Tanggapi Perang Tarif AS, Singapura Longgarkan Kebijakan Moneter

TINJAU, Jakarta – Bank sentral Singapura melonggarkan pengaturan kebijakan moneternya lebih lanjut karena tekanan harga menunjukkan tanda-tanda mereda dan para pembuat kebijakan mencoba mengukur dampak ekonomi global dari tarif baru Amerika Serikat (AS).
Otoritas Moneter Singapura, yang menggunakan nilai tukar sebagai alat kebijakan utamanya daripada suku bunga, mengatakan “tingkat apresiasi akan sedikit berkurang,” menurut sebuah pernyataan yang dirilis Senin (14/4/2025).
“Tidak akan ada perubahan pada lebar pita dan tingkat di mana dia berpusat,” papar pernyataan itu.
“MAS akan memantau dengan cermat perkembangan ekonomi global dan domestik, dan tetap waspada terhadap risiko inflasi dan pertumbuhan.”
Semua 14 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg News mengantisipasi bahwa MAS akan mengurangi kemiringan pita mata uang.
Bank sentral melonggarkan pengaturannya untuk pertama kalinya sejak 2020 pada bulan Januari setelah jeda panjang yang dimulai pada 2023.
Singapura juga menurunkan perkiraan pertumbuhan 2025 menjadi 0%—2% dari sebelumnya 1%—3%. Data yang dirilis pada Senin menunjukkan ekonomi negara-kota tersebut tumbuh 3,8% secara year on year (yoy) pada kuartal I-2025, dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan sebesar 4,5%.









