Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXX, 27 Oktober 2024

TINJAU – “Bartimeus, Harapan di Tepi Jalan”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Yer. 31:7-9
Bacaan II : Ibr. 5:1-6
Bacaan Injil : Mrk. 10:46-52
Ketika kita melalui perempatan-perempatan, kita dapat melihat banyak orang mengemis dan meminta-minta. Mulai dari yang memang mengemis dan menunggu orang lain memberikannya sesuatu hingga ada yang berusaha mendapatkan penghasilan dengan cara mengamen. Sewaktu melihat mereka, hati nurani kita tentu bersuara untuk memberikan sesuatu agar mereka dapat makan. Namun demikian, kita perlu berhati-hati saat memberikan sesuatu kepada para pengemis, pengamen, bahkan gelandangan. Sikap berhati-hati ini bukan untuk menumpulkan suara hati nurani dan belas kasih kita kepada sesama yang memerlukan, tetapi justru agar kita lebih peka apakah mereka benar-benar perlu dibantu atau tidak.
Pada bulan Juli 2015, marak berita di media sosial, televisi, dan media cetak tentang seorang pengemis terkaya di Indonesia. Orang ini menjadikan kelemahan dan kekurangannya sebagai sarana untuk mengemis dan meminta-minta. Dalam bahasa lain, ia menjadi bangga akan kelemahannya dan hanya menunggu untuk diberi, tanpa berusaha semampunya untuk mencari rezeki. Tak jarang ada pula orang-orang yang dengan ide kreatifnya berpura-pura berkekurangan. Bahkan, ada beberapa anak muda yang menampilkan dirinya tidak bisa berjalan, padahal mereka bisa berjalan dengan baik. Suatu keadaan yang menyedihkan. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam melihat apakah bantuan yang kita berikan sudah tepat atau justru memanjakan mereka dalam keadaan tersebut.
Bartimeus, dalam bacaan Injil pada hari ini, mengemis di pinggir jalan bukan karena ia manja dengan keadaannya yang buta. Namun, hanya dengan cara mengemis, ia dapat memperoleh sesuatu untuk dimakan pada hari itu. Ia menyadari bahwa jika kekurangannya disembuhkan, ia bisa melakukan banyak hal daripada sekadar mengemis di pinggir jalan. Oleh karena itu, ketika ia mendengar bahwa Yesus berjalan di hadapannya, Bartimeus berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Teriakan Bartimeus ini dianggap sebagai gangguan oleh banyak orang. Alhasil, mereka menegurnya supaya diam dan tetap pada keadaan butanya. Namun, Yesus, dengan hati penuh belas kasih, menganggap teriakan itu sebagai seruan tulus Bartimeus untuk bisa berdaya, tetapi ia tidak dapat melakukan apa-apa karena buta.
Hal ini jelas ketika Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?”, dan Bartimeus tidak meminta sedekah, melainkan langsung meminta Yesus menyembuhkan akar dari permasalahan hidupnya, yakni ia ingin dapat melihat.
Tanpa disadari, kita pun sama seperti Bartimeus. Kita tentu memiliki kelemahan-kelemahan yang sering kali menyulitkan kita untuk melakukan hal-hal baik. Namun, kita justru lebih sering meributkan masalah yang muncul, tanpa berupaya menyembuhkan akar permasalahannya. Oleh karena itu, selama akar permasalahan belum disembuhkan, kita akan terus berkutat dengan permasalahan yang sama tanpa henti.
Mari kita belajar dari Bartimeus yang datang kepada Yesus untuk disembuhkan dari akar permasalahan yang muncul dalam hidup kita sehari-hari. Jangan pernah takut untuk datang, dekat, dan disembuhkan oleh Yesus, meskipun banyak halangan dan tantangan untuk itu.
Setelah akar permasalahan itu disembuhkan, sekali lagi, mari belajar dari Bartimeus. Setelah disembuhkan, Bartimeus tidak kembali ke kebiasaan hidup lamanya, yaitu duduk di pinggir jalan meminta dikasihani, tetapi ia bangkit dan mengikuti Yesus. Dengan kata lain, Bartimeus juga mau mewartakan bahwa Yesus yang menyembuhkannya dan mengajak orang lain untuk datang kepada Yesus serta memohon kesembuhan dari akar permasalahan yang membelenggu hidup kita. Melalui kesembuhan itu, kita dapat menyadari bahwa hidup kita ini sangat layak dihidupi, dan kita pun dipanggil untuk menjadi berkat dengan mewartakan Yesus kepada banyak orang.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









