TinjauAds
BeritaPilihan Redaksi

Banjir Bandang, Pemkab Solok Siapkan Relokasi Kantor Pemerintahan

Dibaca dalam waktu2 Menit, 6 Detik

TINJAU, Jakarta – Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mulai menyiapkan opsi relokasi belasan kantor pemerintahan yang terdampak banjir bandang di Arosuka, Senin malam lalu.

Rencana relokasi tersebut diusulkan kepada pemerintah pusat karena kawasan perkantoran itu diketahui pernah dilanda bencana serupa.

Menurut keterangan warga setempat, banjir bandang juga pernah terjadi di kawasan tersebut puluhan tahun lalu, sebelum area itu dibangun menjadi kawasan perkantoran.

Bupati Solok Jon Firman Pandu mengatakan, bencana tidak hanya berdampak pada fasilitas pemerintahan, tetapi juga permukiman warga di tiga kawasan perumahan di Arosuka.

“Berdasarkan data yang didapat, ada sekitar 240 warga di sini, ada yang terdampak langsung dan ada yang tidak terdampak langsung,” kata Jon, Rabu.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Pemkab Solok bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk membersihkan material lumpur yang menggenangi jalan serta lingkungan permukiman.

Dukungan relawan dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat turut membantu mempercepat proses pembersihan di sejumlah titik. Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Solok juga turun langsung membantu penanganan bencana di lapangan.

Selain membersihkan material banjir, pemerintah daerah menyiapkan dapur umum dan menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.

Evaluasi Kawasan

Banjir bandang tersebut menjadi momentum bagi Pemkab Solok untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan, termasuk tata ruang, keselamatan masyarakat, serta proses perizinan bangunan.

“Perizinan Amdal kita cek detail, mungkin seperti apa prosesnya dan akan kita evaluasi,” ujar Jon Firman.

Ia mengatakan, opsi pemindahan kawasan perkantoran akan dibahas lebih lanjut apabila hasil evaluasi teknis menunjukkan lokasi saat ini memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pegawai dan masyarakat.

Meski demikian, rencana relokasi tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menjadi keputusan final.

Di tengah proses penanganan bencana, sejumlah warga mulai mengalami gangguan kesehatan setelah banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada 21 September 2026 malam.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 23 warga mengalami berbagai keluhan kesehatan, antara lain luka ringan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, dan nyeri otot. Seluruh warga yang mengalami keluhan telah mendapatkan perawatan medis.

“Dari pendataan, ada 411 warga yang terdampak. Dari jumlah itu, 53 Kepala Keluarga (KK) atau 183 jiwa saat ini masih mengungsi,” ujar Jon.

Jon merinci, dari 411 warga terdampak tersebut terdapat 160 laki-laki dan 165 perempuan. Selain itu, tercatat 38 lansia, 6 bayi, 39 balita, dan 3 ibu hamil.

Sebanyak 183 warga dari 53 KK masih mengungsi di sejumlah titik penampungan. Mereka tersebar di posko utama, rumah kerabat, gedung SMA 2 Sumbar, dan area parkir pabrik Aqua.

Banjir bandang juga merusak ratusan rumah di tiga kompleks perumahan di kawasan Guguak. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan terhadap warga dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana tersebut.

Back to top button