“Rasa” Menurut S. Sudjojono
Jakarta – Rasa dan apa yang dihasilkan rasa adalah karya abadi bagi sejarah peradaban manusia.
Sabtu (3/12/22), di Museum Keramik, Kota Tua, Jakarta, diluncurkan S. Sudjojono The Immersive Experience.
Di dunia seni kontemporer, nama S. Sudjojono merupakan maestro seni rupa di awal abad modern Indonesia yang dikenal sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

“Kemanusiaan, tanpa kekerasan dan jika Anda mengerjakan sesuatu terjun dan jiwailah apa yang Anda kerjakan (jiwa ketok). Itulah ‘rasa’ menurut S. Sudjojono,” ujar Maya Sudjojono, puteri bungsu Maestro Sudjojono.
Latar belakang sebagai anak mantri, pernah mengalami perang, hingga mengalami sendiri perpisahan dengan Ayahnya karena kekerasan perang menjadi pembentuk karakter seni rupa yang dihasilkan Sudjojono.
Tinjauan Terkait: Jelang COP27 Mesir: Protes Iklim Menyasar Benda Seni dan Publik
”Karakter humanis dalam seni rupanya, penekanan pada tanpa kekerasan terbentuk karena dia anak mantri dan pernah lihat Eyang tertembak dan akhirnya meninggal saat perang kemerdekaan,” kata Maya.
Menurut Maya, bagi Sudjojono, ‘rasa’ itu harus soal jujur pada diri sendiri, memiliki visible soul, dan soal metransfer jiwa seniman itu ke dalam karya.
“Ada satu hal dari seni karya Bapak, tidak ada goresan cerita berdarah-darah meski dia itu pernah mengalami pengalaman kekerasan perang. Lewat karyanya Bapak mau memberi makna bahwa dendam bukanlah kehidupan manusia sesungguhnya,” kata Maya.
“Rasa”, Sudjojono Dan Generasi Muda
Menurut Maya, S. Sudjojono The Immersive Experience ingin mengajak publik generasi muda untuk memaknai makna tersimpan dari “rasa” itu.
“Digital mapping memang tidak bisa menggantikan lukisan asli. Event ini sebenarnya mau mengajak anak muda di era digital ini soal makna tersimpan dari karya-karya S. Sudjojono,”
Tinjauan Terkait: Dari Kongres PFI: Foto Dan Narasi Kemanusiaan
“Sebagai pelukis, Sudjojono sangat memerhatikan masalah regenerasi. Sepanjang kariernya ia memiliki perhatian besar dalam hal mendidik generasi baru pelukis Indonesia,” sebagaimana dalam Bondan Kanumoyoso pada buku Autobiografi Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya.
Selain pelukis, Sudjojono merupakan seseorang pemikir, pendidik, dan penulis yang produktif dengan karya mulai dari lukisan, sketsa, gambar, seni publik, pematung dan relief, serta karya keramik dan furnitur.






