TinjauAds
HabitusHeadline

Cerita Sherina Munaf Terjun Langsung Bantu Pemadaman Karhutla di Kalteng

Dibaca dalam waktu5 Menit, 27 Detik

Jakarta, tinjau.id – Artis Sherina Munaf terjun langsung membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Wisata Alam (TWA) Galeget Tiawu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (1/9/2026). Sherina dan tim selama tiga hari berada di Kalteng terjun langsung melihat kondisi karhutla, kabut asap yang tebal dan menyesakkan dada, dan ikut membantu bersama teman-teman di lapangan.

Sebelum mendarat, Sherina mengaku melihat kabut asap karhutla yang begitu pekat dari udara. Ia bahkan merasakan langsung asap masuk ke dalam pesawat. Kondisi tersebut membuatnya langsung mengenakan masker karena asap mulai membuat tenggorokannya terasa gatal.

Setibanya di Palangkaraya, Kalteng, Sherina langsung menuju Dinas Kehutanan dan bertemu dengan tim yang bekerja keras memadamkan api. Bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) atau Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, ia memberikan semangat sekaligus bantuan logistik kepada para petugas di lapangan.

Sherina juga mendatangi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk berkoordinasi dengan tim terkait titik api yang akan mereka kunjungi pada hari berikutnya.

Dalam perjalanan kembali ke tempat menginap, Sherina mendapat informasi mengenai sumber api di kawasan jalan lingkar luar yang sebelumnya sudah dipadamkan. Namun, ia masih melihat bekas kebakaran berupa lahan yang menghitam serta beberapa titik api yang kembali muncul.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Saya melihat impact yang sekecil itu saja, asapnya parah banget, dan tidak terbayang warga di sana tiap hari terdampaknya seperti apa,” tutur Sherina.

Keesokan harinya, Sherina mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF di Nyaru Menteng. Ia melihat langsung operasional sekolah hutan serta kondisi kandang dan orangutan yang terdampak asap.

Sherina juga mempelajari berbagai tindakan preventif yang dilakukan tim BOSF untuk melindungi sekitar 200 orangutan yang berada di pusat rehabilitasi tersebut.

Setelah mengunjungi Nyaru Menteng, Sherina bersama tim kembali bertemu dengan Dinas Kehutanan untuk memberikan bantuan logistik dan dukungan kepada petugas pemadam. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, mereka kemudian berangkat menuju Tambore, yang berjarak sekitar dua setengah jam perjalanan dari Palangka Raya.

Di lokasi tersebut, Sherina melihat kondisi kebakaran yang cukup parah. Petugas telah berulang kali memadamkan api, tetapi api kembali muncul, karena areal yang terbakar merupakan lahan gambut. Ia bahkan menyaksikan para petugas membuat sumur hingga sekitar pukul 03.00 dini hari untuk membantu proses pemadaman.

Kunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan

Pada hari kedua di Kalimantan Tengah, Sherina dan tim kembali mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF di Nyaru Menteng. Ia melihat orangutan yang keluar dari kandangnya sebelum menuju kawasan sekolah hutan.

Sekolah hutan merupakan tempat bagi anak-anak orangutan untuk belajar dan beradaptasi agar nantinya dapat kembali hidup liar di habitatnya. Sherina mengatakan para petugas yang menangani orangutan merupakan orang-orang yang memiliki keahlian khusus.

Menurutnya, tidak sembarang orang dapat memegang atau menggendong orangutan karena satwa tersebut merupakan hewan liar.

Setelah mengunjungi Nyaru Menteng dan melakukan penanaman pohon, Sherina bersama Dinas Kehutanan kembali menuju titik pemadaman di kawasan Hiu Putih.

Petugas sebelumnya telah memadamkan api di kawasan tersebut. Namun, bara api masih menyala di bawah permukaan tanah sehingga petugas harus terus melakukan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul ke permukaan.

Saat berada di lokasi, Sherina mengenakan masker dan kacamata renang karena asap masih sangat pekat. Bersama BOSF, ia memberikan bantuan kepada tim pemadam karhutla berupa oxycan, vitamin, masker, serta berbagai kebutuhan logistik lainnya.

Sherina juga menyampaikan apresiasi kepada para petugas atas kerja keras mereka. “Terima kasih atas kerja kerasnya. Jangan lupa jaga kesehatan dan kami selalu mendukung kerja keras teman-teman yang ada di lapangan,” ujarnya.

Selanjutnya, Sherina bersama tim dan BKSDA menuju TWA Galeget Tiawu setelah mendapat informasi bahwa api yang sebelumnya telah padam kembali muncul.

Di lokasi tersebut, petugas telah mengebor sumur sebagai salah satu upaya untuk membatasi pergerakan api. Sherina melihat banyak kawasan hutan yang gosong setelah petugas berupaya memadamkan api selama delapan hari.

Ia mengaku salut terhadap tim BKSDA yang terus bekerja menangani kebakaran tersebut. Petugas juga berencana menginap di lokasi untuk memantau perkembangan api karena masih terdapat kemungkinan munculnya titik api baru.

Setelah berada sekitar dua jam di lokasi, Sherina dan tim kembali. Dalam perjalanan, mereka melihat api kembali menyala di kawasan Bukit Rawi dengan langit yang berubah warna menjadi merah.

“Kita yang hanya tiga sampai empat jam di sana terasa sesak. Yang bisa kita upayakan adalah terus bahu-membahu  membantu memadamkan api, karena ini adalah hutan kita, dan sekarang hutan kita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hal ini berdampak ke masyarakat dan satwa yang ada di sekitarnya,” kata Sherina.

Ajak Mahasiswa Terlibat Padamkan Karhutla

Pada hari ketiga, Sherina mengunjungi Universitas Palangka Raya dan bertemu dengan rektor serta mahasiswa yang turut aktif membantu memadamkan api di kawasan hutan dekat kampus.

Ia mengatakan para mahasiswa telah berhari-hari bahkan berminggu-minggu membantu pemadaman. Mereka terkadang bekerja sejak pagi hingga malam.

“Kami dari BOSF membawa bantuan logistik untuk para pejuang di lapangan, ada oxycan, masker, vitamin dan lain sebagainya,” ujar Sherina.

Rektor Universitas Palangka Raya kemudian mengarahkan Sherina dan tim menuju Gedung Fakultas MIPA. Sekitar 200 meter dari gedung tersebut terdapat kawasan hutan yang terbakar.

Di lokasi itu, Sherina bertemu dengan para mahasiswa yang telah membantu memadamkan api sejak beberapa hari sebelumnya.

Sherina mengimbau mahasiswa dari berbagai universitas untuk ikut terlibat dalam upaya pemadaman karhutla. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa penting untuk melindungi dan melestarikan kekayaan alam Indonesia.

“Di sini ada mahasiswa yang sudah dari pagi sampai malam. Jadi kita butuh bantuan kalian,” ujarnya.

Sherina juga mengapresiasi semangat para mahasiswa yang turut membantu memadamkan api sekaligus menjaga lingkungan kampus mereka. “Luar biasa sekali effort mereka dalam memadamkan api yang ada dekat lingkungan kampus mereka,” katanya.

Sherina mengaku proses pemadaman karhutla di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Banyak batang kayu berada di atas lahan gambut yang sangat panas sehingga petugas harus mendinginkan area terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.

Dalam proses pemadaman, Sherina juga mendapat edukasi mengenai penggunaan sabun khusus yang merupakan inovasi Universitas Palangka Raya. Petugas mencampurkan sabun tersebut dengan air kemudian menyemprotkannya ke area terbakar untuk melakukan pembasahan kembali atau rewetting sekaligus memadamkan api.

Menurut Sherina, komponen dalam sabun tersebut dapat membantu mempercepat proses pemadaman api.

Sherina mengaku merasakan sendiri sulitnya memadamkan kebakaran di lahan gambut. Api yang telah dipadamkan dapat kembali menyala sehingga membuat petugas di lapangan menghadapi tantangan besar.

“Saya mengerti kadang-kadang yang di lapangan mendekati rasa putus asa, apalagi di area yang sangat mereka cintai. Jadi saya di sini bersama Powerful Voices ingin menyampaikan bahwa apa yang dilakukan para pejuang di lapangan ini sangat melelahkan,” tutur Sherina.

Ia mengatakan upaya pemadaman tersebut penting untuk memulihkan hutan, menjaga keanekaragaman hayati, serta melindungi kesehatan masyarakat. Menurutnya, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terus bertambah dan sejumlah relawan juga mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi tersebut.

“Bantuan kalian sangat diharapkan, mari kita pulihkan hutan milik kita semua ini bersama-sama,” tutup Sherina.

Back to top button