TinjauAds
BisnisPilihan Redaksi

Target Uniqlo Cetak Penjualan Rp1.046 Triliun di Eropa

Dibaca dalam waktu1 Menit, 30 Detik

TINJAU.ID – Fast Retailing Co, pemilik brand pakaian Uniqlo, melihat Eropa sebagai pasar pertumbuhan utama. Perusahaan asal jepan ini mengatakan bahwa penjualan tahunan di wilayah diperkirakan bisa mencapai mencapai ¥1 triliun (US$6,5 miliar) atau setara Rp104,05 triliun. 

Kosumen di Eropa sangat menghargai kualitas, kain dan desain, kata Taku Morikawa, chief executive officer Uniqlo Eropa, pada Kamis (11/4/2023) setelah Fast Retailing mempublikasikan pendapatannya.

“Produk-produk Uniqlo benar-benar sesuai dengan kebutuhan para konsumen ini,” kata Taku.

Uniqlo telah berkembang pesat di Eropa setelah sempat tersandung di awal tahun 2000-an, ketika harus menutup toko-toko di Inggris. Perusahaan ini memperkirakan akan mencatat rekor kinerja di wilayah tersebut pada tahun fiskal ini, yang akan berakhir pada Agustus.

Fast Retailing mengatakan bahwa laba operasional kuartal kedua naik 7% menjadi ¥110,5 miliar, di bawah estimasi rata-rata analis sebesar ¥118,06 miliar. Perusahaan ini berencana untuk membuka 10 toko di Eropa pada akhir tahun fiskal ini, di kota-kota seperti Roma, Nice, dan Edinburgh.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Ekspansi di Eropa merupakan bagian dari rencana pendiri Fast Retailing, Tadashi Yanai, untuk menjadi peritel global, dengan penjualan tahunan sebesar ¥10 triliun atau setara Rp1.046,23 triliun.

“Penjualan di setiap toko di Eropa sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan toko-toko di Jepang, sehingga dampaknya akan menjadi kunci di masa depan,” kata Morikawa.

Jaringan Uniqlo di Eropa hanya mencapai kurang dari 0,5% dari pasar pakaian jadi senilai ¥70 triliun di kawasan itu, katanya. Untuk meningkatkan pangsa pasar, merek ini berencana untuk berekspansi ke wilayah-wilayah yang belum ada jaringannya.

Basis konsumen muda dan wanita Uniqlo di Eropa telah meroket dalam beberapa tahun terakhir, dan merek ini berniat untuk melayani para pelanggan tersebut dengan melacak preferensi mereka secara cermat, kata Morikawa.

“Pelanggan Eropa merasa bahwa peritel yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya ada di sini,” katanya.

Back to top button