TinjauAds
Beraja SenjaPilihan RedaksiTinjau

Bapakku

Dibaca dalam waktu7 Menit, 46 Detik

TINJAU – Aku diam saja ketika seorang laki-laki tua menghampiriku.

Dengan mata berbinar dan senyum berkembang, ia begitu bersemangat mendekatiku. Badannya digoyang-goyangkan seperti separuh menari. Ada sedikit nyanyian kecil, tapi dalam bentuk gumam terdengar dari mulutnya.

“Halo, manis… Apa kabar? Nggak kangen sama Bapak?” laki-laki itu langsung memelukku kencang. Dan, astaga! Dia masih kuat menggendongku. Padahal dari bentuk badannya yang kecil, kupikir ia tidak akan kuat lagi menggendongku.

Entah kenapa, aku menerima perlakuannya tersebut. Malah kok rasanya aku senang sekali dengan kehadirannya.

“Kamu tambah sehat, Nak. Bapak hampir jatuh karena mennggendongmu. Tambah berat,” komentarnya lagi. Mukanya tetap sumringah. Digoyangkan-goyangkannya badanku sembari sesekali menggelitikkan tangan ke arah pinggangku.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Geli.

Tapi, sungguh aku menyukai perlakuannya ini. Hingga akhirnya ia menjatuhkan aku ke sofa ruang tamu nan empuk. Di sana kami bergumul senang sambil tertawa-tawa. Sesekali ia menghujaniku dengan ciuman di pipi. Ia tak kan melepaskan ciuman itu jika belum mendengar kata “Ampun Bapak”, dari mulutku.

Namun, sekali lagi aku benar-benar menyenangi kegiatan ini.

Sementara mata Mama masih terlihat aneh. Aku tidak tahu menyebutkan bagaimana atas pandangan mata itu. Antara terlihat senang dan tidak. Tapi, yang jelas dia membiarkan aku dan Bapak bergumul senang, tertawa-tawa dan bercerita entah apa saja.

Aahhh… Bahagia sekali aku rasanya.

^^^^^

Setiap kali Bapak pulang, ada dua hal yang aku suka. Pertama dia pasti akan membawa banyak oleh-oleh untukku, kedua dia pasti akan membuatkanku masakan yang enak-enak. Selalu begitu. Soal memasak, Mama kan tidak pernah masak yang enak buatku. Dia pasti menyediakan makanan seadanya. Kalau dia lagi mau saja, baru memasakkan masakan kesukaanku. Sisanya…, paling gampang goreng ceplok saja.

Beda dengan Bapak.

Dia bisa memasakkanku macam-macam masakan. Bahkan tak jarang kami memasak bersama. Bapak mengajarkanku banyak resep masakan. Asyik sekali.

Bapak juga seorang yang ahli membetulkan banyak hal. Sepedaku yang telah lama tergeletak di gudang, segera ia betulkan. Tentu saja, membuatku senang karena bisa bermain sepeda lagi tiap sore setelah mandi sore sebelum makan. Bapak juga turut berkeliling kampung dengan mengikuti laju sepedaku. Dia masih kuat lho untuk mengejar laju sepedaku kalau terlalu cepat.

Tanpa sungkan juga, Bapak mau mencuci bajuku dan bajunya. Kalau Bapak mencuci, aku akan jongkok di dekatnya. Kami bercerita banyak hal. Kadang-kadang malah main air. Dia tidak peduli kalau Mama justru tidur-tiduran atau pergi entah kemana.

Kalau aku sekolah, Bapak menyiapkan sarapan lalu mengantarkanku sekolah. Jika ia tidak ada janji dengan orang lain, ia akan menungguiku hingga kelar sekolah. Dari balik jendela, kadang Bapak melambaikan tangan seperti ingin memberitahu bahwa dia tetap setia menungguiku.

O ya, hobi Bapakku membaca. Jadi, di sela ia menungguiku, ada beberapa buku yang dia baca. Kesenanganku membaca bisa jadi menurun darinya juga.

Selama Bapak di rumah, tiap malam pun Bapak akan mendongengkanku banyak cerita. Satu hal lain yang tidak pernah dilakukan Mama. Bapak tidak akan selesai mendongeng kalau belum yakin aku telah tertidur lelap.

Pokoknya, saat Bapak pulang adalah saat dimana aku merasa bahagia dan senang selalu.

“Bapakmu dateng ya, Wi?” tanya Dinda temanku.

“Iya,” jawabku senang. Kubuka tas sekolahku lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam.

“Bapakmu bawa apa?” kepala Dinda melongok-longok melihat apa yang sedang kukeluarkan. Matanya berbinar begitu tahu apa yang aku perlihatkan padanya.

“Ini. Buku cerita bergambar. Bagus-bagus deh gambarnya,” aku berpromosi bangga. Kuperlihatkan isi buku tersebut. Dinda terlihat terkagum-kagum. Pasti karena dia tidak punya jenis buku ini. Buku ini memang dibelikan Bapak khusus buatku.

“Boleh aku pinjam nggak?” rengek Dinda.

Kepalaku menggeleng-geleng. Segera kudekap buku cerita tersebut. Aku tidak mau buku itu ke tangan Dinda meski tadi dia merengek-rengek. Muka Dinda cemberut. Sepertinya mau menangis. Tapi, aku tidak peduli. Buku ini kan dibeli Bapak untukku. Bukan untuk yang lain.

Mataku rasanya tidak mau berkedip. Pemandangan di depan tidak menyenangkan. Ingin rasanya aku menerobos kerumunan di depan lalu melabrak dua orang itu. Aku tidak mau Bapakku jadi begitu dekatnya dengan Mamannya Dinda. Pasti itu karena Dinda mengadu karena tidak dibolehkan meminjam buku cerita tadi.

Huh.

Beraninya mengadu pada Mamanya.

Tapi…, hei…, kenapa Bapak mengelus-elus rambut Dinda. Memangnya Dinda menangis karena peristiwa tadi yang dia adukan? Akh, cengeng. Aku jadi makin benci pada Dinda. Cara dia mencari perhatian Bapak tidak aku suka. Benar-benar tidak aku suka. Tangan kukepal sendiri dan nafasku tersengal-sengal menahan marah.

Apa pun yang terjadi, aku tidak mau Bapakku diambil orang.

Tidak boleh.

Bapakku ada milikku. Bukan milik yang lain.

“Halo, manis… Ayo kita pulang…,” suara Bapak mendadak sudah ada di sebelahku.

Aku tidak menanggapi ajakan Bapak. Diam saja. Mukaku malah cemberut. Bapak nampanya mengerti. Dia menggodaku sembari berusaha mencari perhatian.

“Pasti kamu nggak seneng Bapak ngobrol sama Mamanya Dinda ya? Tadi Dinda minjem buku cerita, nggak kamu kasih ya?” tanya Bapak lagi. Aku tetap tidak memberi jawab.

“Kok diam saja?” Bapak nyaris putus asa. “Ya sudah, kalao anak Bapak satu ini masih ngambek, Bapak mau sendirian naik andong deh…”

Mendadak kupingku berdiri.

Naik andong?

Oohh…, itu kan keinginan lamaku yang sudah kuangan-angankan sejak Bapak belum datang. Wah, bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan itu.

Langsung saja, begitu Bapak beranjak dari duduk, aku berdiri dan mengejar Bapak yang sudah mendahului, “Bapak….”

^^^^^

Bapakku itu orang pintar. Titelnya berderet di belakang dan di depan namanya. Ilmunya banyak yang ia dapat dari banyak tempat pula. Sejak muda, Bapak memang senang bersekolah. Aku pun ingin seperti dia. Jadi orang pintar.

Beberapa waktu lalu, Bapak bertemu Mama. Dari perkenalan ini, entah bagaimana mereka menjalin hubungan dan lahirlah aku.

Aku masih samar kenapa setelah tak lama aku lahir Bapak meninggalkanku. Yang jelas tiap kali Bapak dan Mama bertemu, mereka selalu bertengkat. Padahal selama ini, Bapak tidak pernah telat mengirim duit.

Aku dengar suara gaduh di luar. Suara Bapak dan Mama sedang bertengkar hebat. Aku tidak tahu ini sudah jam berapa, tapi tadi sinetron reliji di tivi sudah selesai. Biasanya setelah acara itu diputar film bioskop.

Telingaku yang semula tertutup bersama kantuk, tiba-tiba jadi terbuka lebar mendengar kegaduhan di luar. Tidak terlalu jelas memang apa yang dikatakan Bapak dan Mama, tapi yang jelas suara meninggi itu makin terdengar di telinga.

Aku tidak tahan mendengar keributan itu. Kuhempaskan selimut yang tadi Bapak tarik sesaat mataku mengatup. Pelan aku keluar kamar lalu mengintip dari balik tembok pemisah ruang makan dan ruang tamu. Nampak Mama sedang menunjuk-nunjuk Bapak.

“Kamu pikir membesarkan anak itu enak apa? Tiap hari mendengarkan tangisan dan rengekan dia benar-benar membuatku pusing. Kamu kan tidak setiap hari merasakan hal itu.” Suara Mamaku mengeras.

“Yang bilang enak juga siapa? Aku bekerja mati-matian juga demi anakku. Kamu kira darimana kamu dan anakku bisa hidup kalau bukan karena aku bekerja?” Bapak sepertinya tidak mau kalah.

“Tapi, kamu bela-belain bekerja begitu belum cukup.”

“Belum cukup bagaimana?”

“Belum cukup karena anakmu itu statusnya tidak mempunyai Bapak. Tidak tertera di akte kelahirannya.”

“Lho, bukankah itu sudah kesepakatan kita bersama? Apa kamu lupa, kamu sendiri yang menyetujui bahwa kamu akan melahirkan anakku tanpa harus terikat pernikahan?”

“Ya. Itu dulu. Tapi, sekarang anakmu itu sudah besar. Sudah bisa bertanya siapa bapaknya sebenarnya…”

“Aku Bapaknya. Bukan yang lain. Kamu tahu itu.”

“Iya, tapi…”

“Bapak…” Entah kenapa aku tiba-tiba menghambur kepada pelukan Bapak. Dan, Bapak langsung menangkap pelukanku. Tanpa ragu kupeluk kencang Bapakku. Tidak kupedulikan Mama yang menatap penuh amarah. Baru kali ini kulihat ia seperti itu. Apakah aku salah kalau memeluk Bapakku seperti ini?

Bapak nampaknya tidak peduli. Ia menanggapi pelukanku.. Perlahan ia menurunkan tubuhnya hingga separuh terjongkok supaya bisa sama tinggi dengan tinggu badanku.

“Kamu terbangun karena ribut ya, Nak?” tanya Bapak halus. Kepalaku mengangguk-angguk. Bapak kembali membenamkan kepalaku dalam pelukannya. Aku merasa tenang setelah tadi merasa gundah.

“Maafkan Bapak ya, Nak. Bapak nggak bermaksud membangunkanmu.” Bapak menuntunku untuk duduk di kursi dekat situ. Di pangkunya aku sembari mengelus-elus kepalaku. Dengan muka tak suka, Mama masuk ke dalam.

“Kamu pasti mendengar apa yang dikatakan Mama dan Bapak ya? Akh, harusnya nggak perlu kamu mendengar hal-hal itu ya. Maafkan lagi untuk hal itu yaaa…” Aku diamkan saja Bapak bicara begitu. Mataku mulai berat lagi terasa. Sedikit-sedikit terasa mengatup.

“Asal kamu tahu, Nak… Kamu adalah anak Bapak. Tidak ada orang yang dapat mengubah atau bahkan menolak hal itu. Biar Bapak sekarang harus jauh darimu dalam waktu lama sebagai TKI, itu Bapak lakukan karena Bapak ingin memberi yang terbaik buatmu, buat masa depanmu. Nggak ada niat Bapak untuk meninggalkanmu.”

Entah kenapa, kepalaku sudah tidak kuat. Segala cerita Bapak barusan seperti dongeng yang menina bobokanku. Terkulailah daku dalam hangat pelukan Bapak.

“Biar Mamamu selalu menuntut hal yang tidak bisa Bapak penuhi, tapi untukmu Bapak akan melakukan apa saja. Buat Bapak, kamu adalah segalanya, Nak. Kamu bagian dalam diri Bapak. Dan, Bapak akan bertanggungjawab sepenuhnya untuk itu. Mungkin kali ini kamu belum mengerti, tapi catat baik-baik, Anakku sayang…, sampai kapan pun cinta dan sayang Bapak padamu tidak ada yang bisa menggantikan. Tidak akan pernah. Kelak setelah kau dewasa, kau akan mengerti apa yang Bapak katakan ini.”

Aku tidak mendengar apa-apa lagi begitu kutahu alamku sudah berganti tempat. Yang kurasa, aku seperti ada di sebuah taman luas berlari senang, mengelilingi taman indah itu. Dan, tepat di tengah taman, tersedia kue tar besar dengan lilin berjumlah 20. Ooohh…, bukankah itu adalah 15 tahun setelah sekarang?

^^^^^


Penulis: Anjar Anastasia

Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button