Di Tengah AI dan Fintech, Dunia Perbankan Justru Semakin Membutuhkan Filsafat
TINJAU, Pontianak | Kemajuan teknologi telah mengubah wajah industri perbankan secara drastis. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), financial technology (fintech), cryptocurrency, hingga sistem keamanan digital yang semakin kompleks telah menciptakan berbagai peluang baru sekaligus tantangan yang tidak sederhana.
Namun di tengah transformasi tersebut, Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB GAK) Pontianak, Stanislaus, S.E., M.Pd., menilai ada satu hal yang justru semakin dibutuhkan oleh dunia perbankan modern, yakni filsafat.
Pandangan itu akan disampaikannya sebagai panelis dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak tersebut menghadirkan dua akademisi filsafat terkemuka, yaitu Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen STF Driyarkara Jakarta.
Menurut Stanislaus alias Andes, banyak orang masih memandang filsafat sebagai disiplin ilmu yang jauh dari dunia bisnis dan industri.
Padahal dalam praktiknya, berbagai persoalan yang muncul dalam sektor keuangan justru berkaitan erat dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai etika, tanggung jawab, keadilan, dan tujuan dari aktivitas ekonomi itu sendiri.
“Tema seminar ini sangat relevan dengan perkembangan industri perbankan saat ini. Di era digital, perbankan tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, integritas moral, dan tanggung jawab intelektual,” ujarnya, (25/06).
Andes menjelaskan bahwa setiap keputusan yang diambil dalam industri perbankan memiliki konsekuensi yang luas. Karena itu, seorang profesional keuangan tidak cukup hanya memahami regulasi dan prosedur operasional, tetapi juga harus mampu mempertimbangkan dampak sosial dan etis dari setiap kebijakan yang dibuat.
Dalam dunia perbankan, misalnya, keputusan pemberian kredit bukan hanya soal menghitung risiko dan keuntungan. Di dalamnya terdapat pertimbangan mengenai keberlanjutan usaha, kemampuan nasabah memenuhi kewajibannya, serta dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan bagi masyarakat.

“Filsafat membantu membentuk pola pikir yang rasional, reflektif, dan bijaksana. Seorang bankir harus mampu melihat lebih jauh dari sekadar angka-angka yang ada di atas kertas,” katanya.
Menurut Andes, tantangan terbesar yang dihadapi dunia perbankan saat ini bukan hanya perubahan teknologi, melainkan bagaimana menjaga nilai-nilai integritas di tengah perubahan tersebut. Berbagai kasus fraud, manipulasi data, maupun penyalahgunaan kewenangan yang terjadi di sektor keuangan menunjukkan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup.
Dia menilai bahwa akar dari banyak persoalan tersebut justru terletak pada lemahnya karakter dan kesadaran etis para pelaku.
“Kepercayaan adalah fondasi utama industri perbankan. Banyak kasus terjadi bukan karena orang tidak pintar, tetapi karena mereka kehilangan integritas. Di sinilah pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya.
Karena itu, Andes mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pengembangan kompetensi profesional, tetapi juga memberi ruang yang memadai bagi pembelajaran filsafat, etika, dan humaniora.
Menurutnya, pendidikan tinggi harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi dan memahami sistem keuangan, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadap dampak sosial dari setiap inovasi yang mereka gunakan.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika sektor perbankan dihadapkan pada perkembangan AI, fintech, dan cryptocurrency. Teknologi memang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi tanpa kemampuan reflektif, masyarakat berisiko kehilangan kendali terhadap arah perkembangan teknologi itu sendiri.
“Mahasiswa perlu belajar bahwa keberhasilan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghitung laba atau membaca laporan keuangan. Mereka juga harus memahami manusia, masyarakat, dan nilai-nilai moral yang mendasari aktivitas ekonomi,” katanya.
Lebih jauh, Andes menilai bahwa perguruan tinggi sejatinya merupakan tempat lahirnya para pemimpin masa depan.
Dalam dunia perbankan, pemimpin yang dibutuhkan bukan hanya sosok yang mampu mencapai target bisnis, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab sosial.
“Filsafat memberikan dasar untuk membangun kepemimpinan yang berorientasi pada nilai, bukan semata-mata keuntungan,” tegasnya.
Baginya Unika San Agustin berupaya mempertemukan dunia filsafat dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk ekonomi dan perbankan. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog yang memperkaya cara pandang sivitas akademika mengenai masa depan pendidikan tinggi di tengah perubahan zaman.
Bagi Andes, filsafat bukanlah warisan masa lalu yang kehilangan relevansi. Sebaliknya, di tengah dunia yang semakin kompleks, cepat, dan terdigitalisasi, filsafat justru menjadi fondasi yang membantu manusia tetap berpikir jernih, bertindak etis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
“Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi kebijaksanaan tetap dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)









