Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXVIII, 13 Oktober 2024: Terbuka pada Sabda Allah
TINJAU – Pada suatu hari, ada beberapa umat datang kepada saya dan bercerita bahwa mereka tidak suka dengan seorang romo yang sedang menjalani tugas perutusan di paroki mereka. Ketika saya bertanya apa yang menjadi alasan mereka tidak suka, bahkan membenci romo ini, mereka menjawab bahwa kata-kata romo tersebut cukup keras, baik saat homili, memberikan renungan, maupun saat bertegur sapa. Bagi mereka, sering kali tersindir dan tersinggung oleh kata-kata romo itu. Saat saya bertanya lebih lanjut, saya semakin memahami bahwa sebenarnya yang dilakukan oleh romo tersebut bukanlah bermaksud menyinggung, melainkan hendak memberikan pemahaman dan penyadaran bahwa apa yang telah mereka perbuat adalah suatu kesalahan. Namun, beberapa umat ini tidak terima dengan perkataan atau nasihat dari romo itu.
Rupa-rupanya, hal semacam ini juga terjadi dalam hidup rohani kita. Sering kali, kita tidak mau membuka dan membaca Kitab Suci karena kita akan selalu menemukan ayat-ayat yang tidak mengenakkan, bahkan ayat-ayat yang seolah-olah menampar kenyataan diri kita dengan keras. Tak jarang pula, kita hanya mencari ayat-ayat yang mendukung apa yang selama ini kita lakukan, entah tindakan yang baik atau tidak. Oleh karena itu, Kitab Suci menjadi tidak efektif dan diperlakukan seenaknya oleh kita.
Pada Hari Minggu Biasa XXVIII ini, bacaan-bacaan yang ditawarkan sebenarnya mengajak kita menyadari bahwa Allah bersabda kepada kita melalui Kitab Suci. Ayat-ayat dalam Kitab Suci bukan digunakan sebagai suatu pembenaran atau pendukung bagi kita semata, melainkan pertama-tama sebagai suatu kebijaksanaan yang hidup, kuat, dan memberikan inspirasi kepada kita. Oleh karena itu, tentu kita perlu membuka hati agar ayat-ayat dalam Kitab Suci dapat masuk dalam diri kita dan mentransformasi hidup untuk menjadi lebih baik. Hanya saja, memang sebagai manusia, kita masih cenderung memilih ayat-ayat yang “baik” dan tidak “menampar” kita.
Dalam bacaan II pada hari ini, Rasul Paulus menjelaskan dengan begitu indah kepada kita bahwa Firman Allah itu benar dan tak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Rasa tertampar saat membaca ayat-ayat dalam Kitab Suci muncul karena kita tidak bisa bersembunyi di hadapan-Nya. Semua kebaikan dan keburukan kita menjadi nyata, jelas, dan terlihat. Bahkan, Rasul Paulus menunjukkan bahwa Sabda Allah dalam Kitab Suci itu menusuk amat dalam, sampai memisahkan jiwa dan roh.
Ketika kita memilih untuk tampil apa adanya dan tidak mencari-cari pembenaran melalui Kitab Suci, hidup kita akan ditransformasi oleh Roh Kudus yang hadir melalui proses pembacaan Kitab Suci itu. Oleh karena itu, marilah sebelum kita membaca Kitab Suci, kita berdoa sejenak memohon kehadiran Roh Kudus untuk membimbing, menerangi, dan membuka hati serta pikiran kita.
Bacaan I dari Kitab Kebijaksanaan mengajari kita cara berdoa agar Roh Kudus menerangi hati dan budi, sehingga ayat-ayat Kitab Suci yang dibaca berdaya guna dalam hidup kita. Kitab Kebijaksanaan menggambarkan Roh Kudus sebagai Roh Kebijaksanaan yang hadir dalam diri kita.
Jika kita masih terkungkung oleh kebiasaan lama, yakni mencari pembenaran diri melalui Kitab Suci, yang terjadi adalah seperti yang dialami oleh seseorang yang menjumpai Yesus dalam Bacaan Injil hari ini. Orang tersebut ingin memperoleh hidup yang kekal, dengan kata lain, ingin lebih dekat dengan Allah. Yesus secara tegas menunjukkan caranya. Namun, rupanya cara yang diberikan oleh Yesus menampar orang tersebut sehingga ia kecewa lalu pergi dengan sedih. Mengapa? Karena ia tidak menemukan sesuatu yang sesuai dengan harapannya. Sama seperti kita yang merasa tertampar oleh nasihat rohani, baik secara langsung melalui Kitab Suci maupun secara tidak langsung, yaitu melalui orang-orang yang kita jumpai.
Mari kita belajar membuka hati kita, memohon agar Roh Kudus mampu menerangi, membimbing, dan menuntun kita untuk menjadi lebih baik lagi. Dengan demikian, Kitab Suci bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan untuk dibaca, melainkan sebagai pegangan untuk berusaha menjadi semakin lebih baik.
Hidup kita ini layak untuk kita hidupi dan kita perjuangkan. Karenanya, mari kita bertransformasi dalam bimbingan Roh Kudus yang juga hadir dan mengajari kita untuk berdoa dan membaca Kitab Suci.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









