Renungan Katolik Hari Minggu Adven IV Minggu, 22 Desember 2024

TINJAU – “Perjumpaan yang Membawa Sukacita dan Peneguhan”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I: Mi. 5:1-4a
Bacaan II: Ibr. 10:5-10
Bacaan Injil: Luk. 1:39-45
Hari ini, tanggal 22 Desember 2024, adalah Hari Minggu Adven IV. Kita tentu menyadari bahwa Hari Raya Natal sudah semakin dekat dan akan kita rayakan dalam hitungan hari. Saat ini, banyak dari kita sedang disibukkan dengan berbagai persiapan. Baik di gereja maupun di rumah, semua orang merancang agar perayaan Natal dapat berjalan dengan lancar dan penuh makna.
Di gereja, para panitia Natal tengah mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat. Para petugas liturgi juga mulai sibuk dengan latihan dan gladi bersih agar perayaan Natal berjalan dengan khidmat. Di rumah-rumah, suasana Natal semakin terasa dengan dekorasi dan ornamen-ornamen khas yang mulai menghiasi setiap sudut.
Selain itu, banyak di antara kita yang mulai mengatur agenda agar dapat pulang dan merayakan Natal bersama keluarga tercinta. Natal memang identik dengan momen keluarga—waktu berkumpul bersama orang-orang terkasih untuk menyambut kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, ke dalam keluarga kita, terutama dalam hati kita masing-masing.
Oleh karena itu, Natal juga menjadi momen perjumpaan yang membawa sukacita. Ini adalah waktu yang dinantikan setiap tahun, ketika kita berbagi cerita—kisah yang mampu memberikan inspirasi atau semangat kepada sesama. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempersiapkan cerita-cerita yang akan kita bagikan saat Natal nanti?
Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar kisah Bunda Maria yang mengunjungi Bunda Elisabeth, yang juga sedang mengandung secara ajaib. Elisabeth sedang mengandung Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus. Perjumpaan ini diwarnai sukacita karena kedua wanita tersebut dipilih secara khusus oleh Allah untuk menjadi ibu dari dua tokoh besar dalam sejarah keselamatan: Yohanes Pembaptis dan Yesus, Sang Juruselamat, yang kelahiran-Nya telah dinubuatkan sejak Adam dan Hawa.
Kisah perjumpaan antara Maria dan Elisabeth ini menjadi momen pertukaran cerita yang membawa peneguhan serta sukacita mendalam bagi keduanya. Hal ini terlihat ketika Elisabeth, mendengar salam Maria, merasakan bayi di rahimnya melonjak kegirangan. Jika kita membaca lanjutan Injil ini, kita akan menemukan Kidung Maria, atau Magnificat, yang merupakan ungkapan syukur dan pujian Maria atas karya besar Allah.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyiapkan kisah-kisah yang bisa menginspirasi, meneguhkan, dan menambah sukacita bagi mereka yang mendengarkan? Ataukah, tanpa disadari, kita lebih cenderung membagikan cerita yang hanya berpusat pada kesombongan atau pencapaian pribadi?
Mari kita belajar dari perjumpaan Maria dan Elisabeth. Perjumpaan ini adalah contoh bagaimana dua pribadi, yang sadar bahwa mereka adalah rekan kerja Allah, menjadikan momen bersama mereka sebagai kesempatan untuk saling menguatkan, bukan untuk bergosip, menyombongkan diri, atau menjatuhkan satu sama lain. Jika kita salah memanfaatkan momen Natal, bukannya menjadi perayaan keluarga, Natal justru bisa berubah menjadi perayaan luka yang menjauhkan orang-orang dari sukacita sejati.
Mana yang ingin kita pilih: Natal sebagai perayaan luka atau Natal sebagai perayaan keluarga yang saling mendukung, meneguhkan, dan membagikan sukacita?
Selamat mempersiapkan Natal dengan baik.
Selamat menyiapkan hati dan kisah-kisah yang akan meneguhkan, menginspirasi, dan membawa sukacita bagi mereka yang mendengarkannya.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









