Ma’ruf Amin: Fikih Harus Mampu Sesuaikan Perkembangan Zaman
Ma’ruf Amin mengatakan bahwa fikih harus mampu menyesuaikan perkembangan zaman. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Muktamar Internasional Fikih Peradaban, yang merupakan rangkaian kegiatan di harlah Satu Abad NU.
Surabaya – Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin didaulat menjadi pembicara tentang kontekstualisasi pandangan keagamaan dengan realitas peradaban yang berubah pada Muktamar Internasional Fikih Peradaban, Senin (6/1/2023). Muktamar tersebut berlangsung di Hotel Shangri-La, Jl. Mayjen Sungkono No.120, Surabaya – Jawa Timur.
“Saya mengapresiasi terselenggaranya Muktamar Internasional Fikih Peradaban yang merupakan rangkaian agenda peringatan satu abad Nahdlatul Ulama,” kata Ma’ruf dalam sambutannya.
Pada kesempatan itu, Ma’ruf pun menyampaikan pandangannya tentang kontekstualisasi pandangan agama dengan perubahan realitas peradaban.
“Topik ini sangat menarik. Khususnya jika dikaitkan dengan karakter hukum Islam atau fikih yang fleksibel dan dinamis mengikuti dinamika dan perkembangan zaman. Saya telah menuliskan pikiran saya terkait topik tersebut dalam sebuah makalah yang utuh. Namun, dalam kesempatan yang waktunya terbatas ini saya akan menyampaikan pokok-pokok pikiran saja,” ungkap Ma’ruf.
Pernah Menorehkan Tinta Emas Pembangunan
“Ilmu fiqih harus dapat menyesuaikan dan berkarakteristik dinamis menerima perkembangan zaman,” imbuhnya.
Keniscayaan akan fatwa baru, kata Ma’ruf, penting lantaran sumber hukum utama, Al Qur’an dan Hadits bersifat umum, sementara permasalahan baru dan terbarukan datang silih berganti.
“Orang yang berpikir bahwa hukum tidak bisa berubah maka bisa dipastikan orang itu tidak memahami Islam itu sendiri,” tambah Ma’ruf.
Oleh karena itu, lanjut Ma’ruf kemudian, para ulama telah merumuskan perangkat metodologi untuk melakukan perubahan tersebut.
“Orang yang beranggapan ajaran Islam semuanya tsawabit dan alergi pada perubahan. Atau, beranggapan ajaran Islam semuanya memungkinkan untuk berubah, maka bisa dipastikan orang tersebut tidak memahami ajaran Islam,” ungkapnya.
Wapres menyebut, sejarah telah mencatat umat Islam pernah menorehkan tinta emas dalam pembangunan peradaban. Namun, hal itu kemudian mengalami era kemunduran.
“Saat ini, dunia sudah masuk pada babak baru peradaban. Terutama karena globalisasi yang tidak terbendung,” kata Ma’ruf.
NU sendiri, ungkapnya, sudah lama mengadopsi fleksibilitas dan pemikiran Islam. Itu dilakukan pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Lampung pada 1992 silam.
“NU telah memiliki metodologi induksi untuk menghadapi isu-isu kontemporer, baik wacana maupun metodologi. Sehingga dalam menyaksikan realitas NU tidak semena-mena mengutip. Melainkan melalui ijtima ulama, melalui ushul fiqh,” ucapnya.
Karakteristik NU Moderat
Dalam pertemuan itu pula Wapres Ma’ruf Amin mendefinisikan karakteristik NU yang moderat dan berbasis metodologi. Oleh karena itu, NU bisa mengemukakan metodologi global dan terkini.
“Karena kami sadar bahwa membangun peradaban itu penting. Manusia bertugas untuk mengelola peradaban dunia dan bertanggung jawab memakmurkan bumi,” pungkas Ma’ruf.
Di akhir sambutannya Maruf Amin langsung membuka jalannya gelaran akbar Muktamar Internasional Fiqih Peradaban dengan pemukulan bedug. Tampak mendampingi Ma’ruf adalah Ketua Dewan Penasihat PBNU KH Ahmad Mustofa Bishri, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Grand Syeikh Al Azhar serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Editor: Stebby Julionatan









