Sri Mulyani: Dunia Tak Baik-Baik Saja, akan Ada Pelemahan Ekonomi
TINJAU.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi dunia mengalami pelemahan sejak pandemi Covid-19 dan berlanjut hingga tahun 2024. Ia mengatakan akan mulai terasa guncangan yang menyebabkan pelemahan ekonomi dunia pada tahun ini.
“Banyak prediksi ekonomi dari tahun 2022-2023 dan sekarang berlanjut di 2024, dunia tidak baik-baik saja karena akan mulai terasa syok itu sebabkan pelemahan ekonomi,” ujar Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Jesuit Indonesia di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (30/5/2024).
Bendahara negara itu menjelaskan, hal tersebut terjadi karena berbagai hal salah satunya kenaikan suku bunga Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS) hingga 500 basis poin (bps) hanya dalam kurun waktu 18 bulan.
Ia mengatakan kenaikan suku bunga yang terjadi dalam waktu cepat tersebut disebabkan inflasi yang tidak terkendali sebab saat perekonomian global sedang memulihkan diri dari pandemi Covid-19, justru secara tiba-tiba terdapat eskalasi geopolitik yang berkembang.
“Perangnya, ya, tetap jalan namun inflasi tidak segera turun. Masalah inflasi ini yang menyebabkan kemudian muncul terminologi higher for longer artinya yang higher inflasinya interest rate-nya juga tinggi dan itu gak dalam waktu yang cepat yang kemudian akan segera turun,” ucapnya.
Mantan pejabat tinggi Bank Dunia ini mengatakan, perang yang terjadi antara Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu menjadi salah satu alasan terjadinya inflasi di berbagai negara.
Pasalnya, kedua negara tersebut merupakan salah satu lumbung pangan dan lumbung energi dunia. Ketika eskalasi konflik antara dua negara itu meningkat, maka harga energi dan harga pangan dunia akan turut melonjak.
“Ini mungkin salah satu prospek, kalau tadi katanya ini tujuannya untuk bicara tentang prospek, ini salah satu prospek yang harus diperhatikan,” ucapnya.
Selain beberapa faktor tersebut, ia juga mengungkapkan bahwa saat ini terjadi fenomena aging population yakni pergeseran struktur penduduk yang semula berisi umur produktif menjadi usia tua.
Menurut Sri Mulyani hal tersebut sudah terjadi di beberapa negara, seperti Singapura yang penduduk usia tua di sana telah meningkat secara cepat. Selanjutnya China di mana negara ini sampai menerapkan aturan satu anak setiap keluarga sebab pertumbuhan usia tua sudah pada tahap yang diwaspadai.
“Negara-negara yang memang sangat, mohon maaf, disini male dominated dan mereka sangat alpha male Itu menyebabkan perempuan merasa tidak worth [berharga] untuk kemudian berumah tangga dan cukup sulit untuk membesarkan anak. Ini menyebabkan aging population yang sangat cepat,” tutur Sri Mulyani.
Dengan beberapa perkembangan tersebut, Sri Mulyani sebut saat ini dunia semakin terfragmentasi dan membuatnya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. “Kita juga sekarang kalau kita menebar masalah, kita pasti menuai. Menebar angin, menuai badai,” pungkasnya.









