Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXIX, 20 Oktober 2024

TINJAU – “Salah Kaprah dalam Hidup Rohani.”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Yes. 53:10-11
Bacaan II : Ibr. 4:14-16
Bacaan Injil : Mrk. 10:35-45
Tentu kita tidak asing lagi dengan istilah ‘Salah Kaprah’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘Salah Kaprah’ diartikan sebagai suatu kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan hal tersebut sebagai suatu kesalahan. Alhasil, banyak orang tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah suatu kesalahan karena memahaminya sebagai sesuatu yang normal. Misalnya, kita tidak asing dengan kata ‘merubah’. Dalam berbagai kesempatan, jika ada sesuatu yang ingin kita ubah, kita selalu mengatakan “Kamu perlu merubah sikapmu itu!”. Ini contoh salah kaprah, ‘merubah’ arti sebenarnya adalah perbuatan menjadi rubah. Ini salah kaprah. Karena, kalimat yang seharusnya adalah ‘mengubah’. “Kamu perlu mengubah sikapmu itu!”. Namun, karena sudah umum, kita tidak merasakan lagi bahwa hal ini menjadi suatu kekeliruan.
Rupa-rupanya, mengenai salah kaprah, juga terjadi dalam hidup rohani kita. Dalam hidup rohani, salah kaprah yang terjadi adalah pemahaman bahwa setelah dibaptis dan menjadi murid Kristus, semua permasalahan dan beban hidup kita akan dilepaskan dan hidup kita akan selalu diberkati seturut dengan apa yang kita harapkan. Namun demikian, karena salah kaprah ini, banyak umat Kristiani yang mengeluhkan dinamika hidup mereka karena setelah dibaptis dan menjadi murid Kristus, mereka tidak mengalami perubahan hidup yang drastis. Bahkan, tak jarang mereka merasakan bahwa hidup mereka semakin berat, penderitaan semakin banyak, dan cobaan datang bertubi-tubi.
Pada Hari Minggu Biasa XXIX ini, bacaan-bacaan yang ditawarkan kepada kita memperjelas salah kaprah yang terjadi dalam hidup rohani kita. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti hidup kita terbebas dari penderitaan, melainkan dikuatkan untuk menghadapi berbagai macam penderitaan dan cobaan dalam hidup ini. Tuhan Yesus hadir, tinggal, dan hidup di dunia di antara kita bukan untuk melepaskan penderitaan, beban hidup, ataupun cobaan dalam hidup kita. Tuhan Yesus hadir, tinggal, dan hidup di dunia di antara kita untuk menemani dan menguatkan kita untuk setia, tabah, dan tekun dalam menghadapi permasalahan, penderitaan, dan cobaan yang sedang kita hadapi.
Dalam Bacaan II, Surat kepada orang Ibrani dengan indah menjelaskan bahwa sebagai Imam Agung, Tuhan Yesus bukan tidak merasakan penderitaan. Melainkan, Ia mau solider dengan kita mengalami penderitaan dan juga merasakan kelemahan-kelemahan manusia, sama seperti kita. Hanya saja Ia tidak melakukan kedosaan. Harapannya pun demikian, ketika kita menghadapi permasalahan, penderitaan, dan pencobaan dalam hidup, kita diajak untuk berseru kepada Tuhan Yesus agar Ia menemani kita dalam menghadapi penderitaan yang sedang dihadapi dalam hidup.
Oleh karena itu, ajakan kepada kita adalah untuk terus-menerus menjalin relasi komunikasi yang baik dengan Tuhan Yesus sendiri melalui doa kita. Kita tidak perlu terbatasi dengan pemahaman bahwa doa harus dibentuk dari kata-kata yang indah. Mari kita coba saja menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah sahabat setongkrongan. Dengan demikian, kita bisa berdoa dengan gaya khas kita, spontan, dan doanya berasal dari hati.
Permasalahan, penderitaan, dan pencobaan dalam hidup kita, sebenarnya selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki. Dalam Bacaan I, Nabi Yesaya menegaskan bahwa justru inilah love language dari Tuhan kepada kita, yakni melalui permasalahan, penderitaan, dan pencobaan. Dalam bahasa yang lain, kita bisa mengartikan bahwa selama kita merasakan penderitaan, pencobaan, dan permasalahan yang bertubi-tubi, artinya Tuhan begitu mencintai kita.
Salah kaprah yang terjadi di antara para rasul pun diluruskan oleh Tuhan Yesus sendiri. Para rasul menginginkan untuk menjadi yang terutama, tanpa memperhatikan bahwa jalan hidup mengikuti Tuhan Yesus adalah melalui penderitaan yang juga dialami oleh Tuhan Yesus. Hal ini muncul dari pertanyaan reflektif yang Tuhan Yesus sampaikan dalam Bacaan Injil, “Sanggupkah kamu meminum cawan yang harus Kuterima?” Dalam Kitab Suci, kata ‘cawan’ selalu merepresentasikan penderitaan. Melalui pertanyaan tersebut, bisa dibahasakan ulang sebagai “Sanggupkah kamu menderita dengan penderitaan yang harus Kuterima?”
Mari kita semakin menyelaraskan hati kita dengan apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Dengan demikian, semoga kita semakin setia, tabah, dan tekun dalam menjalani penderitaan, pencobaan, dan permasalahan yang datang bertubi-tubi. Karena, saat hal-hal tersebut muncul, artinya Tuhan begitu mencintai kita dan ingin kita bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, hingga akhirnya kita sungguh merasakan bahwa hidup kita layak untuk dihidupi.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









