TinjauAds
HabitusHeadline

Keberadaan 5 Jurnalis yang Hilang Belum Diketahui, Tim SAR Terus Optimalkan Pencarian

Dibaca dalam waktu3 Menit, 30 Detik

TINJAU, Jakarta – Tim SAR gabungan masih belum menemukan lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Hingga hari ketiga pencarian, Kamis (10/9/2026) pagi, keberadaan delapan orang tersebut masih belum diketahui.

Tim SAR gabungan terus mengoptimalkan pencarian hari ini dengan mengerahkan sekitar 360 personil di titik-titik yang telah ditentukan. TIM SAR gabungan terdiri dari Basarnas Banten dan TNI/Polri  dengan membagi tim menjadi beberapa Search and Rescue Unit (SRU) di sejumlah sektor. Petugas juga mengoptimalkan seluruh unsur dan sarana yang tersedia.

Seperti diberitakan, lima jurnalis tersebut sebelumnya berangkat menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Speedboat yang membawa mereka bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB.

Kelima jurnalis itu yakni M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Rombongan terakhir kali berkomunikasi sekitar pukul 15.04 WIB. Sebelumnya, salah satu jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi terakhir pada pukul 14.42 WIB.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Di hari kedua pencarian, Rabu (9/9/2026) kemarin, Tim SAR gabungan memulai pencarian pada  pukul 07.00 WIB dengan melibatkan sekitar 250 personel. Petugas membagi wilayah operasi menjadi lima sektor pencarian.

Kasi Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto mengatakan tim memperluas wilayah pencarian berdasarkan hasil SAR Mission Planning (SARMEP). “Hasil SARMEP mengarah ke barat daya dari Pulau Gunung Anak Krakatau,” kata Rizky.

Berdasarkan pembagian sektor tersebut, tim SAR menyisir area dengan total jarak sekitar 271 nautical mile atau sekitar 502 kilometer.

Dalam proses pencarian, petugas juga menghadapi abu vulkanik yang masih memenuhi sejumlah wilayah perairan Selat Sunda. Kondisi tersebut membuat awak kapal menyesuaikan jalur pelayaran dengan arah angin untuk menghindari paparan abu vulkanik secara langsung.

“Abu vulkanik masih tebal di perairan Selat Sunda. Namun kapal melaju mengiringi arah angin, jadi tidak kena abu vulkanik,” kata anggota tim SAR gabungan dari RIB 02, Ahmad Taufiq.

Tim SAR  juga menyisir sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk Rakata dan Pulau Panjang. Wilayah tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau yang merupakan area bahaya dan terlarang bagi masyarakat saat gunung berada pada Status Level III atau Siaga.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan tim melakukan penyisiran secara maksimal untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.

“Hari kedua ini kami memperluas area pencarian dengan membagi tim menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor. Seluruh sarana dan unsur yang terlibat kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” kata Al Amrad di Pandeglang, Rabu (9/9/2026).

Pada pencarian hari kedua, KN SAR Tetuka 247 menyisir Sektor 2 dengan jarak 68,3 nautical mile (NM), sedangkan KAL Anyer menyisir area yang sama sejauh 69,5 NM.

RIB 02 dan RIB 03 Lampung menyisir Sektor 1 dengan total jarak 67 NM. Tim memantau kondisi perairan dan melakukan penyisiran visual di sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga kawasan Krakatau.

RIB 02 Banten juga menyisir sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang. Sementara itu, KP Sanjaya menyisir Sektor 4 dengan jarak 67,3 NM. KRI Leuser dan KRI Lepu turut melakukan pencarian di sektor yang telah ditentukan.

Petugas juga memantau secara visual kawasan Gunung Anak Krakatau dan Rakata Besar. Namun, hingga Rabu sore pukul 17.07 WIB, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan para korban.

Operasi SAR hari kedua melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten dan Lampung, USS Pandeglang, USS Merak, TNI, Polri, BPBD, KSOP, potensi SAR, media, keluarga korban, nelayan, serta masyarakat.

Terkendala Cuaca

Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan kondisi cuaca dan gelombang tinggi menjadi salah satu kendala dalam proses pencarian.

“Kami terus memonitor tim yang ada di lapangan. Kondisi cuaca, angin cukup kencang dan gelombang sekitar satu sampai dua meter. Kami terus memantau perkembangan pencarian dari posko di Carita,” kata Hengki, Rabu (9/9/2026).

Hengki juga meminta masyarakat dan nelayan di sekitar Selat Sunda segera melapor kepada petugas jika menemukan benda mencurigakan atau benda terapung di laut yang diduga berkaitan dengan rombongan tersebut.

“Apabila masyarakat atau nelayan menemukan benda-benda mencurigakan atau benda yang terapung di laut, segera informasikan kepada petugas atau posko kami yang berada di Carita. Informasi tersebut akan membantu tim untuk segera melakukan pengecekan dan langkah pencarian,” ujarnya. *

 

Back to top button