TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Minggu 15 Juni 2025

Dibaca dalam waktu4 Menit, 11 Detik

TINJAU – “Mengalami Tritunggal, Bukan Sekadar Memahami”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I: Ams. 8:22-31

Bacaan II: Rm. 5:1-5

Bacaan Injil: Yoh. 16:12-15

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Banyak orang datang pada saya, baik orang muda maupun orang yang sudah dewasa, bertanya bagaimana ia harus menjelaskan mengenai iman pada Allah Tritunggal kepada teman-temannya yang beragama atau kepercayaan lain. Mereka bercerita bahwa mereka kesulitan menjelaskan iman itu. Bahkan, seringkali iman kepada Allah Tritunggal dipahami secara keliru dengan menyangka dan menilai bahwa orang Katolik menyembah banyak allah.

Biasanya, saat saya menanggapi pertanyaan-pertanyaan demikian, saya menjawab menggunakan kata-kata dan pengajaran dari St. Ignatius Loyola. St. Ignatius Loyola mengajarkan ’Deus Semper Maior’ artinya Allah selalu lebih besar. Benar. Allah selalu lebih besar daripada apa yang dapat dipikirkan oleh akal budi manusia. Dengan demikian, jika seorang mampu memahami Allah secara utuh hanya melalui akal budinya, tentu yang orang itu pahami bukanlah Allah. Kenapa? Karena otak dan pemikiran manusia terlalu kecil dan terlalu sederhana untuk dapat memahami Allah. Apalagi untuk memahami Allah Tritunggal Mahakudus.

Hari ini Gereja Semesta merayakan Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus. Ini adalah Iman Gereja yang tak mungkin dipahami secara penuh, tetapi dapat diimani secara utuh. Bahkan, seringkali para pengkotbah ulung menggambarkan Allah Tritunggal Mahakudus ini dengan berbagai macam pendekatan atau analogi, tetapi yang terjadi justru semakin menjauhkan pemahaman dan iman seseorang dari Allah Tritunggal Mahakudus.

Misteri Allah Tritunggal Mahakudus sebenarnya adalah misteri Kasih Allah yang begitu besar kepada manusia dan kepada dunia. Misteri Allah Tritunggal Mahakudus bukanlah objek pengetahuan untuk diketahui dan dipahami, melainkan subjek pengalaman untuk dialami dan didekati. Misteri kasih yang seringkali terabaikan karena Allah lebih sering bekerja dalam hidup kita bukan melalui hal-hal yang besar, melainkan melalui hal-hal yang kecil dan sederhana.

Nah, bagaimana dengan kita? Apakah selama ini kita sudah mengalami Kasih Allah yang begitu luar biasa dalam hidup? Ataukah kita terjebak untuk selalu berusaha menjelaskan, menguraikan, dan menjabarkan perihal misteri Allah Tritunggal Mahakudus?

Proses mengalami Kasih Allah dalam hidup sehari-hari dapat kita jalani melalui pengalaman-pengalaman yang paling sederhana, yakni melalui doa singkat yang sering kita lakukan, yakni melalui Tanda Salib.

Seorang Romo pernah bercerita bahwa ada orang yang sudah sangat tua datang meminta agar ia dibaptis secara Katolik. Orang ini mengikuti pelajaran agama dengan baik. Pada saat hendak dibaptis, orang ini diwawancara oleh Romo Parokinya. Orang ini menjawab hal-hal pokok mengenai Iman Kekatolikan dengan sangat baik. Orang ini lalu mengutarakan bahwa dirinya sulit sekali memahami Allah Tritunggal Mahakudus. Romo Parokinya menyarankan agar orang ini, jika ingin mengalami pengalaman akan Allah Tritunggal Mahakudus, sungguh-sungguh menghayati dan mempraktikan doa singkat, yakni Tanda Salib. Setelah beberapa waktu lamanya, ketika menjelang perayaan Sakramen Baptis, orang ini datang lagi pada Romo Parokinya dan mengatakan bahwa dengan mempraktikkan dan menghayati Tanda Salib, orang ini sungguh mengalami pengalaman akan Kasih Allah Tirtunggal Mahakudus. Allah yang Esa yang tidak jauh diawang-awang, tetapi sangat dekat dengan dirinya.

Jika kita dengan hati sungguh mendoakan, mempraktikkan, dan menghayati Tanda Salib, kita pun akan mengalami Kasih Allah Tritunggal Mahakudus yang luar biasa dalam hidup kita. Doa yang sederhana, tetapi kekuatannya luar biasa. Dalam doa Tanda Salib, saat kita menyentuh kening atau dahi kita, kita menyebut “Dalam Nama Bapa”. Artinya, kita menyerahkan segenap pikiran dan akal budi kita kepada Allah. Saat kita menyentuh dada atau perut, kita menyebut “Dan Putra”. Artinya, kita menyerahkan hati dan kedalaman diri kita agar terarah pada Allah. Lalu, saat kita menyentuh kedua bahu, kita menyebut “Dan Roh Kudus. Amin”. Artinya, kita menyerahkan segenap tenaga untuk memuji dan memuliakan Allah seraya mengamini semuanya itu.

Jadi, doa paling sederhana adalah Tanda Salib. Oleh karena itu, jangan pernah ragu membuat Tanda Salib dimanapun kita berada. Bahkan, jangan menyalah-gunakan Tanda Salib untuk melakukan tindak kejahatan. Melalui Tanda Salib, kita menyadari bahwa Allah memberkati kita seutuhnya. Mulai dari pikiran, hati, dan segenap tenaga dalam diri ini.

Allah Tritunggal Mahakudus adalah Allah yang menyertai, menemani, membimbing, dan memberkati kita. Ia menciptakan kita pada awal mula; Ia menebus dosa dan kesalahan kita; Ia pun menguduskan kita sehingga kita mampu berziarah dan mengarahkan hidup ini untuk memuji, memuliakan, dan mengabdikan diri kepada-Nya. Ini semua terangkum dalam Tanda Salib yang kita doakan.

Bahkan,, karena Allah Tritunggal Mahakudus ini begitu dekat dengan kita, mestinya iman pada Allah Tritunggal sungguh kita hidupi saat beban hidup ini terasa berat. Kenapa? Karena Allah Tritunggal Mahakudus ada di dekat kita dan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Hanya saja kita tetap perlu berhati-hati dengan pergerakkan Roh Jahat yang seringkali menyusupi hati dan pikiran kita agar kita menarik diri jauh dari Allah.

Selamat merayakan Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus.

Selamat menyadari bahwa Allah selalu lebih besar dari apapun.

Selamat berproses mengalami kasih Allah Tritunggal Mahakudus yang tidak pernah meninggalkanmu sendirian.

Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

 

Back to top button