TinjauAds
HeadlineLouder With Carlos

Hidup Suci Hari Ini Itu Mungkin: Belajar dari Frassati dan Acutis

Dibaca dalam waktu6 Menit, 2 Detik

TINJAU, Pontianak – Pada tanggal 7 September 2025, hari ini, di jantung Gereja Katolik, Lapangan Santo Petrus, dunia menyaksikan sebuah perayaan iman yang unik: kanonisasi bersama dua orang muda Katolik, Carlo Acutis dan Pier Giorgio Frassati. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni liturgis, tetapi sebuah pesan profetis bagi Gereja universal dan bagi dunia: kesucian bukanlah milik masa lampau atau orang-orang tertentu, melainkan sebuah panggilan yang mungkin dan mendesak bagi setiap orang pada zaman ini.

Kedua santo baru ini, meski hidup di zaman yang berbeda—Frassati di awal abad ke-20 dan Acutis di awal milenium digital—menunjukkan wajah yang sama: wajah seorang muda yang mencintai Kristus, menaruh kepercayaan total pada Allah, dan menjadikan iman bukan hiasan, melainkan tenaga yang mengubah cara hidupnya.

Carlo Acutis adalah seorang remaja yang lahir pada 1991 dan meninggal dunia pada usia 15 tahun akibat leukemia. Hidupnya singkat, tetapi padat makna. Ia tidak pernah menulis buku teologi, tidak mendirikan ordo religius, bahkan tidak mengalami perjalanan misi lintas benua. Tetapi ia mempunyai cinta mendalam pada Ekaristi. “Untuk selalu bersatu dengan Yesus, itulah rencana hidupku,” katanya pada usia tujuh tahun, segera setelah komuni pertamanya. Ia melihat Ekaristi bukan sekadar ritus, tetapi energi ilahi yang menuntun seluruh jalan hidupnya. Dengan bakat komputernya, Carlo menyusun pameran digital tentang mukjizat Ekaristi di seluruh dunia. Pameran itu kini sudah menjangkau lima benua, membangkitkan iman ribuan umat, dan terus mengalir meski Carlo sendiri sudah tiada. Inilah saksi bahwa “orang yang menghadap Ekaristi akan menjadi kudus,” sebagaimana ia ucapkan semasa hidupnya.

Pier Giorgio Frassati, sebaliknya, adalah sosok muda dari keluarga berada di Turin, Italia. Ia gemar mendaki gunung, bersosialisasi dengan teman-temannya, tetapi juga rajin turun ke jalan-jalan kota untuk merawat orang miskin, tuna wisma, para prajurit yang kembali dari Perang Dunia I, dan orang sakit. Frassati dikenal karena kerendahan hatinya: ia tidak ingin kemuliaan duniawi, tetapi memandang hidupnya sebagai “pendakian menuju puncak”—Verso l’Alto. Ia meninggal pada usia 24 tahun karena polio, penyakit yang diyakini ia peroleh saat merawat orang miskin yang sakit. Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai “manusia delapan sabda bahagia.” Frassati hidup seolah-olah Injil bukan lagi teks yang harus dibaca, melainkan sebuah kehidupan yang dijalani.

Kehidupan mereka meneguhkan pesan Kitab Suci. Rasul Petrus berkata: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:15–16). Kekudusan bukanlah pengecualian, melainkan panggilan normal setiap orang beriman. Dalam Injil, Yesus menegaskan ukuran kekudusan bukanlah ritualisme, melainkan kasih yang konkret: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku” (Mat 25:40). Frassati menghidupi ayat ini dengan turun langsung membantu yang miskin; Carlo menghidupinya dengan menjadikan talenta digitalnya sebagai sarana memperkenalkan Kristus.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Kedua orang muda ini juga memperlihatkan bagaimana Ajaran Sosial Gereja bukan sekadar dokumen, melainkan inspirasi hidup nyata. Gaudium et Spes mengingatkan bahwa “kegembiraan dan harapan, kesedihan dan kecemasan orang-orang zaman sekarang adalah juga kegembiraan dan harapan, kesedihan dan kecemasan para murid Kristus.” Maka iman tidak boleh berhenti di altar; ia harus masuk ke dunia nyata, ikut memikul beban masyarakat. Compendium of the Social Doctrine of the Church menegaskan prinsip “preferential option for the poor,” yakni keberpihakan pada mereka yang paling lemah sebagai tanda kesetiaan pada Kristus. Frassati menjawab panggilan ini dengan hidup bersama kaum miskin. Sementara itu, Caritas in Veritate mengingatkan bahwa cinta dan kebenaran harus berjalan bersama: amal tidak cukup, harus ada upaya memperbaiki struktur sosial. Carlo memberi kesaksian bahwa teknologi dapat dipakai bukan untuk memperkuat egoisme, tetapi untuk membangun iman dan solidaritas.

Bagaimana dengan konteks Indonesia? Di negeri ini, kita menyaksikan betapa ketimpangan sosial-ekonomi masih lebar. Ada banyak Frassati yang dibutuhkan, yang mau keluar dari kenyamanan untuk menemani mereka yang miskin, tersingkir, dan terpinggirkan. Banyak orang muda Katolik di Indonesia yang sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk menghidupi solidaritas itu: lewat kegiatan sosial di paroki, keterlibatan dalam advokasi kebijakan publik, hingga pelayanan di daerah terpencil. Kesucian dalam konteks Indonesia berarti berani hadir di tengah luka bangsa: membela buruh yang haknya terampas, mendampingi masyarakat adat yang lahannya digusur, atau melayani anak-anak putus sekolah di pelosok negeri.

Indonesia juga sedang berada di tengah krisis ekologis. Eksploitasi alam, tambang yang merusak, dan pencemaran lingkungan menjadi realitas sehari-hari. Laudato Si’ menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga. Maka, kesucian hari ini tidak bisa dilepaskan dari ekologi integral. Menjadi kudus berarti juga mengurangi gaya hidup konsumtif, peduli pada kelestarian lingkungan, dan berjuang agar pembangunan tidak melukai manusia maupun bumi. Dalam semangat Frassati, yang penuh cinta pada sesama, dan dalam terang Caritas in Veritate yang menyerukan pembangunan integral, umat Katolik Indonesia diajak menjadikan iman sebagai energi untuk melawan ketidakadilan ekologis.

Di sisi lain, generasi muda Indonesia hidup di dunia digital yang sangat cepat. Media sosial membawa banyak peluang, tetapi juga risiko: hoaks, ujaran kebencian, pornografi, polarisasi politik. Dalam konteks ini, Carlo Acutis adalah saksi yang relevan. Ia mengingatkan kita bahwa teknologi bukan musuh iman, melainkan bisa menjadi saluran rahmat bila dipakai dengan benar. Kaum muda Katolik Indonesia dapat belajar dari Carlo: bagaimana membuat konten digital yang mendidik, menyebarkan kebaikan, menginspirasi iman, dan melawan arus banalitas. Gereja di Indonesia sebaiknya tidak takut masuk ke dunia digital—justru di sanalah jiwa-jiwa muda kini banyak hadir.

Kesucian, maka, bukanlah sesuatu yang jauh. Ia hadir dalam hal-hal kecil: seorang mahasiswa yang memilih jujur dalam ujian meski itu berarti nilai lebih rendah; seorang pengusaha yang menolak suap meski risiko usahanya tertunda; seorang anak muda yang menolak menyebarkan berita bohong di grup WhatsApp keluarga; sebuah paroki yang tidak berhenti pada program bakti sosial tahunan, tetapi membangun koperasi atau sekolah bagi mereka yang miskin. Kesucian juga hadir ketika Gereja berani bersuara melawan kebijakan publik yang menindas rakyat kecil atau merusak lingkungan, meski konsekuensinya tidak populer.

Carlo dan Frassati menegaskan bahwa kekudusan adalah jalan yang realistis, bukan utopia. Carlo hidup di tengah kesibukan sekolah, dunia komputer, game, bahkan hewan peliharaan yang ia cintai. Frassati hidup di tengah sahabat-sahabatnya, kegiatan olahraga, dan dinamika keluarga yang tidak selalu harmonis. Namun keduanya memilih menjadikan Kristus sebagai pusat, dan dari sanalah lahir buah kesucian.

Hari ini, di Indonesia, kesucian itu mungkin diwujudkan dengan menjadi guru yang setia melayani murid-murid miskin di pedalaman; menjadi tenaga kesehatan yang jujur melayani pasien tanpa pilih kasih; menjadi aktivis muda yang berani bersuara untuk lingkungan hidup; atau menjadi content creator yang menginspirasi orang untuk mencintai keadilan dan kebaikan.

Pesan dari kanonisasi ini sederhana sekaligus radikal: kesucian adalah untuk semua. Ia tidak mengenal usia, profesi, atau zaman. Santo Carlo Acutis dan Santo Pier Giorgio Frassati hanyalah dua contoh bahwa jalan kekudusan bisa ditempuh siapa saja yang berani menghidupi kasih dengan total.

Maka doa kita sederhana: “Tuhan, ajarilah kami hidup sederhana seperti Frassati, mencintai Ekaristi seperti Carlo, dan menjadikan iman kami tenaga yang mengubah dunia.” Kesucian hari ini mungkin, bila kita sungguh mau. Verso l’Alto—menuju ketinggian—bukan sekadar semboyan, tetapi ajakan nyata untuk melangkah bersama Kristus dalam kehidupan sehari-hari.


Penulis: Michael Carlos Kodoati, Founder Tinjau.id.

Louder With Carlos adalah rubrik khusus TINJAU.ID yang ditulis oleh Pendiri Tinjau, Michael Carlos Kodoati atau Carlos. Carlos mendirikan Tinjau pada November 2022. Kini Carlos menetap di Polandia dan tetap menulis catatan-catatannya dan banyak hal tentang perjalanannya untuk Tinjau.

Back to top button