TinjauAds
BeritaPilihan Redaksi

Kembali Menang Pilpres Brasil, Ini Perjalanan Panjang Lula da Silva

Dibaca dalam waktu3 Menit, 15 Detik

TINJAU, Jakarta – Perjalanan politik Luiz Inacio Lula da Silva kembali mencapai babak penting. Berangkat dari kehidupan sederhana sebagai pekerja, Lula berhasil mempertahankan kursi Presiden Brasil setelah mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro dalam putaran kedua pemilihan presiden pada Minggu (25/10/2026) waktu setempat.

Kemenangan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Lula yang telah berkecimpung dalam politik Brasil selama lebih dari empat dekade.

Pada usia yang hampir menginjak 81 tahun, ia kembali memperoleh kepercayaan rakyat setelah melewati persaingan ketat dengan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro tersebut.

Dikutip dari AFP, Senin (26/10/2026), Lula menyampaikan terima kasih kepada rakyat Brasil yang telah menggunakan hak pilihnya. Ia menilai partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga demokrasi di negara itu.

“Orang-orang datang untuk memilih karena kita berhasil meyakinkan mereka bahwa memberikan suara sangatlah penting demi menjamin demokrasi di negara ini,” kata Lula dalam pidato pertamanya setelah dinyatakan menang.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Perayaan kemenangan pun berlangsung di sejumlah wilayah Brasil. Di Rio de Janeiro, kembang api dan suara vuvuzela menyambut hasil pemilihan.

Sementara itu, ribuan pendukung berbaju merah, warna Partai Pekerja yang menaungi Lula, memadati jalanan Sao Paulo.

Membalikkan Hasil Putaran Pertama

Kemenangan Lula tidak diraih dengan mudah. Ia sempat tertinggal dari Flavio Bolsonaro pada putaran pertama pemilihan presiden yang digelar awal Oktober lalu. Namun, hasil tersebut berbalik pada putaran kedua.

Setelah seluruh suara dihitung, Lula memperoleh 51,79 persen suara, sedangkan Flavio meraih 48,21 persen. Selisih perolehan suara keduanya dilaporkan mencapai sekitar 4,4 juta suara.

Hasil ini juga menjadi catatan dalam sejarah pemilihan presiden Brasil. Sejak pemilihan langsung kembali digelar pada 1989 setelah berakhirnya kediktatoran militer, belum pernah ada kandidat yang kalah pada putaran pertama kemudian berhasil memenangkan putaran kedua.

Kemenangan Lula turut menjadi perhatian di tengah pergeseran politik ke arah kanan yang terjadi di sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru.

Perubahan arah politik di kawasan tersebut juga mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Tiga Kali Gagal Sebelum Menjadi Presiden

Di balik kemenangannya, perjalanan Lula menuju kursi kepresidenan dipenuhi kegagalan dan kontroversi. Ia lahir dari keluarga miskin dan pernah menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari tukang semir sepatu hingga penjual kacang, sebelum bekerja di pabrik logam.

Kehidupan sebagai pekerja kemudian membawanya ke dunia aktivisme. Pada akhir 1970-an, Lula mulai dikenal sebagai pemimpin serikat buruh di kawasan industri pinggiran Sao Paulo. Pengalaman tersebut menjadi titik awal keterlibatannya dalam politik nasional Brasil.

Lula sempat tiga kali gagal dalam pemilihan presiden, yakni pada 1989, 1994, dan 1998. Ia akhirnya terpilih pada 2002 sebagai presiden pertama Brasil yang berasal dari kelas pekerja.

Selama dua periode kepemimpinannya hingga 2010, Brasil menikmati pertumbuhan ekonomi yang ditopang komoditas. Pemerintahannya juga dikaitkan dengan keberhasilan mengangkat sekitar 30 juta orang keluar dari kemiskinan.

Namun, perjalanan politik Lula tidak selalu berjalan mulus. Skandal korupsi yang melibatkan sejumlah tokoh dari Partai Pekerja memicu kekecewaan publik dan turut membentuk dinamika politik yang mengantarkan Jair Bolsonaro ke kursi kepresidenan pada 2018.

Lula sendiri sempat dipenjara setelah terseret kasus korupsi. Putusan yang menjeratnya kemudian dibatalkan atas dasar prosedural, sementara hakim utama dalam kasus tersebut dinyatakan tidak objektif. Meski demikian, kontroversi itu terus menjadi bagian dari perjalanan politiknya.

Kembali Berkuasa di Tengah Polarisasi

Pada pemilihan presiden 2022, Lula kembali ke panggung politik dan mengalahkan Jair Bolsonaro dalam persaingan ketat. Kekalahan tersebut tidak diterima begitu saja oleh Bolsonaro. Ia kemudian dipenjara setelah dinyatakan bersalah dalam kasus perencanaan kudeta.

Kini, Lula kembali mempertahankan kekuasaannya setelah mengungguli Flavio Bolsonaro. Kemenangan tersebut sekaligus memperpanjang kiprahnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik Brasil.

Meski demikian, persaingan politik di negara itu belum sepenuhnya mereda. Flavio Bolsonaro dilaporkan menolak mengakui kekalahannya dan menyatakan akan mengajukan pembatalan hasil pemilu.

Dengan hasil tersebut, perjalanan Lula dari pekerja pabrik hingga kembali menduduki kursi kepresidenan menjadi salah satu kisah politik yang menandai dinamika demokrasi Brasil.

Di tengah persaingan ideologi dan polarisasi masyarakat, masa jabatan barunya akan kembali menjadi sorotan, terutama terkait upaya menjaga stabilitas politik dan melanjutkan agenda sosial-ekonomi pemerintahannya.

 

Back to top button