TinjauAds
Mo IgnasPilihan RedaksiTinjau

Renungan Katolik Hari Minggu Adven II, 8 Desember 2024

Dibaca dalam waktu2 Menit, 56 Detik

TINJAU – “Pertobatan dan Kekudusan”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I : Bar. 5:1-9
Bacaan II : Fil. 1:4-6, 8-11
Bacaan Injil : Luk. 3:1-6

Dalam Bahasa Indonesia, ada dua istilah yang serupa, namun sebenarnya memiliki arti yang berbeda, yakni “Kudus” dan “Suci.” Secara spontan, dalam hidup sehari-hari, tanpa sadar kita menggunakan dua istilah ini begitu saja tanpa sungguh benar-benar memahami arti dari istilah itu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Suci” memiliki arti keadaan yang bersih dan tidak bernoda. Sedangkan, kata “Kudus” memiliki arti keadaan yang tanpa noda dan memiliki daya Ilahi di dalamnya. Berdasarkan pemahaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita dapat memahami secara lebih jelas perbedaan makna dari kata “Suci” dan “Kudus.”

Sebagai seorang Kristiani, siapa pun kita, apa pun latar belakang hidup kita, dari mana pun asal kita, tujuan hidup kita adalah menuju pada kekudusan. Namun demikian, dalam praktiknya, sering kali kita merasa ragu untuk melangkah menuju pada kekudusan. Tentu ada beragam alasan yang membuat kita menjadi ragu-ragu. Beberapa alasan yang sering dilontarkan adalah: “Ah, nanti saya dicap sok suci”; “Ah, nanti saya dinilai seperti para Ahli Taurat dan Kaum Farisi”; “Ah, nanti saya dilihat sebagai orang yang mabuk agama.” Nah, keraguan dan ketakutan seperti inilah strategi yang digunakan oleh Roh Jahat untuk menjauhkan kita dari Allah.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Minggu Kedua Adven ini, kita menyalakan lilin iman. Iman yang dimaksud tentu iman kepada Allah yang rela mengutus Sang Putra untuk menebus manusia agar manusia hidup dalam situasi atau keadaan kudus bersama dengan Allah. Santo Paus Yohanes Paulus II, dalam setiap audiensinya, selalu menyerukan kepada kita agar kita tidak perlu takut untuk menjadi orang Kudus. Tentu ada keteladanan yang bisa kita lihat dan kita pelajari. Salah satunya adalah Beato Carlo Acutis, yang pada bulan April 2025 akan dikanonisasi menjadi orang Kudus. Carlo Acutis, pada usianya yang masih sangat muda, sudah berani melangkah untuk mengarah pada kekudusan.

Dalam bacaan Injil pada hari ini, kita mendengarkan seruan St. Yohanes Pembaptis yang mewartakan agar berani untuk melangkah dalam kekudusan. Caranya melalui pertobatan. Dalam pertobatan, ada empat tahap yang selalu perlu kita pahami, yakni mengakui dosa dan kesalahan, mengakuinya, menyesali, dan melakukan pertobatan. Sering kali kita baru sampai pada tahap ketiga, yakni menyesali. Oleh karena itu, tak jarang kita kembali jatuh pada dosa dan kesalahan yang sama. Hal ini disebabkan kita lupa untuk mengerjakan tahap yang terakhir, yakni melakukan pertobatan. Melakukan pertobatan berarti dengan niat yang sungguh-sungguh mencari cara agar tidak jatuh lagi pada dosa dan kesalahan yang sama.

Mungkin di antara kita ada yang akan mengatakan, “Ah, toh masih ada Sakramen Rekonsiliasi, jadi tidak perlulah serius-serius bertobat. Kan, Tuhan akan tetap mengampuni.” Memang Sakramen Rekonsiliasi ada untuk menyembuhkan relasi kita yang renggang dengan Allah. Tetapi, tentu Sakramen bukan untuk main-main. Oleh karena itu, perlu menumbuhkan niat dalam diri untuk bertobat.

Tentu kita akan dengan mudah mengatakan bahwa menjalankan pertobatan bukanlah sesuatu yang mudah. Namun demikian, mari kita mohon rahmat dari Allah agar kita mampu mengarahkan hidup kita pada kekudusan. Caranya adalah dengan sungguh-sungguh menjalankan pertobatan. Melalui pertobatan, kita dapat melihat bahwa pertama-tama Allah mau dekat dengan kita. Tetapi, sering kali kita yang menjauh dari Allah.

Selamat memasuki Minggu Adven II.
Selamat membangun niat untuk mengarahkan hidup pada kekudusan.
Mari bertobat dan mari kita semakin mendekatkan diri pada Allah.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button