Penyebab Milenial Punya Banyak Utang
Penyebab milenial punya banyak utang salah satunya karena boros. Nah, sering disebut sebagai generasi paling boros, sebenarnya apa penyebab milenial memiliki banyak utang? Simak beberapa hal berikut. Semoga bermanfaat!
Jakarta, tinjau.id – Sering disebut sebagai generasi paling boros, sebenarnya apa penyebab milenial memiliki banyak utang?
Saat ini milenial memang rata-rata sudah bekerja dan memiliki pendapatan tiap bulannya. Hal itu juga yang menjadi salah satu penyebab mereka lebih boros.
Tidak hanya belanja offline, generasi yang satu ini juga sangat menyukai belanja online.
Bahkan survei dari Katadata mengatakan bahwa milenial dan generasi Z lebih suka bertransaksi di e-commerce.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Dari survei tersebut diketahui bahwa milenial mendominasi transaksi pembelian di e-commerce dan berani membeli barang dengan nominal besar.
Transaksi yang berlebihan tersebut akhirnya membuat milenial lebih boros. Bahkan, hal itu juga membuat mereka sering terlilit banyak utang.
Nah, untuk menghindarinya coba cari tahu dulu apa saja hal yang menjadi penyebab milenial punya banyak utang berikut ini.
Faktor Lingkungan: Lihat Gaya Hidup orang lain
Penyebab pertama yang membuat milenial sering punya banyak utang karena mengikuti gaya hidup teman.
Pertemanan memang sangat penting, tapi bukan berarti kamu harus selalu mengikuti gaya hidup teman. Apalagi jika pilihan gaya hidup mereka tidak sesuai dengan kantongmu.
Saat ini kamu sudah dewasa sehingga harus bisa lebih bijaksana memilih gaya hidup.
Jangan hanya karena alasan tidak enak menolak ajakan teman, akhirnya malah membuatmu kehabisan uang.
Belajarlah bilang “tidak” jika misalnya kamu diajak foya-foya. Jika ia memang teman yang baik, pasti akan paham dengan maksud penolakanmu.
Jadi, mulai saat ini jangan pernah mencoba ikut gaya hidup mahal teman lagi jika ingin tidak boros.
Nongkrong, tapi bayar pakai kartu kredit
Nongkrong di café bareng teman sepulang kerja memang menyenangkan. Namun, jika hal itu dilakukan tiap hari tentu akan menjadi sumber keborosan. Apalagi di penghujung bulan, ketika kantong sedang menipis, keberadaan kartu kredit di dompet seakan rutin memanggil-manggil untuk dipakai.
Setelah lelah bekerja dan dikejar deadline, memang paling asyik jika kita menenangkan diri dengan bertemu teman.
Kebiasaan milenial nongkrong disebut BPS menjadi salah satu penyebab melemahnya pembelian pakaian di tahun 2019 lalu.
Pengeluaran untuk membeli makanan dan minuman yang ada di café tersebut bisa menjadi penyebab kamu boros.
Apalagi jika dilakukan hampir setiap hari, tentu sangat tidak sehat bagi keuanganmu.
Gali lubang tutup lubang dengan Kartu Kredit
Kartu kredit seperti pada poin sebelumnya menjadi penggoda di kala kantong menipis. Nah, kartu kredir bisa menjadi penyebab milenial memiliki banyak utang. Apalagi jika digunakannya asal-asalan tanpa dipikirkan akibatnya.
Sebelum membuatnya, sebaiknya kamu ketahui dulu kelebihan dan kekurangan dari kartu kredit. Jadi, saat menggunakannya kamu bisa lebih bijak.
Pembelian dengan kartu kredit sebaiknya untuk barang-barang yang memang kamu butuhkan untuk keperluan sehari-hari.
Misalnya untuk membeli mesin cuci, laptop, atau keperluan yang mendesak lainnya. Atau sebaiknya menggunakan kartu kredit untuk transaksi mendesak yang memang harus menggunakan kartu kredit. Misalnya mendaftar tes kuliah di luar negeri, membayar tagihan perpanjangan website atau domain website pribadi.
Namun, sebaiknya tidak menggunakan kartu kredit hanya untuk belanja bulanan, membayar makanan di café, atau bahkan beli baju yang terlalu mahal.
Ingatlah bahwa kamu memiliki kewajiban untuk melunasinya sehingga pikirkan baik-baik sebelum menggunakan kartu kredit.
Kurang bersyukur, kurang berderma, kurang ugahari
Milenial memiliki cukup upah dari pekerjaan, apalagi jika kamu berbakat dan masih muda tapi mendapat pekerjaan bekerja di posisi penting.
Namun kadang upah ini bisa lewat saja karena kurang bersyukur. Tidak melihat segala sesuatu yang diperoleh dengan rasa syukur.
Kurang bersyukur menyebabkan milenial jatuh pada keinginan-keinginan yang semestinya tidak perlu. Misalnya, mencari hiburan berbayar di luar rumah, padahal langganan netflix yang dibayar di rumah menyediakan hiburan. Harus menonton bioskop demi gengsi tahu lebih dulu, daripada menunggunya di layanan berbayar yang sudah ada di rumah. Termakan rayuan iklan soal produk.
Kurang berderma juga bisa membuat milenial terperosok ke dalam kesulitan uang. Bayangkan tidak ada yang berdoa untuk upayamu, karena uangmu lebih banyak buat foya-foya.
Kurang ugahari juga menumpuk utang. Tidak dapat membedakan “keinginan” dan “kebutuhan”. Beli beras itu kebutuhan, tapi makan sushi yang mahal yang notabene juga nasi itu bisa jadi keinginan. Padahal di video-video youtube banyak panduan cara membuat sushi. Harganya akan lebih murah jika tidak harus ke restoran.
Beli beras enak bisa saja di pasar biasa, tapi terkena rayuan beras premium yang rasanya sama saja dengan beras di pasar. Atau malas ke pasar dan tergoda untuk belanja mingguan di supermarket yang mahal. Ada juga yang membeli bensin produk luar karena termakan rayuan tips mesin awet jika pakai bensin produksi perusahaan luar negeri.
Ke tempat kerja menggunakan mobil, padahal bisa menggunakan sepeda atau transportasi publik. Dan lain sebagainya.
Ugahari itu sederhana, mampu mempraktikkan hidup sederhana, hidup tidak berlebihan.
Itulah beberapa penyebab milenial sering memiliki banyak utang. Jika kamu tidak ingin terlilit utang, sebaiknya jauhi hal-hal di atas.
Bersikap hemat memang tidak mudah dilakukan. Namun, tanpa bisa berhemat pasti kamu tidak akan memiliki keuangan yang sehat.









