TinjauAds
HeadlineTinjau Kalbar

Membaca Spirit Fransiskus Assisi dalam Krisis Pendidikan Tinggi

By. Lianto - Universitas Widya Dharma Pontianak

Dibaca dalam waktu5 Menit, 9 Detik

TINJAU, Pontianak | Perayaan Yubileum 800 Tahun wafatnya Santo Fransiskus Assisi (1226–2026) tidak semestinya berhenti sebagai peringatan historis ataupun seremoni liturgis.

Delapan abad setelah kematiannya, dunia justru menghadapi bentuk-bentuk baru kemiskinan yang mungkin tidak pernah dibayangkan pada zamannya.

Jika dahulu Fransiskus berjalan menemui para penderita kusta, kaum papa, dan mereka yang disingkirkan masyarakat, kini pertanyaan yang layak diajukan adalah: siapakah kaum marginal itu dalam dunia modern, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi?

Pertanyaan tersebut mengemuka ketika Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) menggelar seminar ilmiah-spiritual bertajuk Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat St. Fransiskus Assisi, Senin (29/6/2026), di Aula Gedung Fransiskus Assisi.

Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Yubileum Fransiskan ini menghadirkan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap., dengan moderator P. Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM.Cap.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Hadir dalam kegiatan tersebut ratusan peserta, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, perwakilan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, hingga para religius dari berbagai kongregasi di Kota Pontianak.

Di penghujung paparannya, Mgr. Samuel menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi menyimpan daya gugah yang luar biasa.

“Menerima semua orang sebagai saudara, terlebih mereka yang paling membutuhkan. Sehina apa pun seseorang, semiskin apa pun seseorang, dia tetap manusia. Dia harus dihargai bukan karena status sosialnya, tetapi karena martabatnya sebagai manusia.”

Kalimat tersebut disampaikan dalam konteks penghormatan terhadap martabat manusia. Namun, bagi penulis, pesan itu membuka kemungkinan pembacaan yang lebih luas, terutama ketika dihadapkan pada wajah pendidikan tinggi Indonesia hari ini.

Kemiskinan yang Tidak Selalu Berwujud Ekonomi

Selama ini, istilah “kaum miskin” hampir selalu dipahami sebagai mereka yang kekurangan secara material. Padahal, realitas sosial berkembang jauh lebih kompleks.

Di tengah kompetisi pendidikan yang semakin ketat, lahir bentuk kemiskinan baru yang jarang dibicarakan, yakni kemiskinan akademik.

Istilah ini tidak dimaksudkan untuk memberi stigma kepada peserta didik. Sebaliknya, ia hendak menggambarkan situasi ketika seseorang datang ke perguruan tinggi dengan modal akademik yang terbatas bukan karena kurangnya kemampuan intelektual, melainkan karena sejak awal hidup dalam lingkungan pendidikan yang tidak memberikan kesempatan yang setara.

Mereka berasal dari sekolah-sekolah di pelosok dengan laboratorium yang minim, perpustakaan seadanya, guru yang terbatas, akses internet yang tidak stabil, bahkan ruang belajar yang jauh dari memadai.

Akibatnya, ketika mereka bersaing melalui ukuran-ukuran nasional yang seragam, mereka hampir selalu berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

Yang dibandingkan sesungguhnya bukan hanya kemampuan individu, melainkan juga ketimpangan ekosistem pendidikan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun.

Paradoks Pendidikan Tinggi

Beberapa tahun silam, penulis pernah berbincang dengan seorang asesor akreditasi dari salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka.

Dalam percakapan itu, ia menceritakan dengan nada bangga bagaimana kampusnya hanya menerima sebagian kecil calon mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia.

Secara administratif, tidak ada yang salah.

Seleksi memang merupakan instrumen penting untuk menjaga kualitas.

Namun, percakapan itu menyisakan sebuah kegelisahan.

Bukankah sebagian besar mahasiswa yang berhasil lolos memang berasal dari keluarga yang sejak awal memiliki akses pendidikan terbaik? Mereka memperoleh sekolah yang lebih baik, guru yang lebih berkualitas, fasilitas belajar yang lebih lengkap, kursus tambahan, bahkan lingkungan keluarga yang kondusif.

Sebaliknya, mereka yang gagal belum tentu kurang cerdas.

Sering kali mereka hanya lahir di tempat yang tidak menyediakan kesempatan yang sama.

Ironinya, perguruan tinggi yang sebagian besar dibiayai oleh negara justru lebih banyak memperkuat keberhasilan mereka yang sejak awal telah memiliki berbagai privilese pendidikan.

Sementara mereka yang membutuhkan pendidikan sebagai tangga mobilitas sosial justru semakin sulit memperoleh kesempatan.

Ketika Kampus Menjadi Mesin Seleksi

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi pendidikan tinggi.

Universitas perlahan lebih sibuk memperbaiki indikator kinerja daripada memperluas akses keadilan.

Reputasi institusi semakin ditentukan oleh kualitas input mahasiswa, bukan oleh kemampuan kampus mentransformasikan mahasiswa selama proses pendidikan.

Dalam logika seperti ini, universitas berubah menjadi ruang kurasi.

Ia hanya menerima mereka yang sudah unggul.

Padahal hakikat pendidikan bukanlah memilih siapa yang paling siap, melainkan menumbuhkan siapa yang belum memperoleh kesempatan berkembang.

Universitas yang hanya mengumpulkan mahasiswa terbaik memang akan lebih mudah menghasilkan lulusan berkualitas.

Namun, apakah itu benar-benar keberhasilan pendidikan?

Ataukah sekadar keberhasilan melakukan seleksi?

Pertanyaan ini menjadi penting, terutama bagi perguruan tinggi Katolik yang mengusung spiritualitas Fransiskan.

Spirit Fransiskan dan Pilihan kepada yang Lemah

Santo Fransiskus Assisi tidak dikenang karena keberhasilannya membangun institusi besar.

Ia dikenang karena keberaniannya mengubah cara pandang terhadap manusia.

Ia memilih tinggal bersama mereka yang dihindari masyarakat.

Ia memandang mereka bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai saudara.

Dalam bahasa teologi sosial Gereja, pilihan tersebut dikenal sebagai preferential option for the poor—keberpihakan yang disengaja kepada mereka yang paling rentan.

Jika prinsip ini diterjemahkan ke dalam dunia pendidikan tinggi, maka keberpihakan tersebut dapat diwujudkan melalui keberanian menerima mahasiswa yang secara akademik belum sempurna, tetapi memiliki daya juang, karakter, dan kemauan belajar.

Tugas universitas bukan sekadar menghasilkan lulusan.

Lebih dari itu, universitas dipanggil menghadirkan transformasi.

Universitas menjadi tempat di mana seseorang bertumbuh melampaui keterbatasan yang dibawanya sejak lahir.

Mengukur Kualitas Secara Berbeda

Sudah saatnya ukuran kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi nilai mahasiswa ketika masuk.

Kualitas juga harus diukur dari seberapa jauh mahasiswa berkembang ketika lulus.

Universitas yang berhasil mengangkat mahasiswa dengan kemampuan awal biasa menjadi lulusan luar biasa sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas pendidikan yang jauh lebih substansial daripada institusi yang hanya menerima mereka yang sejak awal sudah unggul.

Dalam perspektif ini, pendidikan bukan lagi sekadar kompetisi angka.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Ia memberi ruang bagi setiap orang untuk menemukan kemungkinan terbaik dalam dirinya.

Menjaga Api Harapan

Perayaan Yubileum 800 Tahun Santo Fransiskus Assisi menjadi momentum yang tepat untuk meninjau kembali orientasi pendidikan tinggi kita.

Apakah kampus masih menjadi rumah bagi mereka yang berharap mengubah hidupnya?

Ataukah ia telah berubah menjadi institusi yang hanya melayani mereka yang sejak awal sudah berada di garis depan?

Pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi universitas Katolik.

Ia juga penting bagi seluruh perguruan tinggi Indonesia yang mengemban tanggung jawab moral mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebab pada akhirnya, universitas tidak diingat karena banyaknya mahasiswa yang berhasil ditolak.

Universitas akan dikenang karena keberhasilannya mengubah kehidupan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.

Barangkali, di situlah semangat Santo Fransiskus menemukan makna paling aktual pada abad ke-21.

Bukan hanya merangkul mereka yang miskin secara ekonomi, melainkan juga mereka yang selama ini miskin kesempatan.

Dan mungkin, justru di ruang-ruang kuliah itulah keberpihakan kepada yang kecil menemukan bentuk pelayanannya yang paling nyata. (*Lianto)

Back to top button