Turkmenistan: Pernah Dipimpin Presiden Narsis Sampai Kematian Hak Perempuan
Turkmenistan di bawah pemerintahan Sardar Berdymukhamedov melakukan penguatan ekonomi, tetapi menggilas hak-hak perempuan dengan ‘politik pakaian’. Hal ini telah mereduksi hakikat perempuan hanya sebagai simbol kesucian, kecantikan, dan kesopanan.
Asgabat – Mungkin Anda jarang mendengar negara Turkmenistan. Setelah kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, Turkmenistan menjadi negara merdeka dengan pemerintahan otokratis yang despotik. Ibukota Turkmenistan adalah Asgabat dengan luas wilayah dua kali lipat Inggris, yakni 491.210 km persegi.
Melansir CNN, Turkmenistan adalah negara yang kaya dengan sumber alam gas. Kekayaan gas yang negara ini miliki mencapai sekitar 70 miliar meter kubik gas alam setiap tahun.
Sekitar dua pertiga ekspornya masuk ke monopoli gas Gazprom Rusia. Ironisnya negara yang memiliki penduduk 5, 6 juta jiwa ini masyarakatnya masih banyak yang hidup miskin.
Pada tahun 1992 sampai 2006, Turkmenistan ada di bawah pemerintahan Niyazov. Ia adalah presiden seumur hidup, ditaktor, dan seorang narsistik.
Niyazov pernah mengeluarkan regulasi yang tidak rasional, semisal mewajibkan foto dan patung dirinya di seluruh negeri itu. Niyazov mengganti nama bulan dalam kalender semaunya. Melansir Guardian, Niyazov mengganti bulan April dengan nama ibunya, sedangkan bulan Mei menjadi nama ayahnya.
Lebih narsis lagi, ia merubah bulan September dengan nama buku yang pernah ia terbitkan Rukhnama. Buku ini terdapat dalam kurikulum pendidikan Turkmenistan. Bahkan, ia melihatnya sepadan dengan kitab suci karena Niyazov menganggap buku ini adalah pengungkapan Sang Ilahi pada dirinya.
Setelah kematian Niyasov, Gurbanguly Berdymukhamedov menjadi presiden pada 2007 sampai 2022. Seperti pendahulunya, Presiden Berdymukhamedov memegang kekuasaan absolut.
Setelah 15 tahun memimpin, putranya, Sardar Berdymukhamedov mengambil alih kepresidenan pada Maret 2022 sebagai presiden ketiga Turkmenistan. Sardar mulai membangun diplomasi yang kuat dengan negara-negara besar lainnya.
Pada bulan November lalu, Sarder berkunjung ke negara Timur Tengah, Uni Arab Emirat, dan bertemu Rashid Al Maktoum untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara khusunya dalam bidang energi, seperti penyulingan minyak, industri kimia, dll., melansir Specialeurasia.
Ia juga mempromosikan energi yang menjadi kebanggaan Turkmenistan kepada Tiongkok, dan Iran.
Apa yang lebih buruk dari narasi perempuan Turkmenistan?
Melansir Diplomat, hak asasi manusia yang tercederai di bawah kepemimpinan kepresidenan Sardar sejauh ini adalah hak perempuan.
Ketika perempuan di seluruh dunia berbicara menentang ketidakadilan gender dan diskriminasi, Sardar justru berupaya membungkam suara perempuan dengan berbagai kebijakan irasional.
Pada awal April 2022, sebagian besar salon kecantikan perempuan tutup karena berbagai alasan. Tidak boleh ada sulam bibir, tato, pemasangan bulu mata, dll. Pengabaian pada larangan ini berakibat 15 tahun penjara bagi pemilik salon, dan denda bagi pelanggan sebesar $ 285.
Belum lagi ‘politik pakaian’ yang merenggut kebebasan permpuan dan mencampakkannya pada simbol kesucian, kecantikan, dan kesopanan.
Perempuan yang bekerja di sektor publik harus berpakaian, katanya ‘tepat/sesuai’ dengan pakaian tradisional Turkmenistan.
Perempuan tidak boleh memakai celana atau baju jeans dan rok pendek.
Karena semua universitas di Turkmenistan merupakan milik pemerintah, pembatasan ini juga memengaruhi perempuan yang belajar dan mengajar di universitas negeri tersebut.
Bagi Sardar ini adalah upaya untuk menghadirkan kebahagiaan bagi rakyatnya.
“Tujuan utama dari semua keperihatinan saya selalu berfokus pada kebahagiaan rakyat, untuk masuk ke dalam transformasi negara ke era baru,” kata Sardar, melansir Diplomat.
Editor: Michael Ckow









