan satu ordinariat militer (ABRI/TNI-Polri). Menurut Mgr. Antonius, masing-masing keuskupan akan menyesuaikan waktu pelaksanaan misa requiem, namun ada rencana agar misa nasional diadakan pada tanggal tertentu sebagai bentuk representasi umat Katolik Indonesia.

“Kemungkinan kita akan menganjurkan tanggal tertentu lalu kemudian diserahkan kepada keuskupan masing-masing. Di Katedral Jakarta, kami akan mempersembahkan satu misa sebagai representasi Katolik Indonesia. Sampai sekarang belum ada berita resmi karena saya masih berkontak dengan Bapak Kardinal dari Keuskupan Agung Jakarta. Mudah-mudahan segera,” ungkap Mgr. Antonius.

Dunia berduka karena Wafatnya Paus Fransiskus

Wafatnya Paus Fransiskus pada Senin (21/04/2025) pagi waktu Vatikan mengundang gelombang duka dari seluruh penjuru dunia. Para kepala negara dan pemimpin pemerintahan menyampaikan belasungkawa mereka atas kepergian pemimpin Gereja Katolik yang dikenal karena sikap rendah hati, kepeduliannya terhadap kaum miskin, dan perjuangannya bagi perdamaian dunia.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut Paus Fransiskus sebagai sosok yang menginspirasi jutaan orang, melampaui batas-batas Gereja Katolik.

“Hari ini, dunia berduka atas kepergian Paus Fransiskus. Ia menginspirasi jutaan orang, jauh melampaui Gereja Katolik, lewat kerendahan hati dan kasihnya yang tulus kepada mereka yang kurang beruntung,” tulisnya. “Saya ikut berduka bersama semua orang yang merasakan kehilangan mendalam ini. Semoga mereka menemukan penghiburan dalam keyakinan bahwa warisan Paus Fransiskus akan terus membimbing kita menuju dunia yang lebih adil, damai, dan penuh kasih.”

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenang Paus Fransiskus sebagai pembela kaum lemah.

“Sepanjang masa kepausannya, Paus Fransiskus selalu berpihak pada yang paling rentan dan paling rapuh, dan ia melakukannya dengan kerendahan hati yang luar biasa. Di tengah zaman yang dipenuhi perang dan kekerasan, ia memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama.”

Sementara itu, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyoroti pengaruh besar Paus Fransiskus bagi umat Katolik dan dunia.

“Dengan wafatnya Paus Fransiskus, hampir satu setengah miliar umat Katolik kehilangan seorang pemimpin penting — baik secara moral maupun spiritual. Ia akan dikenang karena kerendahan hatinya, perjuangannya melawan kemiskinan dan ketidakadilan sosial, serta komitmennya membela martabat setiap manusia,” ujarnya. Kristersson juga mengenang kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke Swedia pada tahun 2016, dalam peringatan 500 tahun Reformasi Gereja.

Perdana Menteri Belanda Dick Schoof memuji Paus sebagai panutan bagi banyak orang.

“Komunitas Katolik global berpamitan pada seorang pemimpin yang menyadari urgensi masalah zaman ini dan berani menyuarakannya. Dengan gaya hidupnya yang sederhana, tindakan penuh kasih, dan pelayanan tanpa pamrih, Paus Fransiskus menjadi teladan — bukan hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi banyak orang di luar itu. Kami mengenangnya dengan penuh hormat.”

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez juga menyampaikan duka cita mendalam. “Saya berduka atas wafatnya Paus Fransiskus. Komitmennya terhadap perdamaian, keadilan sosial, dan kaum rentan meninggalkan warisan yang mendalam. Beristirahatlah dalam damai.”

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut Paus Fransiskus sebagai “seorang tokoh besar dan gembala sejati.”

“Paus Fransiskus telah kembali ke rumah Bapa,” kata Meloni dalam pernyataannya di platform X. “Berita ini membuat kami sangat berduka, karena kita telah kehilangan seorang tokoh besar dan seorang gembala sejati.”
Meloni menambahkan, “Saya memiliki kehormatan untuk menikmati persahabatannya, nasihatnya, dan ajarannya, yang tak pernah surut bahkan di saat-saat ujian dan penderitaan.”

Perdana Menteri India Narendra Modi turut menyampaikan kesedihannya. Ia juga mengenang pertemuannya dengan Paus Fransiskus.

“Saya sangat berduka atas wafatnya Yang Mulia Paus Fransiskus. Dalam momen duka dan perenungan ini, saya menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada komunitas Katolik global. Paus Fransiskus akan selalu dikenang sebagai mercusuar kasih sayang, kerendahan hati, dan keberanian spiritual oleh jutaan orang di seluruh dunia,” ungkap Modi via X.

“Saya mengenang pertemuan kami dengan penuh kehangatan dan merasa sangat terinspirasi oleh komitmennya terhadap pembangunan yang inklusif dan menyeluruh. Kasihnya kepada rakyat India akan selalu kami kenang. Semoga jiwanya memperoleh kedamaian abadi dalam pelukan Tuhan.”

Presiden Prabowo Subianto turut menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Umat Katolik Paus Fransiskus.

Dalam unggahan di akun instagram pribadinya, Prabowo mengenang Paus Fransiskus sebagai sosok panutan yang punya komitmen besar terhadap perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan. 

“Dunia kembali kehilangan sosok panutan yang memiliki komitmen besar terhadap perdamaian, kemanusiaan dan persaudaraan,” kata Prabowo dikutip dari akun instagram pribadinya, Senin (21/4/2025). 

Prabowo menuturkan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta akhir tahun lalu telah memberikan kesan yang mendalam bagi masyarakat di Tanah Air. 

“Pesan kesederhanaan, pluralisme, keberpihakan kepada orang miskin dan kepedulian Sri Paus terhadap sesama akan selalu menjadi teladan bagi kita semua,” tuturnya. 

Back to top button