TinjauAds
BisnisPilihan Redaksi

Rencana Hilirisasi Industri Kelapa, Potensinya Rp89 T

Dibaca dalam waktu2 Menit, 48 Detik

TINJAU, Jakarta – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyiapkan peta jalan hilirisasi industri kelapa, sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang Indonesia.

Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Perencanaan Pembangunan 2025—2045, yang menetapkan hilirisasi industri sebagai motor penggerak ekonomi.

Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Teguh Sambodo, menyebut sejumlah tantangan tantangan utama yang dihadapi untuk misi hilirisasi kelapa adalah rendahnya produktivitas, mayoritas pengelolaan konvensional oleh petani, serta banyaknya tanaman kelapa yang sudah tua dan rusak.

Saat ini, Indonesia hanya mampu memproduksi 1 juta ton benih kelapa per tahun, jauh dari kebutuhan 41 juta ton.

“Potensinya kalau semuanya memproduksi, itu bisa 9 juta [ton per tahun], tetapi ternyata butuhnya 41 juta ton. Jadi jauh sekali ya, antara kemampuan dan juga untuk produksi benih, dan pemerintah pun kalau mau membantu itu tidak bisa semuanya, dari 378.000 hektare yang mau dibutuhkan untuk diremasakkan ini bisa ditanggung pemerintah,” kata Teguh ketika ditemui d Media Briefing Peta Jalan Kelapa, Jumat (27/9/2024).

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Kalau pemerintah mau menanggung [semua], 38 tahun baru selesai, sehingga kita mungkin perlu ada percepatan. Percepatan ini juga dipacu dengan permintaan yang tinggi dari Amerika, Eropa, dan China,” sambungnya.

Potensi Pendapatan

Lebih lanjut, dia menjelaskan produk seperti air kelapa, sabut, dan tempurung—yang selama ini dibuang — memiliki nilai ekonomis yang tinggi untuk pendapatan negara.

“Kalau airnya saja dikumpulkan, itu bisa mencapai 3,6 juta ton air kelapa, dan kalau kita ekspor semuanya, itu bisa mendatangkan perdapatan US$5,2 miliar [sekitar Rp78,55 triliun]. Ini setara dengan ekspor kita untuk karet.”

Adapun, potensi nilai ekonomi dari sabut kelapa dan tempurung kelapa yang terbuang atau belum dimanfaatkan masing-masing sebesar US$320 juta (sekitar Rp4,83 triliun) dan dan US$373 juta (sekitar Rp5,63 triliun).

Dengan demikian, potensi nilai ekonomis dari air kelapa, sabut, dan tempurung mencapai total sekitar Rp89,01 triliun.

Sebagai gambaran, dia memetakan kondisi idustri kelapa saat ini, di mana produktivitas stagan diangka 1,1 ton/ha dengan 98,95% merupakan kebun rakyat tanpa pengorganisasian dan regenerasi.

Menariknya Indonesia juga masih menjadi negara pengekspor kelapa bulat (keadaan utuh) sebanyak 756,98 juta tanpa pengenaan pajak ekspor.

“Sehingga dengan membangunkan praksasa tidur ini, sebenarnya kita ingin memanfaatkan potensi-potensi yang selama ini, tapi untuk bisa ke sana, maka banyak sekali tantangan yang dihadapi,” tegasnya.

Sasaran Hilirisasi Kelapa 2045:

1. Meningkatnya produksi dan produktivitas kelapa
Indikator:
Volume produksi kelapa meningkat menjadi 6 juta ton setara kopra atau setara 32 miliar butir kelapa
– Produktivitas kelapa meningkat menjadi 1,78 ton setara kopra/hektare
– Proporsi luas tanaman menghasilkan meningkat menjadi 97%

2. Meningkatnya diversifikasi produk turunan kelapa
Indikator:
– Minimal 95% kelapa bulat dipasok untuk kebutuhan hilirisasi di dalam negeri
– Pertumbuhan nilai tambah produk olahan kelapa (CAGR) meningkat menjadi 6,8%
– Utilisasi industri meningkat menjadi 85%

3. Meningkatnya konsumsi domestik dan daya saing ekspor
Indikator:
– Peningkatan aplikasi kelapa di berbagai bidang
– Kontribusi ekspor produk olahan kelapa asal Indonesia meningkat masing-masing masuk dalam 10 besar dunia Nilai ekspor kelapa dan produk turunannya meningkat 10 kali lipat lebih tinggi dalam 20 tahun

4. Meningkatnya dukungan ekosistem pemampu hilirisasi kelapa
Indikator:
– Kelembagaan terkait hilirisasi kelapa dikelola secara terintegrasi
– Pendanaan untuk mendukung hilirisasi kelapa terjangkau dan kompetitif Kornersialisasi riset dan inovasi untuk mendukung hilirisasi kelapa meningkat
– Kontribusi kelapa sebagai nature-based solution meningkat, termasuk melalui kontribusi produktivitas lahan untuk ketahanan ekonomi dan lingkungan.

Back to top button