Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXXII, 10 November 2024

TINJAU – “Semangat Berbagi”
Bacaan I: 1 Raj. 17:10-16
Bacaan II: Ibr. 9:24-28
Bacaan Injil: Mrk. 12:38-44
Sebagai seorang manusia pada umumnya, tentu kita selalu mengharapkan apa yang kita impikan terwujud sesuai dengan keinginan kita. Kita juga tidak ragu melakukan berbagai cara untuk dapat mewujudkan impian itu. Bahkan, tak jarang kita pun berjuang melalui cara-cara rohani untuk meminta kepada Tuhan agar apa yang kita impikan dapat terwujud dan terlaksana dengan baik. Namun demikian, sering kali kita menjadi bingung dan terheran-heran saat Tuhan mendengarkan doa dan permohonan kita lalu mengabulkannya.
Logika yang kita miliki tentu berbeda dengan logika yang digunakan oleh Tuhan. Bahkan, tak jarang hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Biasanya, kita akan mendapat penghiburan melalui kata-kata bahwa Tuhan mengabulkan apa yang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan. Setelah mendengar kata-kata tersebut, biasanya kita perlahan-lahan mulai dapat menerima apa yang sedang dikerjakan oleh Tuhan bagi kita.
Salah satu logika Tuhan yang tidak dipahami oleh kita adalah mengenai rezeki dan pengalaman berbagi. Tentu kita memiliki rezeki dengan porsi masing-masing. Namun, toh tak jarang juga kita selalu meminta rezeki yang lebih kepada Tuhan. Entah dengan alasan demi keluarga, demi cita-cita, maupun demi diri sendiri karena memiliki banyak daftar keinginan agar dapat hidup enak. Namun demikian, apakah rezeki kita ditambahkan oleh Tuhan? Mungkin bisa jadi ditambahkan atau mungkin bisa juga rezeki kita tetap seperti apa yang sudah kita miliki saat ini.
Ada satu rahasia unik dalam logika Tuhan yang sulit dimengerti oleh manusia, yaitu berbagi. Tentu kita akan dapat dengan mudah menyangkal, “Bagaimana mungkin saya berbagi dengan orang lain jika saya masih saja kekurangan?” Namun di situlah uniknya logika Tuhan.
Ada seorang kepala keluarga yang datang kepada saya bercerita bahwa sebenarnya dia giat bekerja, bahkan sampai sering lupa doa, malas pergi pertemuan lingkungan, dan beberapa kali sengaja melewatkan Perayaan Ekaristi dengan alasan bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Saat orang itu meminta nasihat, saya menyarankan kepadanya agar mau berbagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Memang awalnya orang itu merasa keberatan untuk berbagi, apalagi dia menilai bahwa dirinya serta keluarganya saja belum ada dalam taraf yang cukup.
Namun demikian, rupa-rupanya orang ini mencoba melakukan apa yang sesuai dengan nasihat yang saya berikan. Orang ini selalu menyempatkan waktu untuk berdoa, sesekali ia mau terlibat dalam pertemuan lingkungan, dan ia tidak melewatkan satu minggu pun untuk datang ke gereja dan merayakan Ekaristi. Bahkan, ia pun mau berbagi dan menjadi donatur sebuah panti asuhan. Beberapa bulan kemudian, ia datang lagi kepada saya dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan nasihat yang sangat berarti baginya. Saat ini, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya; anak-anaknya bersekolah di sekolah yang bermutu baik; dan ia pun mengalami sukacita yang luar biasa karena mau berbagi.
Salah satu logika Tuhan yang tidak dapat dipahami oleh manusia adalah perihal berbagi. Semakin kita mau berbagi dengan mereka yang membutuhkan, kita tidak akan berkekurangan. Bahkan, Tuhan memberikan rezeki itu secara berkelimpahan. Ada seorang bijaksana mengatakan bahwa di dalam rezeki yang kita terima, di situ ada pula kesempatan yang Tuhan berikan untuk mau berbagi.
Perihal berbagi ini pun dialami oleh dua orang janda yang tadi kisahnya kita dengarkan dalam Bacaan I dan Bacaan Injil. Pada Bacaan I, janda di Sarfat yang hanya memiliki tepung dan minyak untuk makan sekali, rela berbagi dengan Elia yang kelaparan. Apa yang terjadi? Tepung dan minyaknya menjadi berkelimpahan sampai masa kekeringan di Israel berhenti. Dalam Bacaan Injil pun, janda itu mau berbagi dengan memberikan dua peser uangnya yang ada padanya untuk dipersembahkan ke Bait Allah. Upah kerja sehari itu satu dinar, yang setara dengan 96 peser.
Kedua janda ini memberi dari kekurangannya. Kalau mau egois, kedua janda ini tentu akan protes dan membela diri bahwa mereka sendiri masih berkekurangan; seharusnya mereka yang ditolong; lantas mengapa harus menolong orang lain? Tetapi, mereka tidak mengikuti keegoisan diri. Mereka tetap mau berbagi dengan orang-orang yang lebih membutuhkan. Memang tidak dikisahkan lebih lanjut bagaimana kehidupan mereka setelah berbagi itu, tetapi dalam terang iman, kita yakin bahwa hidup mereka dijamin oleh Tuhan sendiri.
Lantas, bagaimana dengan kita? Kita sekarang mengetahui bahwa logika Tuhan perihal rezeki adalah bahwa rezeki yang kita miliki bukan sekadar untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk berbagi dengan mereka yang memerlukan. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh para pahlawan. Hari ini adalah Hari Pahlawan. Para pahlawan rela berbagi, bahkan merelakan nyawa mereka, demi orang-orang yang memerlukan kemerdekaan. Mereka tentu berjuang selama itu tidak mengharapkan pujian dari kita. Mereka berjuang demi mau berbagi kebebasan dan sukacita pada orang-orang yang tertindas karena penjajahan.
Kalau kita renungkan lebih lanjut, semangat inilah yang mendasari Sila Ke-5 dalam Pancasila, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan sosial ini dapat terwujud ketika kita satu sama lain mau berbagi, terutama berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan uluran tangan kita. Jika hal ini terwujud, tentu kita akan menyadari bahwa hidup kita ini layak untuk dihidupi karena semuanya adalah rahmat dari Tuhan sendiri.
Selamat Hari Pahlawan!
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









