
TINJAU – Indonesia, melalui kehadiran Menteri Luar Negeri RI, Sugiono dalam KTT BRICS di Kazan, Rusia, pekan lalu, secara resmi menyatakan keinginan untuk bergabung dengan BRICS. Setidaknya Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa poin penting terkait peluang dan tantangan dalam bidang ekonomi dan geopolitik. BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, menawarkan potensi yang signifikan bagi Indonesia sebagai mitra ekonomi sekaligus wadah untuk memperkuat pengaruh diplomatik di tingkat global.
Salah satu daya tarik utama bagi Indonesia dalam bergabung dengan BRICS adalah peluang ekonomi yang luas. Menjadi bagian dari BRICS dapat membuka jalan bagi peningkatan investasi di sektor-sektor penting seperti manufaktur, energi, dan pertanian, sekaligus memperluas akses pasar. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki kesempatan untuk memanfaatkan jaringan perdagangan yang lebih luas yang disediakan oleh BRICS. Posisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam rantai pasokan global, didukung oleh pertumbuhan PDB yang stabil serta kebijakan yang proaktif dalam menarik investasi asing. Sebagai contoh, investasi Tiongkok dalam proyek infrastruktur di Indonesia yang mencapai lebih dari $40 miliar dalam lima tahun terakhir menunjukkan potensi kolaborasi yang dapat diperluas dalam kerangka kerja BRICS.
Selain manfaat ekonomi, bergabung dengan BRICS juga memiliki nilai strategis dalam geopolitik. Keanggotaan dalam blok ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan pengaruhnya di arena internasional, khususnya di kalangan negara berkembang. Dalam diplomasi, bergabung dengan BRICS memungkinkan Indonesia untuk secara aktif terlibat dalam diskusi dan negosiasi terkait isu-isu global yang relevan dengan negara-negara Global South. Menteri Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa BRICS dapat berperan sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama negara berkembang, seperti ketahanan pangan dan energi. Pernyataan ini sejalan dengan aspirasi Indonesia untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan mendorong reformasi sistem multilateral agar lebih inklusif.
Ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam upaya menjadi bagian dari BRICS. Walaupun menjadi mitra BRICS memberikan sejumlah keuntungan, status sebagai mitra belum setara dengan anggota penuh. Negara mitra tidak memiliki hak suara dan partisipasinya dalam pengambilan keputusan BRICS terbatas. Hal ini berarti Indonesia mungkin tidak memiliki pengaruh sebesar negara anggota penuh, meskipun tetap dapat berpartisipasi dalam proyek tertentu. Untuk memaksimalkan manfaat dari hubungan ini, penting bagi Indonesia untuk mengoptimalkan kerja sama diplomatik yang sudah terjalin dengan negara anggota BRICS seperti Tiongkok dan Rusia agar kolaborasi ini benar-benar memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional.
Keputusan Indonesia untuk menjadi mitra BRICS adalah langkah strategis yang membuka akses pada jaringan negara besar dan memungkinkan partisipasi dalam diskusi mendalam mengenai isu-isu global yang relevan bagi negara berkembang. Langkah ini juga selaras dengan kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia, yang memungkinkan Indonesia untuk tidak berpihak pada negara mana pun, namun tetap aktif dalam berbagai forum internasional.
Partisipasi dalam BRICS juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi praktik terbaik dari negara anggota lainnya dalam hal pengelolaan sumber daya alam, penerapan teknologi hijau, dan penguatan ketahanan pangan. Langkah ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi multilateral yang inklusif, sehingga keanggotaan BRICS diharapkan mampu meningkatkan daya tawar Indonesia dalam negosiasi internasional. Dengan demikian, Indonesia dapat mempromosikan kepentingan nasionalnya dalam forum global seperti PBB dan WTO, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemimpin regional di kawasan Asia Tenggara.
Penulis: Aurellia Amanda Putri, Valencia Eklesia Sianipar, Alexander Nicholas Ressflor Nunumete, Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia.
Tinjauan adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









