Bahlil Mengeluh Soal Kredit Sektor Hilirisasi Minim, Ini Suara Perbankan
TINJAU, Jakarta – Dalam perbincangan yang menghangat di kalangan pelaku industri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti kondisi sektor hilirisasi di Indonesia, yang menurutnya masih didominasi oleh pihak asing. Bahlil mengungkapkan bahwa sekitar 85% industri penghiliran nikel di tanah air dikuasai oleh investor asing. Hal ini menciptakan kekhawatiran terkait minimnya dukungan dari perbankan domestik dalam memberikan kredit kepada proyek-proyek hilirisasi di dalam negeri.
Menurut Bahlil, ketertarikan bank-bank luar negeri untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia lebih besar dibandingkan bank-bank lokal. “Saya jujur mengatakan, untuk industri hilirisasi, itu dikuasai 85% oleh asing. Andaikan pun ada [bank dalam negeri], equity-nya besar 30%-40%. Pertanyaan saya, pengusaha siapa yang punya uang 30%-40% untuk menjadi equity?” ungkapnya dalam agenda BNI Investor Daily Summit 2024 yang diadakan Rabu lalu. Hal ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi pengusaha lokal dalam mengakses modal untuk mengembangkan industri mereka.
Dalam konteks ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae memberikan pandangan optimis mengenai pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor industri hilirisasi Sumber Daya Mineral (SDM). Menurut Dian, hingga Agustus 2024, penyaluran kredit kepada industri pengolahan, termasuk sub-sektor kelapa sawit, logam non-besi, dan manufaktur elektronik, mengalami pertumbuhan sebesar 10,58% (year-on-year). Namun, ia juga mengakui bahwa porsi penyaluran kredit untuk subsektor hilirisasi hanya mencapai 2,61% dari total penyaluran kredit perbankan.
Dian menjelaskan, “Peningkatan yang cukup signifikan pada pemberian kredit untuk industri yang mengolah produk hilirisasi kelapa sawit dan bahan tambang ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong industri pengolahan yang memberikan nilai tambah.” Pernyataan ini mencerminkan harapan akan adanya pertumbuhan yang lebih baik di masa depan, seiring dengan kebijakan yang mendukung pengembangan sektor hilirisasi.
Dari sisi perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berkomitmen untuk terus mendukung kebijakan pemerintah dalam sektor ini. EVP Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, mengungkapkan optimisme lembaganya terhadap prospek penyaluran kredit di sektor industri hilirisasi. “BCA konsisten mendukung segala kebijakan pemerintah pada berbagai sektor, serta berkomitmen menyalurkan kredit secara prudent dan menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas,” terangnya.
Hera mencatat bahwa per Agustus 2024, penyaluran kredit BCA tumbuh sebesar 16% (yoy) menjadi Rp843 triliun. Meski tidak merinci proporsi atau persentase kredit yang disalurkan khusus untuk sektor hilirisasi, Hera menegaskan bahwa prospek kredit di sektor tersebut tetap positif.
Tantangan yang dihadapi sektor hilirisasi juga mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam perekonomian Indonesia. Bahlil menggarisbawahi pentingnya kemandirian ekonomi dan pengembangan potensi lokal. “Kita tidak mau seperti ini,” tegasnya, menunjukkan kekhawatiran tentang keterikatan industri Indonesia pada investor asing.
Melihat ini, kondisi perbankan dan industri hilirisasi di Indonesia pada akhirnya menjadi penting untuk memahami dinamika yang terjadi. Pertama, dalam konteks ekonomi, perbankan domestik harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan sektor hilirisasi yang berkembang. Ini termasuk menawarkan produk kredit yang lebih inovatif dan mendukung pengusaha lokal dalam mendapatkan modal.
Kedua, dari perspektif politik, dukungan pemerintah dalam mengatur kebijakan kredit dan mendorong investasi di sektor hilirisasi perlu ditingkatkan. Hal ini bisa meliputi penyediaan insentif bagi bank-bank lokal untuk lebih aktif dalam mendanai proyek-proyek hilirisasi.
Ketiga, dalam konteks sosial, penguasaan industri oleh pihak asing berdampak pada kesempatan kerja dan transfer pengetahuan ke pengusaha lokal. Kemandirian industri harus menjadi prioritas untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Jelas terlihat bahwa industri hilirisasi dan sektor perbankan di Indonesia berada pada titik krusial. Untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah, inisiatif perbankan, dan dukungan masyarakat terhadap pengusaha lokal. Hanya dengan pendekatan holistik dan inklusif, Indonesia dapat mewujudkan cita-cita kemandirian ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dukungan perbankan terhadap sektor hilirisasi harus ditingkatkan untuk mengurangi dominasi asing dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi domestik. Masyarakat pun perlu menyadari pentingnya keberadaan industri lokal dalam menciptakan kesejahteraan bersama.









