
Kampus sebagai pusat intelektual harus menjadi tempat pertama dimana kritik sebagai buah dari intelektual berangkat. Demokrasi sehat jika publik kritis tetap eksis.
KUPANG, Tinjau.id – Dalam era di mana ketidakpercayaan terhadap media semakin meluas, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang, NTT, menyoroti peran krusial kampus sebagai pusat intelektual yang tidak hanya menghasilkan lulusan berpengetahuan, tetapi juga menjadi pusat intelektual yang mengembangkan kritik publik demokratis. Pada Konferensi Internasional “Philosophy and Civilization” hari ini, para pemikir dan akademisi menggarisbawahi urgensi kampus sebagai garda terdepan dalam menangkal arus ketidakpercayaan publik terhadap media.
Menjadi pembicara dalam pembahasan mengenai media dan pemikir-pemikir filosfis tentang media, Ferdinandus Jehalut, Alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Michael Carlos Kodoati dari Tinjau Institute dan Universitas Mpu Tantular, dan Antonius Kapitan, Alumni STF Driyarkara Jakarta.
Dalam upaya mengatasi ketidakpercayaan terhadap media, kampus perlu memainkan peran aktif dalam membentuk pemikiran kritis mahasiswa. Kurikulum didesain untuk tidak hanya menyediakan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan keterampilan analisis dan evaluasi informasi.
[custom-related-posts title=”Baca Juga” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Kodoati, menyatakan, “Kampus harus menjadi tempat di mana mahasiswa belajar untuk memilah informasi, menggali lebih dalam, dan mengajukan pertanyaan kritis, sebagaimana filsuf Jerman Habermas mengajukan aspek rasionalitas perlu dibangun agar demokrasi menjadi sehat, dan kampus bisa mengambil alih kontrol terhadap kekuasaan. Media massa sekarang partisan, dan jalan keluarnya bisa dikembalikan kepada kampus. Jangan jadi kampus pendiam, jadilah pusat intelektual, tetapi jangan hanya berpikir dan menulis saja, tapi bersuara lantang untuk mengkritik. Bersuara!” kata Kodoati.
Dalam sesi diskusi, pembicara menguraikan tantangan yang dihadapi media modern dan dampaknya terhadap masyarakat. Dengan meningkatnya penyebaran berita palsu dan bias, kampus diharapkan tidak hanya mengajarkan literasi media, tetapi juga memotivasi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam mengidentifikasi dan menanggapi isu-isu kontroversial.
Dalam konteks menghadapi ketidakpercayaan terhadap media, kampus diharapkan menjadi pusat kritik publik demokratis. Ini mencakup penyelenggaraan seminar, diskusi panel, dan proyek-proyek penelitian yang melibatkan mahasiswa untuk secara aktif menggali solusi terhadap permasalahan kontemporer. “Kampus harus menjadi tempat di mana ide-ide kontroversial dapat diberikan ruang, dan dialog konstruktif dapat terjadi,” kata Kodoati.
Prof. Sulistiowati: Profesor dan Dosen Ayo Bersuara
Dalam kesempatan berbeda pada pekan lalu, di STF Driyarkara, suara kampus yang sama diutarakan oleh Prof. Sulistiowati, Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia.
“Demokrasi kita tidak sehat, dan itu harus disuarakan. Siapa yang bersuara? Ya ayo, para Profesor dan Dosen jangan hanya mengejar Scopus, ayo bicara soal ini. Bersuara!” ucap Sulisiowati.
Sebelumnya diinformasikan, 2 Desember 2023, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, akan mengadakan seminar internasional bertajuk: “Philosophy and Civilization”.
Seminar internasional ini akan menghadirkan empat keynote speaker yang berasal dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah Wojciech Lewandowski, dari The John Paul II Catholic University of Lubin, Polandia; Winibaldus Stefanus Mere, dari Nanzan University, Nagoya, Jepang; Francisco da Costa, dari Superior Institute of Philoshopy and Theology D. Jaime Garcia Goulart, Dili, Timor Leste; dan Watu Yohanes Vianney, dari Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira.
Selain empat keynote speaker, seminar internasional ini juga menghadirkan 17 pemakalah dari luar negeri dan dari beberapa daerah di Indonesia. Persiapan seminar ini berlangsung selama dua bulan, sejak Oktober 2023, yang meliputi Call for Papers dan seleksi naskah.
“Tema “Philosophy and Civilization” diangkat dalam seminar internasional ini sebagai bentuk kepedulian dan jawaban fakultas filsafat Unwira terhadap empat persoalan yang tengah menghantui peradaban umat manusia dewasa ini, baik secara global maupun nasional,” ungkap panitia penyelenggara melalui pernyataan tertulis yang dikirim kepada Tinjau.id.
Dalam pernyataan tertulisnya, penyelenggara melihat persoalan pertama yang memicu penyelenggaraan seminar ini ialah urgensi untuk mendiskusikan revolusi ganda teknologi informasi dan bioteknologi. “Revolusi ganda semacam ini telah memicu tirani dataisme dan kediktatoran digital.”
Kemudian yang kedua, selama empat dekade terakhir, demokrasi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, dihantui oleh kebangkitan populisme kanan dan politik identitas.
Ketiga, peradaban manusia tengah dirusakkan oleh barbarisme perang dan terorisme yang melampaui batas-batas negara, serta krisis ekologis yang mengancam masa depan bumi dan umat manusia.
Dan yang keempat, dalam dua dekade terakhir, kebenaran dan kemanusiaan mengalami disorientasi akibat produksi hoaks dan gelombang pasca-kebenaran.









