RIP Fethullah Gülen, Meninggal di Usia 83 Tahun

TINJAU, Jakarta – Fethullah Gülen, ulama yang pernah membangun gerakan Islam berpengaruh di Turki dan kawasan sekitarnya, meninggal dunia pada usia 83 tahun. Gülen, yang sempat terjerat dalam tuduhan merancang kudeta terhadap Presiden Turki Tayyip Erdogan, menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam pengasingan di Amerika Serikat.
Situs web Herkul, yang sering menerbitkan khotbah Gülen, mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui akun media sosial X pada Minggu (20/10/2024) malam. Gülen dilaporkan meninggal di sebuah rumah sakit di AS tempat ia menjalani perawatan.
Seperti dilaporkan Reuters, Gülen dulunya adalah sekutu dekat Erdogan, tetapi hubungan mereka memburuk secara dramatis. Erdogan menuduh Gülen sebagai otak di balik upaya kudeta pada tahun 2016. Dalam peristiwa tersebut, militer pemberontak menggunakan pesawat tempur, tank, dan helikopter dalam upaya untuk merebut kekuasaan. Sekitar 250 orang tewas dalam insiden itu.
Bagi para pengikutnya, Gülen dikenal dengan sebutan Hodjaefendi, yang berarti guru yang dihormati. Lahir di desa kecil di provinsi Erzurum, Turki timur, pada tahun 1941, ia adalah putra seorang imam dan mempelajari Al-Quran sejak usia dini.
Pada 1959, Gülen diangkat sebagai imam di sebuah masjid di kota Edirne, barat laut Turki. Ia mulai mendapatkan popularitas sebagai penceramah pada tahun 1960-an di provinsi Izmir, di mana ia mendirikan asrama siswa dan sering berceramah di rumah-rumah teh.
Asrama siswa yang ia dirikan menjadi cikal bakal jaringan informal yang berkembang selama beberapa dekade, mencakup pendidikan, bisnis, media, dan berbagai lembaga negara, memberikan pengaruh luas bagi para pengikut Gülen.
Pengaruh gerakan Gülen tidak hanya terbatas di Turki, tetapi juga menyebar ke Asia Tengah, Balkan, Afrika, dan Barat melalui jaringan sekolah yang dibangun oleh para pengikutnya.









