TinjauAds
Mas GunturPolitik

Paradoks Republik Kancil

Dibaca dalam waktu2 Menit, 56 Detik

TINJAU – Di sebuah negeri yang dulunya bergolak dengan revolusi, kini para penghuninya hidup dalam ironi yang teramat indah. Namanya Republik Kancil, negara yang pernah menggulingkan rezim otoriter dan mengikrarkan diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi. Puluhan tahun lalu, rakyatnya turun ke jalan menuntut reformasi, membongkar ketidakadilan, dan mengusir bayang-bayang seragam dari kursi kekuasaan. Hari ini, setelah perjalanan panjang demokrasi, para wakil rakyat yang katanya hasil pemilihan jujur dan adil malah mengesahkan Undang-Undang Rekonsiliasi Nasional. Isinya? Memberi hak kepada tentara aktif untuk memegang jabatan sipil.

Keputusan ini, tentu saja, disambut gegap gempita oleh segelintir elite. “Ini adalah bentuk penghargaan bagi para patriot negeri!” kata seorang anggota dewan yang dulu aktivis mahasiswa, kini perutnya membuncit karena terlalu sering menghadiri jamuan kenegaraan. “Kita harus menempatkan yang terbaik di posisi penting, dan siapa yang lebih disiplin daripada mereka yang telah bersumpah menjaga kedaulatan negeri?”

Tak ada yang berani bertanya, kedaulatan negeri dari siapa. Sebab, bagi Republik Kancil, ancaman selalu ada. Jika bukan penjajah dari luar, maka musuh dalam selimut. Jika bukan pengkhianat bangsa, maka kaum radikal. Jika bukan mereka, ya rakyat biasa yang terlalu banyak bertanya.

Salah satu tokoh yang menikmati undang-undang baru ini adalah Brigadir Jenderal (Aktif) Rahmat Setya. Dulu ia bertugas di medan tempur, tapi kini ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Para wartawan bertanya, “Apakah seorang tentara cocok mengelola pendidikan?”

Pak Menteri tersenyum santai. “Tentu saja. Disiplin adalah kunci pendidikan. Kita akan ajarkan kurikulum baru: Satu komando, satu suara, satu pemimpin. Tidak boleh ada perdebatan, karena perdebatan hanya buang-buang waktu. Seperti di militer, kita perlu instruksi yang jelas dan harus dipatuhi tanpa banyak pertanyaan.”

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Para guru berbisik di ruang-ruang kelas, tapi mereka tahu bahwa di Republik Kancil, terlalu banyak bertanya bisa dianggap sebagai tindakan subversif.

Mereka yang dulu menjadi motor perubahan kini menjadi motor penghapusan perubahan. Rakyat kebingungan. “Bukankah dulu kita menolak yang seperti ini?” tanya seorang pemuda dalam sebuah diskusi warung kopi.

“Dulu kita menolak mereka karena mereka mengambil kekuasaan dengan paksa. Sekarang, mereka masuk lewat undang-undang. Sah dan konstitusional,” jawab seorang tua yang dulu aktivis reformasi. Matanya sayu, penuh kelelahan. Ia pernah dipukuli, ditendang, dan hampir dihilangkan. Kini, anak-anak ideologisnya sendiri yang menulis aturan baru untuk membawa kembali yang dulu mereka lawan.

Seorang cendekiawan di universitas mencoba mengkritik. “Ini kemunduran demokrasi,” katanya dalam sebuah wawancara televisi. Sayangnya, beberapa hari kemudian, ia dilaporkan menghina institusi negara dan harus mempertanggungjawabkan ucapannya di pengadilan. Hakim yang mengadilinya? Seorang mantan jenderal yang kini menjadi pejabat tinggi di Mahkamah Agung.

Di tahun-tahun berikutnya, semakin banyak jabatan sipil diisi oleh para perwira aktif. Dari menteri, gubernur, hingga wali kota. “Rakyat butuh pemimpin yang tegas!” kata seorang komentator politik yang kebetulan mendapatkan proyek dari pemerintah.

Tak lama, di layar kaca, presiden yang dulunya seorang sipil kini menyematkan baret kehormatan di kepalanya. “Sebagai kepala negara dan panglima tertinggi, saya harus memiliki jiwa tentara!” katanya penuh semangat.

Di luar istana, seorang bocah bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa pelajaran sejarah di sekolahku sekarang hanya ada satu bab, dan itu tentang kepemimpinan militer?”

Sang ibu tak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu, di Republik Kancil, sejarah bukan lagi tentang apa yang terjadi, melainkan tentang apa yang harus dipercaya.

Reformasi telah menjadi cerita rakyat yang dikisahkan sebelum tidur. Sebuah dongeng tentang perjuangan yang tak berujung, terus berputar, hanya untuk kembali ke titik awal.


Penulis: Mas Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button