Sajak Judulnya Rindu

TINJAU – Pada senja di halaman belakang rumahku,
kamu bercerita tentang rindu
sembari menyeruput teh manis panasmu
kamu mulai menyanyikan lantunan
puisi-puisi rindu.
Katamu puisi itu
sudah dinyanyikan sejak Adam merindu Hawa
sampai pada romansa Dilan-Milea
saat menjelaskan kata rindu itu
kamu mulai berfilsafat bagai Sokrates
yang sedang mengajar anak muridnya memahami asal-muasal
dunia yang sebenarnya tercipta
karena rindu.
Pada kata-kata rindu, kamu terdiam sejenak
matamu menerawang, pikiranmu melayang-layang
“Kamu tak akan kenal rindu itu?” katamu.
Aku pun bertanya
mengertikah kamu tentang sajak rindu yang kamu lantunkan itu?
pahamkah kamu tentang rindu yang tak selalu bernada sendu?
Kalau boleh menambahkan sedikit saja
kata pada sajak judulnya rindumu itu
aku hendak mengajakmu memahami rindu
pada sejengkal tanah di halaman belakang rumahku ini.
Karena tak ada yang lebih merindu dengan merdu
selain tanah kering yang menanti datangnya hujan
pada tengah musim kemarau.
Penulis: Ignatius Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









