TinjauAds
DigitusPilihan Redaksi

Cara Mark Zuckerberg Sempurnakan Kacamata Pintar Meta

Dibaca dalam waktu2 Menit, 58 Detik

TINJAU.ID – Mark Zuckerberg, CEO Meta Platform Inc, terus mendorong produk kacamata pintarnya — yang bekerja sama dengan Ray-Ban. Terkini, Mark mengumumkan fitur baru di Ray-Ban Meta Smart Glasses, dengan cara tak biasa.

Melalui sebuah postingan di media sosial Instagram, di bawah Meta Platform, Mark berbincang dengan Eva Chen, pemerhati fashion dan seorang penulis. Keduanya membahas fitur-fitur baru di kacamata pintar hasil kolaborasi ini, via panggilan video.

“Kami luncurkan hari ini, seperti panggilan video dari kacamata dan gaya kacamata baru. Kami juga merilis Meta AI dengan Vision sehingga Anda dapat mengajukan pertanyaan tentang apa yang Anda lihat,” tulis Mark di akun Instagram, dikutip Kamis (25/4/2024).

Model baru kacamata pintar berbentuk mata kucing dan disertai fitur panggilan video. Panggilan video bisa memanfaatkan layanan WhatsApp dan Messenger. Fitur ini hadir secara terbatas, disampaikan Meta dalam pengumuman di blog resmi.

Kacamata juga bisa dihubungkan dengan Apple Music, juga Copilot AI (Meta menyebutnya sebagai AI asisten multimodal), per Desember 2024.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Kompatibilitas dengan Apple Music dapat dilakukan secara hands-free untuk memutar lagu, daftar putar, stasiun, atau artis apa pun. Rekomendasi juga bisa diperintahkan, mengacu pada daftar musik yang sebelumnya didengar.

Kacamata pintar rilisan terbaru telah tersedia untuk pasar Amerika Serikat dan Kanada, dilansir The Verge. Sedangkan pemilik lama secara terbatas bisa menggunakan versi beta.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu titik fokus pengembangan Meta, ditegaskan Mark dalam berbagai kesempatan, di tengah upaya mengembalikan bisnis iklan digital grup.

Kacamata pintar kolaborasi Meta dengan Ray-Ban merupakan upaya baru unit riset perusahaan, Reality Labs dalam mengejar produk inovatif.

Membenamkan kekuatan Meta AI pada sebuah kacamata fashion, terbukti dimintai. Produk ini telah terjual habis — meskipun dia tidak memberikan konteks tentang berapa banyak penjualan yang sebenarnya—karena rasa penasaran pengguna atas berbagai kemampuan.

Kacamata berteknologi AI tidak hanya modis, namun mampu menimbulkan kepercayaan baru dari investor, dan akhirnya bisa terlihat dari pencapaian pendapatan.

Keyakinan Mark Zuckerberg untuk Ciptakan Produk Inovatif

Mark jadi salah satu tokoh teknologi AS yang terus menggaungkan peran AI di ekosistem internet masa depan, termasuk menaruh harapan besar pada proyek “metaverse” di era sebelumnya. Meski antusiasme belum besar, anggaran pengembangan terkait hal tersebut tetap masih sangat besar.

Proyek “metaverse” Mark sebelumnya jadi pertaruhan AI perdana yang tidak berjalan mulus. Unit riset Reality Labs bahkan telah kehilangan US$16,1 miliar tahun lalu, dan di kuartal pertama 2024 menghabiskan dana US$3,9 miliar.

Mark Zuckerberg mencoba meyakinkan para investor bahwa pengeluaran tidak semuanya digunakan untuk proyek yang menjadi minatnya. “Kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk mengartikulasikan nilai: dari Reality Labs, katanya, dilaporkan Bloomberg News.

Di sisi lain para investor Meta kerap menolak upaya pengembangan baru, dengan alasan menghabiskan banyak biaya. Tapi Mark kembali berupaya meyakinkan bahwa meskipun mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun, inovasi tetap diperlukan hingga pada akhirnya dapat memberi keuntungan.

“Secara historis berinvestasi untuk membangun pengalaman berskala baru ini di aplikasi kami merupakan investasi jangka panjang yang sangat baik bagi kami dan investor yang telah bertahan bersama kami.”

Kolumnis  Dave Lee menjelaskan bahwa memang menjalankan model AI membutuhkan biaya sangat-sangat mahal. Sementara hampir semua perusahaan teknologi raksasa – dan banyak perusahaan non-teknologi juga – berebut untuk membeli perangkat keras yang terbatas.

Bahkan jika Meta dapat memperoleh sumber daya yang diperlukan – dan Meta membuat kemajuan besar dalam hal ini – masih ada pertanyaan tentang seberapa baik teknologi ini akan bekerja.

Akankah bisnis bersedia membiarkan bot AI, dengan semua potensi imajinernya, keluar dan berinteraksi dengan pelanggan mereka?

Akankah kualitas iklan yang dihasilkan AI memenuhi standar pengiklan? Dan apakah penargetan AI akan cukup akurat untuk menempatkan iklan tersebut di depan orang yang tepat dengan harga yang tepat?

Back to top button