Revitalisasi Tambak Pantura, Jabar Disuntik Danantara Rp26 T

TINJAU, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyepakati kerja sama revitalisasi tambak Pantai Utara (Pantura) Jawa mencapai 20 ribu hektare dengan pemerintah provinsi dan pemerintah daerah di Jawa Barat. Anggaran investasi yang dibutuhkan hingga Rp26 triliun.
Empat daerah sasaran program revitalisasi yakni Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu.
“Investasi dari Danantara,” ujar Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, Rabu (25/6/2025).
Trenggono menyebut penggunaan APBN lebih kepada untuk pemetaan dan pemisahan tapal batas antarkabupaten/kota di pesisir utara tersebut.
“Perkiraan investasi menurut kita kira-kira sekitar Rp26 triliun,” kata dia menegaskan.
“Ya, (full) dari Danantara,” kata Trenggono menegaskan.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatangan Nota Kesepakatan tentang Sinergi Pengelolaan Kelautan dan Perikanan Berbasis Ekonomi Biru di Provinsi Jawa Barat, yang Menteri KKP dan Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi di Kantor KKP.
Trenggono mengungkapkan, total lahan yang revitalisasi melalui skema Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan (KHKP) kurang lebih 20.413,25 hektare.
Rinciannya ya itu di Kabupaten Bekasi seluas 8.188,49 hektare, tepatnya di Kecamatan Babelan, Cabangbungin, Muaragembong, Tarumajaya. Kemudian Kabupaten Karawang 6.979,51 hektare di Kecamatan Batujaya, Cibuaya, Cilamaya Wetan, Pakisjaya, Tirtajaya.
Kabupaten Subang seluas 2.369,76 hektare di Kecamatan Blanakan, Legonkulon, Pusakanagara dan Sukasari. Terakhir, Kabupaten Indramayu seluas 2.875,48 hektare di Kecamatan Cantigi, Kandanghaur, Losarang, Pasekan dan Sindang.
Komoditas yang akan dikembangkan pada program revitalisasi tambak Pantura adalah nila salin. Ikan ini lebih tahan akan penyakit dan pertumbuhannya cukup cepat. Selain itu, peluang pasar domestik dan ekspor ikan tilapia sangat besar. Lewat program revitalisasi tersebut, KKP menargetkan peningkatan produktivitas tambak budidaya menjadi 144 ton/Ha/tahun dari sebelumnya 0,6 ton/Ha/tahun.
Volume produksinya diperkirakan mencapai 1,18 juta ton dengan nilai produksi Rp30,65 triliun. Program ini pun diperkirakan menciptakan peluang pekerjaan bagi 119.100 masyarakat hulu dan hilir.
“Ini akan menyerap banyak tenaga kerja,” kata dia menegaskan.









