TinjauAds
Inspirasi

Waisak dan Toleransi Akar Rumput Untuk Biksu Thudong

Dibaca dalam waktu2 Menit, 53 Detik

Waisak 2567 Buddhis Era (BE) bertepatan dengan 4 Juni 2023 akan dirayakan umat Buddha. Perayaan kali ini ditandai dengan napak tilas puluhan Biksu dari Thailand menyusuri ribuan kilometer untuk mencapai Borobudur di Jawa Tengah. Tapi seakan Waisak bukan hanya milik umat Buddha, singgah di kota-kota sepanjang perjalanan, para Biksu disambut dengan gembira dan sukacita. Sebuah toleransi akar rumput.

Magelang, tinjau.id Selain Vihara terdekat dari jalur perjalanan, Masjid, Gereja, Candi Hindu, Kelenteng, orang dari beragam agama dan suku bangsa menyambut para Biksu.

Di perempatan Mall Metropolitan Bekasi, di suatu hari Jumat ketika pagi menyibukkan warga Bekasi di jalan-jalan menuju kepada aktivitasnya, polisi terlihat membantu para Biksu menyeberang jalan. Kendaraan mengular di lampu merah juga sabar hingga para Biksu selesai menyeberang.

Sedari berjalan mulai di Cengkareng hingga Magelang, rombongan Biksu Thudong menghiasi beragam sosial media, disambut penuh sukacita mereka yang berjubah, berkerudung muslim, bertudung biarawati, ustad dan masyarakat berbagai lapisan, dari Ketua RT hingga Gubernur.

Di Cirebon, mereka menginap sejenak di Gereja Katolik Santo Yusup, gereja katolik tertua di Pantura Cirebon. Sejenak menikmati air minum karena mereka berpuasa makan. Mereka kenyang rohani karena sambutan hangat dari Pastor dan umat gereja. Banyak yang memberi diri untuk menjadi tukang pijat agar lelah di kaki para Biksu sedikit hilang.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Jalan-jalan di Cirebon hingga Magelang ramai ketika mereka melintas. Gereja, masjid dan balai warga memberi diri untuk menjadi tempat singgah Biksu mencuci jubah. Jubah yang hanya 3 buah untuk perjalanan ribuan kilometer.

Di beberapa pemukiman penganut Buddha, para Biksu disambut dengan amal derma untuk bekal mereka selanjutnya.

Terekam para Biksu tak segan terkapar di lantai gereja dan masjid ketika singgah, sekedar istirahat.

Tiba di Klaten, mereka berkunjung di Candi Prambanan, Candi Hindu terkenal dan terbesar.

Indah. Waisak tidak saja menjadi raya bagi Buddhisme tetapi benar, bagi semesta, bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagi warga biasa di pinggir-pinggir jalan, mereka yang merupakan akar rumput bangsa ini.

Mengenai Thudong sebagai ritual Buddhisme

Thudong adalah perjalanan ritual para Biksu yang dilakukan dengan berjalan kaki menempuh ribuan kilometer. Menurut bahasa Pali, thudong berasal dari kata dhutanga yang berarti latihan keras.

Latihan ini dilakukan sebagai bentuk menjalani perintah Sang Buddha, yaitu 13 praktik pertapaan. Artinya, Biksu harus menyatu dengan alam untuk mencapai meditatif. Bukan Biksu biasa yang mampu menjalani ritual thudong setiap tahun dalam sekitar 4 bulan perjalanan.

Dari Provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand, Kamis (23/3/2023) para Biksu melakukan perjalanan ritual agama Buddha thudong menuju Indonesia sebagai negara yang juga memikili riwayat diplomatis baik dengan Thailand.

Hal ini pun menjadi pertama kalinya Indonesia di datangi oleh para Biksu yang sedang thudong. Karena memang hari raya Waisak akan datang. Candi Borobudur-lah tempat sentral sejarah Buddha terbesar di Indonesia. Melewati beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura. Lalu, mereka tiba di Batam sebagai perbatasan Indonesia-Singapura pada Senin, (8/5/2023).

“Indah sekali. Kita di Indonesia punya banyak ritual agama. Semua gembira mendukung. Kan ada natalan, banyak family juga bergembira. Ada Nyepi, di Bali kita merasakan sepi. Waisak, itu para Biksu menginspirasi jalan kaki ribuan kilo. Ada lebaran, kita mudik dan silaturahmi. Ini seharusnya merupakan semangat toleransi akar rumput. Pada dasarnya hati Indonesia itu adalah kerukunan. Kalau masih ada intoleransi, yah, oknum-oknum yang mau menggunakan kekuasaannya untuk memecah belah saja. Akar kita adalah kerukunan. Abaikan jika ada yang mau memecah belah,” kata seorang warga di Indramayu, Jawa Barat ketika melihat para Biksu melintasi Jalan Raya Jatibarang.

 

Back to top button