Kardinal Suharyo: Paskah Momentum Untuk Meninggalkan Perbudakan dan Keserakahan

TINJAU.ID – Ignasius Kardinal Suharyo, Penasihat Paus Fransiskus di Indonesia, menyampaikan harapannya dalam Misa Pontifikal Hari Raya Paskah 2024 bahwa Paskah, yang melambangkan kebangkitan Yesus Kristus, seharusnya menjadi momen untuk merenungkan aspek kunci: percaya (beriman) bahwa semua orang dibangkitkan bersama Kristus. “Kristus seperti apa? Yesus yang berkeliling melakukan kebaikan, karena Allah bersamanya. Sangat penting bahwa lilin Paskah mencantumkan tahun ketika Paskah dirayakan. Ini berarti perayaan Paskah harus membawa pesan yang aktual, setidaknya,” ungkap Suharyo dalam khotbahnya di Katedral Jakarta pada hari Minggu (31 Maret 2024).
Lebih lanjut, Suharyo menekankan bahwa makna Paskah dapat dijelajahi dengan mempertanyakan apa artinya berkeliling dan berbuat baik, seperti yang dilakukan Yesus. Apa yang dapat dilakukan? “Allah yang menemani Yesus adalah Allah yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Membuat mereka bangsa yang bebas, damai, sejahtera,” kata Suharyo.
Menurut Suharyo, Paskah adalah momen untuk menjadi bebas sebagai anak-anak Allah. Bagaimana kita dapat menjadi makna Paskah yang berarti bagi diri kita dan bangsa kita?
“Pada hari-hari ini tahun 2024, bagaimana media massa melaporkan perbudakan. Kejahatan perdagangan manusia, dengan tidak sedikitnya jumlah korban. Korupsi, kejahatan pencucian uang dengan angka yang mencengangkan. Kejahatan penghancuran lingkungan. Semua tindakan ini berasal dari keserakahan. Dalam semua aspek kehidupan, keserakahan merusak sistem-sistem masyarakat secara keseluruhan. Semua itu memperbudak orang secara fisik, mental, spiritual, dan komunal,” ujar Suharyo.
Pada waktunya, menurut Suharyo, keserakahan ini merusak diri sendiri dan kehidupan bersama.
Kardinal Suharyo menambahkan bahwa dalam kehidupan nasional, perayaan Paskah seharusnya mengingatkan umat Katolik untuk menemukan jalan, tidak hanya merayakan Paskah, tetapi menjadi orang Paskah yang terus diperbarui, membebaskan diri dari perbudakan, keserakahan, dan tumbuh menjadi anak-anak Allah yang merdeka.
“Respek terhadap martabat manusia, berpartisipasi dalam tanggung jawab atas kebaikan bersama, merawat dan memupuk semangat solidaritas dan subsidiaritas, memperhatikan orang yang kurang beruntung, dan melestarikan alam. Itulah lima ajaran pokok doktrin sosial Gereja yang membantu kita menjadi orang Paskah,” tutup Suharyo, mendesak semua orang untuk saling mendoakan agar, sebagai gantinya, umat Katolik dapat berusaha mengalirkan semangat solidaritas, subsidiaritas, dan semangat Kristus yang bangkit, mendorong semua orang untuk berbuat baik.









