TAJUK, Jakarta – Fenomena astronomi Harvest Moon atau Bulan Panen dapat disaksikan di langit Indonesia pada Sabtu (26/9/2026) malam. Masyarakat dapat mengamati Bulan purnama tersebut mulai pukul 20.00 WIB hingga 23.39 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Bulan akan tampak bulat utuh dan bersinar terang. Fenomena tersebut dapat diamati secara langsung tanpa menggunakan alat pelindung mata khusus.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menjelaskan, Harvest Moon merupakan istilah tradisional untuk Bulan purnama yang waktunya paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
“Ekuinoks sendiri merupakan fenomena ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Kondisi ini membuat durasi siang dan malam di hampir seluruh penjuru Bumi relatif sama panjang, yaitu sekitar 12 jam,” kata Ayu, Jumat (25/9/2026).
Nama Harvest Moon secara historis berkaitan dengan kebiasaan petani di Eropa dan Amerika Utara sebelum era listrik. Cahaya Bulan purnama yang terang dimanfaatkan untuk membantu aktivitas memanen hasil pertanian hingga malam hari.
Ayu mengatakan waktu terbaik untuk mengamati Harvest Moon adalah ketika posisi Bulan sudah cukup tinggi di langit.
Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, Bulan mulai terbit pada pukul 17.29 WIB. Namun, Bulan masih sulit terlihat pada waktu tersebut karena posisinya masih berada dekat garis horizon.
“Masyarakat dapat mulai mengamati Harvest Moon secara optimal mulai pukul 20.00 WIB, saat piringan Bulan sudah naik tinggi, hingga mencapai puncaknya pada pukul 23.39 WIB,” jelasnya.
Masyarakat dapat mengamati fenomena tersebut setelah Matahari terbenam dengan mengarahkan pandangan ke arah timur.
Posisi Bulan yang masih rendah di dekat horizon juga dapat menimbulkan ilusi Bulan atau moon illusion. Kondisi tersebut membuat Bulan tampak lebih besar ketika berada dekat cakrawala, meskipun ukuran sebenarnya tidak berubah.
Selain menjadi fenomena yang menarik untuk diamati, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk mewaspadai potensi kenaikan permukaan air laut.
Posisi Bulan, Matahari, dan Bumi yang berada dalam satu garis relatif dapat menghasilkan gaya gravitasi gabungan yang memicu pasang purnama.
“Kondisi ini berpotensi menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi dan surut menjadi lebih rendah dari biasanya,” ujar Ayu.
Saturnus Juga Bisa Diamati
Harvest Moon pada 26 September 2026 juga bertepatan dengan kesempatan untuk mengamati Saturnus yang dapat terlihat dengan mata tanpa alat bantu.
Sementara itu, Neptunus memiliki tingkat kecerlangan sekitar magnitudo 8 sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pengamatan Neptunus membutuhkan teropong atau teleskop, terutama dari lokasi dengan kondisi langit yang minim polusi cahaya.
Fenomena Harvest Moon juga berkaitan dengan perubahan waktu terbit Bulan dari satu malam ke malam berikutnya. Di sekitar ekuinoks musim gugur, perubahan tersebut dapat menjadi lebih kecil di wilayah belahan Bumi utara sehingga cahaya Bulan tersedia dalam rentang waktu yang relatif berdekatan selama beberapa malam.
Fenomena tersebut secara historis membantu aktivitas pertanian karena cahaya alami Bulan memberikan tambahan penerangan setelah Matahari terbenam.









