
TINJAU, Jakarta – Virus mirip Covid yang berasal dari kelelawar atau HKU5 (HKU5-CoV-2) menggemparkan dunia. Walau begitu, profesor kesehatan global dan epidemiologi di College of Public Health, Universitas George Mason, Dr. Amira Roess mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir.
“Bahkan para peneliti sendiri menekankan bahwa ini tidak seharusnya menimbulkan kepanikan,” kata Roess, seorang profesor kesehatan global dan epidemiologi di College of Public Health, Universitas George Mason, yang telah bekerja dengan rekan-rekan internasional untuk lebih memahami virus corona MERS, seperti yang dikutip dari CNN.com.
Ross juga mengatakan bahwa penelitian semacam ini sangat penting. Meskipun penelitian baru ini mengandung beberapa kata pemicu yang terkait dengan pandemi.
“Ini membantu kita memahami apa yang terjadi jika virus ini menyebar dan menimbulkan risiko. Lebih baik kita bersiap sejak dini,” ujarnya.
“Semakin banyak yang kita ketahui tentang virus-virus ini, semakin baik.”
Dalam eksperimen, obat antivirus yang bekerja melawan SARS-CoV-2 juga tampak efektif terhadap virus corona yang baru dinamai ini.
Di lain pihak, Dr. Alex Greninger, profesor kedokteran laboratorium dan patologi di University of Washington Medical Center, yang mengembangkan tes untuk mendeteksi Covid-19 di awal pandemi, menggambarkan alam sebagai “bioteroris terbaik.”
Namun, ia juga setuju bahwa masyarakat tidak perlu khawatir—atau bahkan terkejut—dengan ditemukannya virus corona baru ini pada kelelawar.
“Ada kemungkinan banyak virus corona yang beredar di kelelawar dan dapat memasuki sel manusia,” kata Greninger.
Jika orang ingin khawatir, lanjut Greninger, mereka sebaiknya lebih mengkhawatirkan virus corona lain yang sudah endemik dan saat ini membuat orang sakit. Virus 229E, NL63, OC43, dan HKU1 menyebabkan flu biasa. Bagi kebanyakan orang, virus-virus ini hanya menimbulkan masalah pernapasan ringan, tetapi infeksi juga dapat berkembang menjadi pneumonia atau croup.
“Mereka muncul setiap musim dingin, jadi sejujurnya, kita seharusnya lebih banyak membicarakan mereka daripada HKU5,” kata Greninger.
Dr. Phoebe Lostroh, penulis buku Molecular and Cellular Biology of Viruses, mengatakan bahwa judul berita yang menyebut virus corona baru ini bisa menyebabkan pandemi berikutnya terlalu dilebih-lebihkan dan “tidak membantu,” terutama ketika dunia sudah khawatir dengan mundurnya AS dari upaya kesehatan global.
“Saya pikir kita seharusnya lebih khawatir tentang masalah seperti flu burung dan dampaknya pada sapi, kucing, dan berbagai mamalia lainnya dibandingkan virus corona baru yang diisolasi dari populasi kelelawar di Tiongkok ini. Virus itu memang mengingatkan kita pada SARS-CoV-2, tetapi bukanlah penemuan yang benar-benar terobosan,” kata Lostroh, seorang profesor biologi molekuler di Colorado College.









