“Pada tahun 2023, kami memblokir atau menghapus lebih dari 5,5 miliar iklan, sedikit meningkat dari tahun sebelumnya, dan 12,7 juta akun pengiklan, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” jelas Lennox dikutip dari blog perusahaan, Senin (1/4/2024).
Google juga terus melakukan penghapusan iklan yang diduga menampilkan eksplisit secara seksual atau produk berbahaya sebagai upaya melindungi pengiklan dan pengguna. Lebih dari 2,1 miliar halaman milik penerbit juga telah ditertibkan.
Selama tahun lalu, Google juga berhasil menghapus 206 juta iklan penipuan yang melanggar kebijakan, serta 273,4 juta iklan yang melanggar kebijakan layanan keuangan Google.
Lennox menegaskan bahwa “perang melawan iklan penipuan adalah upaya yang terus berlanjut, karena kami melihat pelaku kejahatan beroperasi dengan lebih canggih, dalam skala yang lebih besar, menggunakan taktik baru seperti deep fakes untuk menipu orang.”
TinjauAds
Dalam laporan keamanan digital yang diterbitkan akhir bulan Maret, Lennox menjelaskan bahwa “AI generatif memberikan peluang unik untuk meningkatkan upaya penegakan hukum secara signifikan.”
“Tim kami merangkul teknologi transformatif ini, khususnya Large Language Models (LLM), sehingga kami dapat menjaga keamanan online dengan lebih baik,” katanya.
Melalui machine learning AI, Google dapat mendeteksi dan memblokir iklan yang terindikasi tidak baik untuk dilihat oleh pengguna.
“Walau sangat canggih, model pembelajaran mesin ini secara historis perlu dilatih secara ekstensif – model ini sering kali mengandalkan ratusan ribu, bahkan jutaan contoh konten yang melanggar,” papar Lennox.
Dengan menggunakan teknologi paling canggih, model bahasa besar (LLM) dapat mereview dan menginterpretasikan konten serta menangkap isi pesan di dalamnya. Hal ini menciptakan keputusan penegakan hukum dalam skala yang lebih besar, tepat, dan kompleks.
Seiring dengan kemajuan teknologi, semakin sulit membedakan antara iklan penawaran yang sah atau palsu, yang bertujuan untuk mengajak setiap orang untuk berinvestasi, padahal sebenarnya tidak.
Melalui AI, Google dapat lebih aktif mengenali tren baru dalam layanan keuangan dengan cepat dan mengidentifikasi pola pelaku kejahatan yang menyalahgunakan tren tersebut.
“Contohnya, kebijakan kami terhadap Unreliable Financial Claims, yang mencakup iklan, cara mempromosikan skema cepat kaya. Pelaku di balik jenis iklan ini telah menjadi semakin canggih, menyesuaikan cara mereka dan menyesuaikan iklan di sekitar layanan atau produk keuangan baru, seperti saran investasi atau mata uang digital, untuk menipu pengguna,” tambah Lennox.