Bandara Sam Ratulangi Ditutup, Imbas Erupsi Gunung Ruang

TINJAU.ID – Penutupan Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara diperpanjang hingga Minggu (21/4/2024) pukul 12.00 WITA. Sebelumnya penutupan juga diberlakukan hingga Sabtu (20/4/2024) pukul 12.00 WITA.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara yang menyebut bahwa keputusan itu diambil berdasarkan informasi Notice to Airmen (NOTAM) nomor A1016/24 NOTAMR A1010/24.
Pertimbangan lebih lanjut penutupan sementara operasional Bandara Internasional Sam Ratulangi berdasarkan pertimbangan masih adanya abu vulkanik di ruang udara dan hasil paper test menunjukkan positif Volcanic Ash (VA).
“Sesuai hasil pengamatan aktivitas abu vulkanik Gunung Ruang, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara,” tulis Dirjen Perhubungan Udara dalam keterangannya, Sabtu (20/4/2024).
Di satu sisi, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VIII Manado Ambar Suryoko menyebut perpanjangan penutupan sementara operasional Bandara Sam Ratulangi ini atas kesepakatan bersama Kepala Otoritas Bandara, General Manager AirNav, BMKG, dan Badan Usaha Angkutan Udara (BUAU) yaitu PT. Garuda Indonesia, Lion Air Group, PT. Citilink Indonesia dan PT. Transnusa Aviation Mandiri.
Sementara itu, penanganan penumpang oleh BUAU dilakukan dengan opsi reschedule atau refund berlangsung dengan aman dan tertib.
“Kami masih terus memantau perkembangan dari erupsi Gunung Ruang, dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait dalam penanganan force majeure [keadaan darurat] ini untuk mengantisipasi tindakan yang diperlukan demi memastikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan,” tutur Ambar, Jumat (19/4/2024).
Sebagai informasi Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Dimana menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) status Gunung Ruang telah masuk level IV atau awas dan berpotensi tsunami sehingga masyarakat juga diminta untuk berada di radius 6 km dari Gunung Ruang.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Komunikasi BNPB Abdul Muhari menyebut terdapat sekitar 11.614 jiwa yang harus diungsikan.









