TinjauAds
Mas GunturPilihan Redaksi

Satu Langit, Satu Bumi

Dibaca dalam waktu3 Menit, 42 Detik

TINJAU – Di sebuah desa kecil di tepian perbukitan, di bawah langit yang cerah, desa Rukun Makmur hidup dalam harmoni yang jarang terlihat di tempat lain. Desa itu bukan desa biasa. Rumah-rumah berdiri dengan jarak yang rapat, dinding-dindingnya berwarna-warni, seperti mewakili keberagaman penghuninya. Di sini, suara azan dari masjid terdengar bersahutan dengan lonceng gereja yang berdiri tak jauh dari sana.

Setiap tahunnya, saat Maulid Nabi tiba, suasana di desa itu selalu terasa berbeda. Udara seolah dipenuhi oleh kebersamaan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Di sinilah, di tempat ini, Maulid Nabi bukan hanya perayaan bagi umat Islam, tetapi juga momen di mana seluruh warga desa berkumpul, merayakan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama—perdamaian, kasih sayang, dan kepedulian.

Pak Anwar, seorang sesepuh desa yang dikenal bijak dan berwibawa, adalah orang yang selalu berperan besar dalam menyatukan hati warganya. Setiap tahun, ia bersama perangkat desa dan para pemuka agama mengorganisir perayaan Maulid Nabi. Yang istimewa dari perayaan di desa ini, bukan hanya umat Muslim yang hadir. Umat Kristen, Hindu, dan Budha juga ikut meramaikan, duduk berdampingan dalam tenda-tenda besar yang dibangun di lapangan desa.

Tahun ini, perayaan Maulid Nabi terasa lebih hangat. Bukan hanya karena cuaca yang cerah, tetapi juga karena semangat persatuan yang terasa semakin kuat. Namun, di balik kegembiraan itu, ada satu hal yang mengusik hati Pak Anwar. Sari, gadis muda yang baru pindah ke desa itu beberapa bulan lalu, terlihat selalu menyendiri. Ia datang dari keluarga Katolik yang taat, tetapi sejak pindah ke desa ini, ia tampak canggung, seolah tidak tahu bagaimana harus bersikap di tengah kerukunan yang begitu terasa.

Pak Anwar memutuskan untuk mengundang Sari secara pribadi ke acara Maulid di desanya. “Datanglah, Nak. Di sini, semua orang diterima dengan tangan terbuka. Ini bukan hanya perayaan agama, tetapi perayaan kebersamaan kita sebagai warga desa.”

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sari tampak ragu. “Tapi, Pak… saya takut saya tidak pantas. Ini kan perayaan umat Islam.”

Pak Anwar tersenyum lembut. “Sari, di desa ini, kita semua satu. Kita hidup di bawah langit yang sama, menginjak tanah yang sama. Apa pun keyakinan kita, yang terpenting adalah kita saling menghormati dan menyayangi. Bukankah itu yang diajarkan oleh agama kita masing-masing?”

Malam itu, Sari datang ke acara Maulid. Di tengah kerumunan, ia melihat umat Muslim berdoa dengan khusyuk, mendengar kisah-kisah tentang Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dengan penuh cinta. Di sudut tenda, ia melihat Bu Martha, tetangganya yang juga seorang Katolik, sedang membantu membagikan hidangan untuk para tamu. Ada juga Pak Made, seorang Hindu yang duduk berdampingan dengan Pak Ali, seorang Muslim. Mereka tampak berbincang dengan akrab, tertawa, dan menikmati kebersamaan.

Sari merasa hatinya hangat. Di tempat ini, ia tidak merasa asing lagi. Di sinilah ia melihat, dengan matanya sendiri, bagaimana perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menghargai.

Setelah acara selesai, Pak Anwar mendekati Sari. “Bagaimana, Nak? Apakah kau merasa lebih nyaman sekarang?”

Sari tersenyum. “Saya merasa beruntung bisa tinggal di desa ini, Pak. Di tempat lain, mungkin perbedaan bisa jadi jurang yang memisahkan, tapi di sini, saya merasa kita semua adalah satu.”

Pak Anwar mengangguk. “Itulah esensi dari perayaan ini, Sari. Maulid Nabi mengajarkan kita tentang kasih sayang dan persaudaraan. Nabi Muhammad SAW datang sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi satu golongan saja. Di sini, kita merayakan nilai-nilai itu. Bukan soal agama apa yang kita peluk, tetapi bagaimana kita menjalani hidup dengan saling menghormati dan saling membantu.”

Sari menatap langit yang mulai gelap, bintang-bintang tampak berkilauan di atas sana. Di dadanya, ia merasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Desa ini, dengan segala keberagamannya, mengajarkan sesuatu yang sangat berharga—bahwa manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, saling melengkapi, bukan saling memisahkan.

Sejak malam itu, Sari menjadi bagian dari desa Rukun Makmur. Ia ikut serta dalam kegiatan-kegiatan desa, tanpa merasa canggung atau asing lagi. Setiap kali ada perayaan agama, baik Idul Fitri, Natal, Nyepi, atau Waisak, seluruh warga desa selalu hadir, saling mendukung, saling merayakan kebaikan yang ada dalam setiap keyakinan.

Dan Pak Anwar, setiap kali melihat warganya berkumpul dalam harmoni, selalu teringat pada pesan yang selalu ia pegang teguh sejak muda: “Agama mengajarkan kita untuk mencintai sesama, bukan membeda-bedakan. Karena pada akhirnya, kita semua hidup di bawah langit yang sama, dan menginjak bumi yang sama.”


Penulis: Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button