Michael Sastrapratedja, Jesuit Lucu dan Ahli Kelola Pendidikan

TINJAU.ID – Dunia filsafat Indonesia kehilangan seorang pemikir dan pendidik yang luar biasa: Michael Sastrapratedja SJ.
Romo Michael Sastrapratedja, SJ, adalah seorang akademisi Katolik yang menempuh perjalanan panjang dalam dunia pendidikan dan filsafat. Lahir pada 22 Oktober 1943, kehidupan dan karyanya memberikan inspirasi bagi banyak orang.
Segera setelah lulus SD, Michael Sastrapratedja memasuki Seminari Mertoyudan, Magelang, pada tahun 1957. Meskipun awalnya hanya mengikuti jejak saudaranya yang seorang pastor, kehidupan di lingkungan seminari memberinya pengalaman berharga. Di sana, ia merasakan disiplin ketat yang membentuk karakternya. Meskipun demikian, ia berhasil menemukan kedamaian dan kesetiaan di dalamnya, bahkan hingga dalam perjalanan hidupnya yang melintasi benua.
Gelar doktor filsafat diperolehnya pada tahun 1979 dari Fakultas Filsafat Universitas Gregorian, Roma, dengan disertasinya yang berjudul “Ibn Khaldun’s Philosophy of Culture”. Perkenalan pertamanya dengan filsafat Islam terjadi dalam konteks penelaahan sosial politik Indonesia. Meskipun bukan seorang ahli Islamologi, ketertarikannya pada filsafat sosial politik Islam membawanya memperdalam pemahaman tentang kultur dan filsafat.
Karier akademisnya dimulai pada tahun 1969 sebagai dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dan terus berkembang hingga ia dipercaya sebagai rektor selama lebih dari 20 tahun di berbagai perguruan tinggi Katolik. Selama masa aktifnya, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menyelenggarakan seminar dan mengembangkan program-program inovatif dalam bidang pendidikan dan filsafat.
Salah satu ciri khas Romo Michael Sastrapratedja adalah ketekunannya dalam mempelajari filsafat kontemporer. Ia selalu terlihat membaca buku-buku terbaru tentang isu-isu filsafat manusia, filsafat ketuhanan, hermeneutika, dan etika. Selain sebagai pembaca yang tekun, ia juga aktif dalam menyampaikan pengetahuannya melalui berbagai buku yang ditulisnya.
Selama menjadi rektor, Romo Sastrapratedja tidak hanya fokus pada pengembangan pendidikan, tetapi juga melakukan terobosan dalam universitasnya. Ia memperkenalkan program kajian budaya dan bahkan membuka fakultas baru seperti fakultas farmasi di Universitas Sanata Dharma. Di samping itu, ia dikenal sebagai sosok humoris yang mampu membuat materi filsafat terasa ringan dan menyegarkan bagi para pendengarnya.
Meskipun telah berpulang pada 17 Februari 2024, warisan Romo Michael Sastrapratedja terus menginspirasi banyak orang. Melalui Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila yang ia dirikan, ia berusaha menghidupkan kembali refleksi filosofis mengenai Pancasila sebagai dasar negara. Seluruh perjalanan hidup dan karyanya menunjukkan dedikasinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pemahaman antarbudaya.
Dengan ketekunan, terobosan, dan dedikasinya dalam dunia akademis dan filsafat, Romo Michael Sastrapratedja, SJ, menginspirasi generasi baru untuk terus belajar, bertumbuh, dan berkontribusi bagi masyarakat. Semangatnya yang tak kenal lelah dalam mengejar pengetahuan dan memperluas wawasan menjadi teladan bagi mereka yang ingin mengabdikan diri dalam bidang pendidikan dan intelektualitas.









