
TINJAU, Jakarta – Kebaya resmi masuk daftar representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO (Respresentative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity).
Pengesahan ini didiskusikan lewat sidang ke-19 Session of The Intergovernmental Comitte on Intangible Cultural Heritage, Paraguay.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan kebaya di Indonesia memiliki varian banyak sesuai dengan budaya masing-masing setiap daerah.
“Kalau kita lihat jenis-jenis kebaya cukup banyak, sebenarnya dari lima negara itu bagian kebaya paling banyak adalah, Indonesia, misalnya, kebaya kartini, kutu baru, Sunda, Melayu, kebaya Batak, kebaya lurik banyak variannya,” ungkapnya.
“Kebaya ini adalah satu nominasi multinasional dari beberapa negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, ada Thailand, Singapura bersama-sama kita mengajukan ini dalam sebuah istilah representasi,” imbuhnya.
Dari segi penilaian, melalui komite dan pengkaji ahli UNESCO menelaah letak keberagaman dari kebaya. Fadli mengaku tak mudah sebenarnya mengajukan setiap item benda ke UNESCO karena semakin dibatasi.
“Kita harus bekerja sama dengan negara tetangga, lalu disepakati dengan proses tidak mudah, dan sekarang semakin terbatas tiap negara hanya bisa mengajukan satu item untuk single nominasi. Tapi ini karena multinasional nominasi jadi bisa bersama-sama diprioritaskan warisan tak benda dunia atau Intangible Cultural Heritage dunia,” ungkapnya.
Selain kebaya, Reog Ponorogo juga disahkan menjadi Warisan Takbenda UNESCO. “Ini adalah sebuah kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, tak hanya kebaya sebelumnya 3 Desember ada juga Reog Ponorogo jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO, lalu 4 Desember ada juga pengakuan terhadap kolintang dan kebaya, kebaya dulu baru kolintang,” ujar Fadli Zon.









